Gebyar Budaya Digelar untuk Menyatukan Keberagaman Indonesia di Jogja

Kelompok budaya berfoto bersama dalam Gebyar Budaya Nusantara, Sabtu (11/16/2019). - Harian Jogja/Sunartono
17 November 2019 04:27 WIB Sunartono Sleman Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Gebyar Budaya Nusantara bertajuk Satu Nusa Satu Bangsa Satu Bahasa Indonesia Jaya di Jogja Paradise, Sabtu (16/11/2019). Kegiatan yang menghadirkan berbagai kelompok budaya dari berbagai daerah di Indonesia itu untuk menginspirasi terciptanya persatuan melalui keberagaman.

Gebyar budaya itu diisi berbagai kegiatan yang menampilkan beragam budaya di nusantara. Selain masyarakat juga melibatkan sejumlah mahasiswa dari luar yang sedang menempuh pendidikan di Jogja. Tokoh Masyarakat Sleman Riyanto Kuncoro mengatakan kegiatan gelar budaya itu untuk menunjukkan beragam kekayaan budaya yang ada di Indonesia.

Ada puluhan kelompok kebudayaan yang terlibat dengan menampilkan keunikan masing-masing. Kegiatan ini menjadi penyemangat tersendiri bagi masyarakat terutama pemuda untuk bisa meneladani nilai budaya.

“Selain itu kami mengajak semua para pemuda, untuk berpikir ke belakang meneladani para pahlawan berjuang, mempertahankan kemerdekaan. Di bulan ini kita memperingati hari pahlawan juga, ini menjadi tolok ukur, agar pemuda harus mengisi dan melanjutkan perjuangan pahlawan,” katanya di sela-sela kegiatan, Sabtu (11/16/2019).

Sejumlah kelompok yang tampil antara lain Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Makassar, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah (IKPMD) Bima NTT, Sanggar ANak Alam, dan berbagai kelompok budaya lokal Jogja serta daerah lain. Selain tari-tarian, beberapa di antaranya menampilkan rebana, puisi dan lain-lain.

Riyanto menambahkan Jogja yang menjadi miniatur Indonesia sangat cocok untuk terus menjadi contoh keberagaman bagi daerah lain. Banyak masyarakat terutama mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia datang ke Jogja terutama di wilayah Sleman. Pendekatan budaya, dinilai menjadi salah satu cara yang tepat untuk menanamkan nilai keberagaman sehingga bisa tercipta kerukunan dan persatuan.

Ia juga menyinggung soal kadang adanya kasus intoleransi yang ada di wilayah DIY. Menurutnya jika bisa saling memahami antarsesama, hal itu tak perlu terjadi.

“Intinya kami ingin menyampaikan bahwa sebenarnya pendekatan budaya ini relevan untuk kita saling memahami dan rukun antarsesama. Meskipun berbeda tidak harus bertentangan, perbedaan itu justru harus dibanggakan,” ujarnya.