Alumnus SMA Negeri 2 Wonosari Salurkan Air Bersih

Penyaluran bantuan air bersih yang dilakukan alumnus Kelas Sosial 2 SMA Negeri 2 Wonosari angkatan 1992 atau Zollo Smada 92, belum lama ini. - Istimewa
14 November 2019 20:27 WIB Yudhi Kusdiyanto Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah di Gunungkidul, warga berdampak bencana kekeringan masih membutuhkan bantuan air besih. Untuk membantu meringankan beban warga yang kekurangan air bersih, alumnus Kelas Sosial 2 SMA Negeri 2 Wonosari angkatan 1992 atau Zollo Smada 92 menggelar bakti sosial penyaluran air bersih di beberapa dusun di Desa Bohol, Kecamatan Rongkop, belum lama ini.

Koordinator bakti sosial, Sukija, menyatakan bantuan air bersih yang disalurkan merupakan bentuk kepedulian alumnus Zollo Smada 1992 kepada warga di Gunungkidul yang saat ini dilanda bencana kekeringan dan kekurangan air bersih. Dalam, bakti sosial yang digelar, pihaknya menyalurkan sebanyak 32 tangki di sejumlah dusun di Desa Bohol, seperti Dusun Bohol, Bamban, Songgoringgi, Wuru dan beberapa dusun lainnya. Selain untuk perorangan, bantuan juga kami salurkan untuk masjid dan bak penampungan umum,” kata Sukijo saat ditemui Harian Jogja, Kamis (14/11/2019).

Salah seorang warga Desa Bohol, Pujianto, mengaku sangat berterima kasih atas bantuan dan partisipasi Zollo Smada 1992 yang telah membantu memberikan air bersih untuk warga Desa Bohol.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul nungkidul, Edy Basuki, mengatakan jajarannya terus menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah yang masih dilanda kekeringan. Edy menuturkan saat ini sejumlah wilayah di Gunungkidul sudah mulai turun hujan. Meski demikian, curah hujan yang turun belum merata sehingga belum bisa memenuhi kebutuhan air bersih. Hal ini terlihat dari banyaknya bak penampungan air hujan atau sumur warga yang masih kosong. Untuk itu, BPBD terus menyalurkan bantuan hingga pertengahan November mendatang. “Stok bantuan masih ada dan terus kami distribusikan,” tuturnya, belum lama ini.

Edy menambahkan selama proses pengiriman bantuan, awak armada pengangkut juga melihat kondisi di lapangan terkait dengan kebutuhan air di masyarakat. “Sopir kami minta mengecek, kalau sudah mencukupi maka bantuan dihentikan,” katanya.