Laba Bersih BEI Tembus Rp1,07 Triliun, Tertinggi Sepanjang Sejarah
Laba bersih BEI mencapai Rp1,07 triliun pada 2025, naik 59,4% dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.
Diskusi bertajuk Kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme yang digelar Diskominfo DIY di Pendopo Soto Seneng, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (19/11/2019)./Dyah Febriyani
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi digunakan para teroris untuk menyebarkan paham terorisme, radikalisme dan intoleransi kepada masyarakat. Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DIY, Rony Primanto Hari, mengatakan kemampuan media sosial (medsos) dalam menyebarkan informasi sangat cepat dan masif.
"Dari data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia [APJII], manusia setiap harinya menggunakan gawai selama delapan jam 36 menit, tiga jam di antaranya digunakan untuk bermedia sosial," kata Rony dalam Kegiatan Literasi Pencegahan Terorisme dan Radikalisme di Pendopo Soto Seneng, Sorosutan, Umbulharjo, Kota Jogja, Selasa (19/11/2019).
Menurut dia, dalam medsos masyarakat disajikan informasi berupa teks, gambar, dan video. Informasi bentuk teks, kata Rony, menjadi bentuk penyebaran informasi dengan tingkat manipulasi yang mudah, sedangkan gambar bisa dimanipulasi dan banyak digunakan untuk penyebaran informasi yang menyesatkan.
“Oleh karena itu Diskominfo DIY turut berupaya mencegah paham terorisme dan radikalisme dengan memberikan literasi kepada masyarakat mengenai tata cara dalam bermedia sosial yang benar agar masyarakat paham tentang penyebaran paham ini,” kata Rony. Dia mengimbau masyarakat untuk mengecek kembali kebenaran informasi yang didapat dari medsos. Hal ini dapat dilakukan dengan mengakses situs yang menyuarakan gerakan antihoaks.
Mantan teroris asal Prambanan, Sleman, Salman Alfaluti, 31, mengaku terpapar paham terorisme melalui perekrutan secara langsung. Saat ini, para teroris punya cara baru untuk menyebarkan paham melaui medsos. "Misalnya melalui grup WhatsApp menyuarakan ujaran kebencian dan memberikan doktrin yang salah serta memprovokasi untuk melawan negara dan aparatur," katanya.
Menurut dia, sasaran utama pengiat teror adalah seseorang yang memiliki semangat jihad yang kuat namun ilmunya masih dangkal.
Ketua Komisi A DPRD DIY, Eko Suwanto, mengatakan dalam pencegahan paham terorisme, radikalisme, dan intoleransi perlu adanya upaya menghidupkan kearifan lokal seperti tata srawung, di mana masyarakat diimbau untuk lebih mengenal tetangganya. Koordinasi antarlembaga di kampung seperti karang taruna, Babinsa, RT dan RW perlu ditingkatkan untuk menghilangkan paham intoleran di masyarakat. "Hidup berbeda itu indah, Bhineka Tunggal Ika harus kita syukuri," kata Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Laba bersih BEI mencapai Rp1,07 triliun pada 2025, naik 59,4% dan menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah Bursa Efek Indonesia.
Cek jadwal lengkap KRL Jogja–Solo Senin 6 Juli 2026. Tarif Rp8.000, perjalanan cepat dan fleksibel dari Jogja ke Solo.
Portugal vs Spanyol di 16 besar Piala Dunia 2026. Oyarzabal percaya diri, cek prediksi skor dan susunan pemain.
Prabowo dan PM Singapura Lawrence Wong bertemu di Leaders’ Retreat 2026 Jakarta, bahas kerja sama strategis dan proyek bilateral.
Jokowi mulai safari politik ke sejumlah daerah usai Lampung. PSI jadi titik awal, partai lain ikut memberi respons.
Menpar dorong integrasi Pokdarwis dan koperasi untuk perkuat desa wisata, tingkatkan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.