Ini Alasan Pedagang Pantai Glagah Menolak Dipindah

Warga melintas di samping deretan pondokan yang rencananya digunakan sebagai tempat relokasi ratusan pedagang di laguna Pantai Glagah, Kecamatan Temon, Selasa (17/12/2019). - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
18 Desember 2019 17:47 WIB Lajeng Padmaratri Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO—Paguyuban Pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah di Kecamatan Temon menolak tempat relokasi sementara yang ditawarkan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo karena lokasinya dianggap tidak layak.

Ketua Paguyuban Pedagang Pondok Laguna Pantai Glagah, Ripto Triyino, mengatakan lokasi yang ditawarkan Pemkab untuk relokasi pedagang dari kawasan laguna di Pantai Glagah saat ini justru menempati kawasan yang rawan banjir karena mudah tergenang saat hujan turun.

“Pedagang tidak bisa menerima fisik bangunan yang jauh dari kata layak,” ungkapnya, Selasa (17/12/2019).

Tempat relokasi sementara yang disiapkan Dinas Pariwisata serta Dinas Pertanahan dan Tata Ruang ditujukan untuk ratusan pedagang di sekitar laguna Glagah karena akan ada proyek sabuk hijau Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA).

Selama menunggu selesainya lokasi pemindahan lokasi pedagang, para pelaku usaha itu diberikan tempat berupa pondokan kayu yang lokasinya tak jauh dari tempat pedagang semula berjualan. Saat ini, Pemkab baru menyiapkan sekitar 50 bangunan berukuran 3x6 meter. Padahal, total pedagang mencapai 185 orang.

Rinto menyatakan jumlah itu jauh dari kata cukup karena baru bisa digunakan untuk kuliner, belum mencakup semua pedagang. Selain itu, pondokan yang ditawarkan dianggap kurang luas karena di tempat relokasi sementara, bangunannya hanya cukup untuk menaruh barang jualan, belum tempat untuk pengunjung warung.

Pedagang lain yang memiliki warung tak jauh dari lokasi relokasi, Fitri, menyayangkan area tersebut. Dikatakannya, jika hujan turun deras, genangan air bisa mencapai selutut orang dewasa padahal tinggi pondasi bangunan enggak sampai selutut.

Pelaku usaha kuliner lainnya, Titin Sukmawati, mengaku tidak mempermasalahkan program pemerintah namun ia mengharapkan lokasi yang layak. “Mohon dikasih tempat yang layak dan tidak terlalu sempit. Ada usaha warung makanan. Pengunjung maunya nyaman, makan masakan enak, tempatnya juga enak,” tutur Titin.

Kepala Dinas Pariwisata Kulonprogo Niken Probo Laras memaparkan tempat relokasi sementara ini untuk menunggu selesainya pembangunan relokasi yang permanen karena membutuhkan waktu yang lama untuk konstruksinya. “Lokasi yang permanen masih dibahas,” ucapnya.