Kasus Retinopati Diabetika Masih Tinggi

Ilustrasi pemeriksaan mata - JIBI/Dok
04 November 2019 08:57 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kasus retinopati diabetika atau gangguan penglihatan yang dialami para penderita diabetes di Indonesia, khususnya di DIY cukup tinggi. Dari hasil pemeriksaan terhadap 2.933 pasien diabetes melitus di 24 puskesmas di DIY, sebanyak 292 pasien positif terkena retinopati diabetika.

Direktur Pelayanan dan Pendidikan Rumah sakit Dr Yap Jogja, Erin Arsianti, mengungkapkan retinopati diabetika merupakan komplikasi mikrovaskular yang paling sering timbul dari diabetes melitus baik tipe satu maupun dua. "Khususnya pasien dengan gula darah tidak terkontrol dan telah menderita diabetes melitus lama," katanya dalam puncak peringatan Hari Penglihatan Sedunia yang digelar di RS Dr. YAP, Minggu (3/11/2019).

Gejala yang muncul pada retinopati diabetika di antaranya pengelihatan kabur secara perlahan dan tampak ada benda atau bercak hitam pada lapang pandang. Pada retinopati tipe proliferatif, penderita dapat mengalami penglihatan berkabut dan kebutaan ketika pendarahan terjadi.

Resiko mengalami retinopati diabetika meningkat seiring lamanya diabetes sehingga sangat diperlukan deteksi dini sebelum terlambat dan mengakibatkan kebutaan permanen.

Berdasarkan data WHO, penyakit ini menempati posisi ke empat sebagai penyebab kebutaan setelah katarak, glaukoma, dan degenerasi makula,  sementara Riskesdas pada 2018 mencatat prevalensi diabetes melitus di DIY merupakan tertinggi kedua di Indonesia.

"Dari pemeriksaan pada 2933 pasien diabetes melitus di 24 puskesmas di DIY, ditemukan sebanyak 292 pasien positif terkenaretinopati diabetika. Tingginya prevalensi menjadi dasar pentingnya deteksi dini," katanya.

Kepala Instalasi Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) Dr Yap sekaligus perwakilan Panitia World Sight Day (WSD), Anggun Desi Wulandari, menjelaskan  dalam rangka memperingati Hari Penglihatan Sedunia yang jatuh pada Kamis (10/10), jajarannya mendorong pemerintah, perusahaan, institusi dan individu untuk aktif mendukung upaya pencegahan kebutaan global. Acara peringatan tahun ini mengusung tema Universal Eye Health-Vision First yang puncaknya digelar Minggu.

“Kami berfokus pada deteksi dini penyakit mata yang dapat menyebabkan kebutaan, di antaranya katarak, glaukoma, retinopati diabetika dan kelainan refraksi. Maka dalam puncak peringatan ini pihaknya melakukan deteksi dini dengan sasaran masyarakat yang memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, khususnya di wilayah kerja Puskesmas Gondokusuman II. Hal ini menjadi upaya preventif untuk menjaga indera penglihatan," ujar Anggun.

Rangkaian acara meliputi senam, talkshow tentang retinopati diabetika, pemeriksaan mata gratis, simulasi gangguan pengelihatan, edukasi gizi dan farmasi, pemeriksaan gula darah dan fun game eating in the dark. (Lugas Subarkah)