Toleransi di Jogja Dinilai Tak Mengakar di Masyarakat

Ilustrasi toleransi antar umat beragama. - JIBI
26 November 2019 20:57 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sikap toleransi antarumat beragama di Jogja sebaiknya tidak hanya berhenti di elite atau tokoh agama saja namun harus sampai ke arus bawah atau umat dari berbagai agama.

Koordinator Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) Yogyakarta Agnes Dwi Rusjiati, menilai eskalasi kejadian intoleransi di wilayah DIY cukup menonjol dalam beberapa tahun terakhir, terutama di Bantul. Peran pemerintah, tokoh masyarakat hingga Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) perlu didorong untuk mencegah persoalan tersebut.

Tokoh agama dalam FKUB harus mampu mengedukasi setiap umatnya agar mereka mendapatkan pengetahuan dan informasi tentang hidup berdampingan yang beragam dan berbeda. Dalam berbagai kasus intoleransi, menurutnya FKUB harus menjadi representasi masing-masing agama. Ketika terjadi perbedaan pandangan dalam menafsirkan sesuatu di satu agama sehingga menjadi wacana bersama untuk tidak boleh multitafsir itu merugikan kelompok yang lain.

“Harus menjadi pemahaman bersama bahwa setiap agama itu alirannya beragam dan perlu melihat perspektif agama tersebut, jangan mengukur persoalan atau situasi orang lain dari perspektif agama kita. Ini yang bisa menjadi persoalan, harus klir dengan isu lintas agama,” kata Agnes, Selasa (26/11/2019).

Ia mengatakan semua pihak terutama FKUB harus turun sampai ke bawah, jika eskalasi di masyarakat tingkat bawah terus naik, maka kerja tokoh agama di forum tersebut perlu diperkuat lagi. Mereka harus berfikir bahwa hal itu menjadi tanggungjawab bersama dengan tidak hanya menyandarkan pada satu atau dua tokoh elite saja di mana masyarakat bawah tetap bergejolak.

Agnes menilai, soal penguatan resmi melalui regulasi terhadap FKUB memang penting, tetapi terpenting adalah memperbaiki perspektif dan pola pikir toleransi setiap tokoh di dalamnya agar toleransi benar-benar diterapkan ke masyarakat bawah. Ia mencontohkan di kalangan tokoh agama mungkin sudah bisa menerima tentang perbedaan itu, tetapi kalangan arus bawah memungkinkan belum bisa menerima keberagaman itu.

“Ini karena apa? Karena perspektif itu hanya berhenti di kalangan elite [tokoh] saja, tidak sampai turun ke basis. Harapan kami kan itu bisa sampai ke bawah,” katanya.

Untuk menangani intoleransi ini, kata dia, FKUB butuh orang yang progresif, mau merawat perbedaan dan siap bekerja untuk lintas agama serta mampu menjangkau sampai ke level bawah atau kalangan umat. Ia berharap setiap agama bisa mengirimkan orang yang progresif di forum kerukunan itu yang berpihak kepada kelompok yang diwakili sehingga mampu memperjuangkan persoalan setiap agama. “Dan mampu menjelaskan, tidak sekedar perwakilan ada saja, tetapi harus mampu menjelaskan, sehingga problem di setiap agama bisa dipahami oleh yang lain,” ujarnya.