Modus Tukar Uang, 2 WNA Gasak Rp4,2 Juta di Gunungkidul
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Proses pengaspalan di sekitar Jembatan Mojorejo, Dusun Nglebak, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Senin (30/12/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, memastikan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat Badai Cempaka yang dikerjakan di 2019 selesai tepat waktu. Salah satunya, proyek pembangunan Jembatan Mojorejo, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar. Proyek senilai Rp9,7 miliar selesai menjelang akhir tahun. “Ada tujuh paket rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikerjakan di 2019 dan semuanya dapat diselesaikan tepat waktu,” kata Edy, Rabu (1/1/2020).
Dia menjelaskan, untuk pembangunan Jembatan Mojorejo, sempat ada kekhawatiran tidak akan selesai tepat waktu. Namun setelah melalui proses pengawasan dan pengerjaan dilembur, proses pembangunan jembatan dapat selesai di akhir tahun. “Semua sudah selesai, termasuk pemasangan lampu penerangan jembatan,” katanya.
Selain Jembatan Mojorejo, rehabilitasi dan rekonstruksi juga dilaksanakan untuk pembangunan Jembatan Tahunan di Kecamatan Paliyan, pembangunan 94 unit rumah, rehabilitasi gedung SD, perbaikan talut TPAS Baleharjo, pembangunan dam parit di Ngeposari. “Total untuk rehabilitasi ini menelan anggaran sekitar Rp30 miliar,” katanya.
Edy menambahkan proses pembangunan dilakukan karena adanya dampak dari Badai Cempaka yang terjadi di akhir 2017. Untuk recovery, BPBD mendapatkan hibah anggaran sekitar Rp75 miliar. “Pada 2020 rehabilitasi dan rekonstruksi dilanjutkan untuk pembangunan tiga jembatan dan satu relokasi gedung SMP di Kecamatan Saptosari,” kata dia.
Kepala Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Jumawan, mengaku sempat khawatir pembangunan Jembatan Mojorejo tidak selesai tepat waktu. Meski demikian, pembangunan bisa diselesaikan mendekati akhir pergantian tahun. “Kami ikut memantau pembangunan jembatan ini,” katanya.
Menurut dia, keberadaan Jembatan Mojorejo merupakan akses vital bagi warga. Pasalnya, fasilitas ini menjadi tumpuan masyarakat untuk beraktivitas. “Saat jembatan rusak warga harus memutar jauh. Jarah tempuh dan waktu yang dibutuhkan lebih lama,” katanya.
Jumawan berharap dengan selesainya pembangunan Jembatan Mojorejo aktivitas masyarakat kembali normal. “Mudah-mudahan juga bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena aktivitas bisa lebih lancar lagi,” katanya.
Untuk diketahui, Jembatan Mojorejo rusak diterjang banjir bandang di Kali Oya pada akhir 2017. Meski demikian, proses pembangunan ulang baru terlaksana di semester kedua 2019.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Dua WNA mencuri Rp4,2 juta di warung Gunungkidul dengan modus tukar uang. Polisi masih memburu pelaku dan imbau warga waspada.
Kemlu RI mengecam tindakan Israel terhadap relawan Global Sumud Flotilla 2.0 dan terus mengupayakan pembebasan WNI yang ditangkap.
Talud Sungai Gajah Wong di Bantul ambrol dan mendekati jembatan. DPRD DIY mendesak penanganan darurat sebelum musim hujan tiba.
Barantin membentuk satgas 24 jam untuk mengawasi hewan kurban jelang Idul Adha 2026 dan memastikan lalu lintas ternak aman.
Polres Ponorogo menggeledah ponpes di Jambon usai pimpinan pesantren jadi tersangka pencabulan santri. Polisi sita sejumlah barang bukti.
Harga sembako Banyumas jelang Iduladha 2026 masih stabil. Harga sapi dan domba naik, namun stok pangan dipastikan tetap aman.