Tambak Udang Belum Panen, Pembangunan Peredam Tsunami di Bandara Kulonprogo Terhambat

Tambak udang di selatan Bandara Internasional Yogyakarta. - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
02 Desember 2019 20:27 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Pohon cemara udang sebagai sabuk hijau peredam ancaman tsunami belum bisa ditanam secara menyeluruh di selatan Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA), Kecamatan Temon, Kulonprogo, gara-gara tambak udang.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna mengatakan berdasarkan hasil audiensi antara Pemkab Kulonprogo dan para petambak di Gedung DPRD Kulonprogo pada akhir Oktober lalu, penertiban hanya menyasar tambak yang telah berhenti beroperasi. Tambak yang masih aktif ditunggu sampai panen udang tiba.

“Sebelum kami melakukan penutupan terakhir [akhir Oktober] ada audiensi. Hasilnya soal penertiban ditunggu sampai panen. Nah tetapi kan masa panen bisa 100-120 hari, jadi masih ada yang beroperasi hari ini,” ujarnya, Senin (2/12/2019).

Kendati begitu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo tetap memberi batas waktu pengoperasian sampai akhir Desember. Kelak, tambak-tambak akan diratakan. “Sesuai dengan hasil audiensi, Desember semua sudah bersih,” ucapnya.

Selanjutnya, lahan bekas tambak akan diubah menjadi sabuk hijau. Penanaman ditangani Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Serayu Opak Progo Yogyakarta.

Pemkab Kulonprogo sudah menggandeng jajaran kepolisian dan TNI untuk menertibkan tambak udang pada 31 Oktober dan 1 November lalu. Meski sempat diwarnai ricuh dengan petambak, selama dua hari itu sedikitnya 130 kolam tambak digusur dan kini menyisakan sekitar 60 kolam yang masih aktif.

Sudarna menyatakan Pemkab sudah menyiapkan lahan pengganti bagi petambak di Desa Banaran, Kecamatan Galur. Berdasarkan RTRW Kabupaten Kulonprogo, lahan di desa tersebut untuk budidaya air payau, salah satunya tambak udang. Banaran dipilih karena lahan tambak di sana juga mencukupi. Dari total luas 116 hektare, 35 hektare sudah digunakan. Sisanya dianggap cukup untuk menampung petambak di Temon, karena lahan tambak di selatan YIA hanya berkisar 30 hektare.

Salah seorang petambak, Harmaji, bersedia ditertibkan asalkan ada kejelasan perihal masa depan petambak pasca digusur. Ini menyinggung soal lokasi baru petambak di Desa Banaran.

Menurutnya tempat relokasi belum jelas sehingga petambak khawatir.

“Pemerintah harusnya mikir setelah kami digusur tapi relokasi belum pasti, kami mau kerja apa? Usaha tambak itu butuh modal besar bahkan sampai harus ngutang ke bank,”  ujarnya.

YIA sebenarnya sudah didesain bisa tahan terhadap tsunami 15 meter dan guncangan gempa magnitudio 8. Namun, keberadaan sabuk hijau berupa cemara udang akan memat kawasan bandara lebih aman karena cemara udang bisa meredam gelombang tsunami hingga separuhnya.