WMP Yogyakarta Bangga Sekaligus Waspada Saat Menyambut HKN 2019

Prof. Adi Utarini menerima penghargaan dari Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof.Dr.Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro di Jakarta, Selasa (12/11/2019). - Ist/Dok
13 November 2019 00:57 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Indonesia memperingati tanggal 12 November sebagai Hari Kesehatan Nasional (HKN). Tahun ini, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengambil tema “Generasi Sehat Indonesia Unggul.” Tema tersebut diangkat sebagai pengingat publik bahwa derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya akan terwujud apabila semua komponen bangsa terlibat aktif dalam berbagai upaya di bidang kesehatan.

Sebagai salah satu komponennya, civitas akademika turut terlibat dalam upaya-upaya di bidang kesehatan tersebut. World Mosquito Program (WMP) sebagai penelitian yang dilaksanakan oleh Pusat Kedokteran Tropis (PKT) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan dukungan pendanaan dari Yayasan Tahija, memahami betul hal tersebut.

Saat peringatan HKN ke-55 tahun ini, WMP Yogyakarta merasa bangga dan bahagia atas terpilihnya peneliti utamanya, Prof. Adi Utarini, sebagai salah satu penerima Habibie Award 2019. Guru besar UGM yang memiliki kepakaran di bidang kesehatan masyarakat ini menyabet Habibie Award 2019 di bidang ilmu kedokteran dan bioteknologi. Medali penghargaan yang bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Ketua Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), Prof.Dr.Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, di Hotel Le Meridien Jakarta pada Selasa (12/11/2019).

Bagi WMP Yogyakarta, penghargaan tersebut merupakan pengakuan ilmiah yang obyektif dan sangat membanggakan. “Penghargaan ini akan membesarkan hati dan memantapkan langkah seluruh tim WMP ke tahap implementasi di tahun 2021,” ucap Prof. Uut, panggilan akrabnya usai menerima penghargaan. Tak lupa ia mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Tahija yang telah mendanai penelitian, dan seluruh masyarakat Yogyakarta yang senantiasa memberikan dukungan.

Bagi WMP Yogyakarta, momentum HKN tahun ini juga terasa spesial. Beberapa waktu yang lalu, WMP Yogyakarta telah melakukan analisis sementara implementasi teknologi Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian vektor dengue. Analisis tersebut menunjukkan arah yang positif bahwa terdapat penurunan kasus demam berdarah dengue (DBD) di wilayah pelepasan Wolbachia dibandingkan dengan wilayah pembanding. Adapun data kasus tersebut berasal dari data surveilans pasif Dinas Kesehatan Kota Jogja sebelum dan setelah pelepasan Aedes aegypti ber-Wolbachia.

Namun hasil midterm studi implementasi tersebut belum merupakan kesimpulan akhir penelitian. Hasil akhir dari studi ini diharapkan diperoleh pada 2020. Sepanjang perjalanan penelitian ini, WMP Yogyakarta selalu meyakini bahwa metode Wolbachia sebagai komplementer dari usaha-usaha pengendalian DBD yang sudah berjalan selama ini. Baik di wilayah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia maupun pembanding, pesan untuk selalu menjalankan PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk) melalui 3M plus senantiasa turut digaungkan.

Apalagi momentum HKN tahun ini juga bertepatan dengan awal musim hujan. Ahli serangga WMP Yogyakarta, Warsito Tantowijoyo, memprediksi akan terjadi lonjakan populasi nyamuk di awal musim hujan. “Berdasar pengalaman, 2-3 minggu setelah hujan pertama, nyamuknya akan bertambah,” jelas Warsito. Hal tersebut disebabkan telur nyamuk yang bertahan selama kemarau akan langsung menetas begitu terkena basah. Makin panjang musim kemaraunya, akan makin tinggi peningkatan populasinya.

Lebih lanjut Warsito menganjurkan kepada masyarakat untuk selalu menjalankan 3M plus serta mengantisipasi tempat-tempat yang potensial jadi tempat perindukan nyamuk. “Di sekitar kita banyak sekali tempat-tempat yang mungkin tidak kita sadari dapat menjadi tempat perindukan nyamuk,” ungkap Warsito, dalam rilisnya, Selasa.

Ia menambahkan bahwa penghujung kemarau merupakan kesempatan terakhir untuk meningkatkan kewaspadaan jika tak ingin populasi nyamuk meningkat secara drastis.

Kewaspadaan tersebut diperlukan karena peningkatan populasi nyamuk biasanya diikuti peningkatan kasus DBD. Epidemiologis WMP Yogyakarta, dr. Citra Indriani, menganjurkan masyarakat untuk segera mengakses fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami demam. Ia menjelaskan bahwa Puskesmas di Kota Jogja telah memiliki alat untuk mendeteksi penyakit DBD sejak hari pertama demam.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa pasien demam yang berobat di 18 Puskesmas di Kota Jogja dan Bantul berkesempatan untuk berpartisipasi dalam studi Aplikasi Wolbachia untuk Eliminasi Dengue. Studi ini bertujuan untuk memperoleh bukti yang lebih kuat dampak pelepasan Wolbachia di Kota Jogja. Hasil dari studi inilah yang diharapkan diperoleh pada 2020 untuk membuktikan keefektifan metode Wolbachia. (*)