Mengaku Sudah Berdarah-darah di PAN, Anak Amien Rais Blak-blakan Ingin Maju Jadi Bupati Sleman

Ilustrasi Pilkada
14 Desember 2019 01:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Mumtaz Rais Wiryosudarmo membenarkan surat rekomendasi dari DPP PAN yang mengusulkan dirinya agar maju dalam Pilkada Sleman 2020.

Anak politikus senior PAN, Amien Rais itu mengatakan, jika rekomendasi yang diberikan kepadanya didasarkan dari dua hal yang krusial. Pertama, karena rekam jejaknya di PAN dan yang kedua adalah jam terbang.

Rekam jejak, lanjut Mumtaz, artinya siapa yang paling berdarah-darah atau berjasa di partai. Dan itu menurutnya itu merupakan penilaian yang krusial dalam rekomendasi yang pada akhirnya mencetuskan namanya.

Rekam jejak, lanjut Mumtaz, dibuktikan dengan jabatan yang pernah diemban di PAN seperti Bendahara Umum Barisan Muda PAN tingkat Yogyakarta, lalu mantan Bendum DPW BM DIY. Kemudian ia juga menjadi Wasekjen DPP PAN, dan sekarang ia menjabat sebagai Ketua Bakokal DPP PAN. Ia juga tercatat pernah menjabat sebagai anggota DPR RI periode 2009-2014.

Pria yang mengambil S2 di Massachusetts, Amerika Serikat itu juga mengatakan jika langkah selanjutnya yang akan dilaksanakan olehnya setelah direkomendasikan oleh DPP untuk maju sebagai calon kepala daerah (Cakada) adalah rajin berkomunikasi dengan partai partai lain. Hal itu akan dilakukannya karena Mumtaz sadar PAN tidak bisa maju sendirian.

"Butuh empat kursi lagi, jadi harus berkoalisi dengan partai lain seandainya PAN cukup kursi kita ngusung sendiri," ujar Mumtaz kepada Harianjogja.com, Jumat (13/12/2019).

Mumtaz juga tidak menampik bisa berkoalisi dengan PDIP dalam Pilkada Sleman 2020. "Saya sudah berkomunikasi dengan Supriyanto dari PDIP, dia teman baik saya, dan juga calon calon yang lain," terangnya.

Bahkan, bakal calon kepala daerah dari partai lain lain juga sudah melakukan pendekatan ke Mumtaz. "Mereka ingin saya jadi wakilnya tapi saya belum bisa mengiyakan, saya belum melihat dengan mata kepala sendiri rekomendasi terhadap mereka, jadi tetap prioritas saya masih Bupati, perkara nanti saya jadi bakal calon Wabup, itu bisa dibicarakan lebih lanjut, artinya saya tidak menutup kemungkinan juga, saya tidak muluk muluk," jelasnya.

Namun demikian, jika ajakan berkoalisi itu datang dari PDIP ia mengaku legowo dijadikan bakal calon wakil bupati. Menurutnya, hal itu wajar karena sesuai dengan fatsun partai perolehan kursi PDIP juga memang di atas PAN yaitu 15 kursi. 

"Kalau yang mengajak saya dari PDIP saya juga tidak ada masalah karena sesuai dengan fatsun dan perolehan kursi juga PDIP memang diunggulkan yaitu dengan 15 kursi. Kalau saya tetap ngotot jadi Cabup nah itu agak kurang bijaksana," terangnya.

Namun, jika ajakan berkoalisi datang dari partai selain PDIP Mumtaz masih berfikir dua kali. Hal tersebut dikarenakan perolehan kursi dari partai selain PDIP memang cenderung sama. "Misalnya PAN dengan PKB sama enam kursi, PAN dengan PKS juga enam kursi, sama halnya dengan PAN dengan Gerindra yang punya enam kursi," jelasnya.