Uut Peroleh Nobelnya Indonesia Berkat Nyamuk

Mendikbud RI 1993-1998, Wardiman Djojonegoro (dua kanan), menyerahkan sertifikat Habibie Award 2019 kepada Prof Adi Utarini (kiri), di Jakarta, Selasa (12 - 11).
15 November 2019 17:27 WIB Salsabila Annisa Azmi Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Adi Utarini, peneliti utama World Mosquito Program (WMP) sekaligus guru besar UGM menyabet penghargaan Habibie Award 2019 di bidang Ilmu Kedokteran. Setelah apresiasi bergengsi ini diterima, penelitian teknologi nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian penularan Demam Berdarah Dengue (DBD) akan diperluas hingga luar DIY. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, Salsabila Annisa Azmi.

Pagi itu pada Rabu (13/11) jam digital di ponsel Adi Utarini baru menunjukkan pukul 07.30 WIB. Pakar kesehatan masyarakat sekaligus guru besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) itu sudah tampil rapi dengan blus putih berlengan panjang dan rambut hitamnya yang tergulung rapi. Duduknya tegak, sorot matanya tetap tajam meskipun hari sebelumnya pesawat terbang yang ditumpanginya dari Jakarta baru saja mendarat di Jogja sekitar pukul 22.00 WIB.

Agenda yang dihadiri sosok yang menjadi peneliti utama di World Mosquito Program (WMP) Jogja ini berbeda dari agenda-agenda yang biasanya selalu membuat hari-harinya sibuk. Uut, begitu panggilan akrabnya, baru saja menerima penghargaan Habibie Award 2019 di bidang ilmu kedokteran dalam rangka peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN). Dia diganjar penghargaan itu berkat penelitian yang dilakukannya bersama tim sejak 2011, yaitu nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia untuk pengendalian penularan Demam Berdarah Dengue (DBD). Melalui penelitian ini, Uut ingin mencetak sejarah.

Uut meneliti bersama timnya,WMP Jogja, Pusat Kedokteran Tropis (PKT) FK-KMK UGM. Mereka mampu merekayasa dan membiakkan nyamuk Aedes Aegypti yang mengandung bakteri Wolbachia. Bakteri ini terbukti membuat nyamuk tidak bisa mentransfer virus demam berdarah ke manusia. Artinya, virus DBD bisa dicegah. Nyamuk berbakteri ini dilepasliarkan, berkembang biak dan menghasilkan generasi nyamuk yang jinak. Sebab ketika nyamuk jantan ber-Wolbachia mengawini nyamuk aedes betina, nyamuk betina itu tidak bisa menularkan DBD.

Proyek kelas dunia ini juga mendapat perhatian khusus dari Badan Kesehatan Dunia. Bahkan membuat kepincut  filantropis Melinda Gates, istri Bill Gates, orang terkaya sejagat versi Forbes. Pada paruh pertama 2017 lalu, Melinda dan tim dari Bill & Melinda Gates Foundation (BMGF) sampai menyempatkan berkunjung ke Jogja untuk melihat langsung proyek yang digarap Uut dkk.

Seulas senyum kembali terlukis di wajah Uut saat mengingat peristiwa pemberian penghargaan bergengsi oleh Yayasan Habibie Center milik mendiang Presiden ke-3 RI BJ Habibie.

"Dari dulu saya selalu menganggap Habibie Award sebagai Noble Prize-nya Indonesia. Ya, jelas saya bangga sekaligus bersyukur bisa mendapatkan penghargaan itu," kata Uut saat ditemui Harian Jogja di sela-sela agenda pribadinya yang diselenggarakan di Swiss Bell Hotel Jogja.

Uut tertawa kecil, masih dengan pembawaannya yang tenang dan anggun. Dia ingat saat FK-KMK UGM memintanya untuk mengikuti seleksi Habibie Award. Uut sempat menolak, ada keraguan dalam dirinya, khawatir jika penelitiannya yang diajukan, pihak kampus akan gagal mendapatkan pujian bergengsi itu. Namun setelah dirundingkan, Uut mempersiapkan semua berkas yang dibutuhkan dan maju dalam proses seleksi.

"Setelah itu, tak ada hambatan berarti, tiba-tiba, dapat lah penghargaan itu," kata Uut dengan nada mantap.

Baginya penghargaan itu bukan tujuan utama. Justru penghargaan itu bagai pecut semangatnya untuk lebih tekun introspeksi membenahi penelitiannya agar bisa dimanfaatkan oleh masyarakat luas, khususnya DIY. Penghargaan itu dia lihat sebagai tanggung jawab besar untuk mengabdi pada masyarakat.

Penelitian tahap pertama yang dilakukan Uut dan timnya dimulai pada 2011 hingga 2016 di Kota Jogja dengan skala yang cukup luas. Penelitian tersebut didukung pendanaan dari Yayasan Tahija.

Penelitian dilakukan melaui fase persiapan dan pelepasan Aedes Aegypti ber-wolbachia di tujuh kelurahan termasuk Kricak, Karangwaru dan Bener di Kota Jogja. Penularan DBD di wilayah tersebut kemudian dibandingkan dengan penularan DBD di tiga kelurahan yang ada di Kecamatan Umbulharjo, Jogja. Hasilnya, wilayah yang diintervensi dengan Aedes Aegypti ber-Wolbachia memiliki tingkat penularan 74% lebih rendah dibandingkan wilayah yang tidak dilakukan intervensi.

Setelah mendapat penghargaan Habibie Award 2019, tentunya Uut dan tim lebih semangat dalam melanjutkan penelitian. Hasil tahap pertama yang dikatakan masih hasil sementara itu, harus terus diuji coba konsistensinya.

Saat ini, Uut beserta tim tengah meneliti di wilayah tengah Kota Jogja dan dua desa di Bantul sebagai pembanding. Bantul dipilih karena memiliki angka penularan DBD tertinggi di DIY.

Hasil penelitian tahap kedua baru bisa disampaikan hasilnya tahun depan. “Kami harus tuntaskan dulu penelitian ini, akan tetapi sudah ada titik terang karena hasilnya konsisten dengan penelitian negara-negara lain, yaitu wilayah yang ber-Wolbachia penularannya jauh lebih rendah," kata Uut.

Sembari menuntaskan penelitian tahap kedua, Uut beserta timnya sudah mempersiapkan master plan perluasan wilayah pelepasan nyamuk ber-Wolbachia. Kabupaten Bantul masuk dalam daftar wilayah perluasan. Tak tanggung-tanggung, wilayah di luar DIY juga sedang dijajaki untuk menjadi wilayah perluasan penelitian. Akan tetapi Uut belum bisa menyebutkan secara spesifik kota mana saja yang akan disasar.

Saat ini, Uut tengah fokus mengadvokasi Pemda DIY, Dirjen Pencegahan Penyakit Menular Kementerian Kesehatan RI, dan Balitbangkes. Persoalan pendanaan juga diusahakan, sebab pendanaan Yayasan Tahija akan berakhir tahun depan. Uut berpikir pendanaan jangka panjang untuk menjalankan penelitian ini dalam skala yang lebih luas.

"Harapannya dengan penjajakan yang dilakukan sejak saat ini, bahkan saat penelitian tahap kedua masih berjalan, saat pendanaan dan advokasi pemerintah sudah siap. Langkah kami akan lebih konkret ke depannya dan penelitian ini manfaatnya akan dirasakan oleh lebih banyak masyarakat," kata Uut.