Pilur Gunungkidul 26 September, Surat Suara Mulai Masuk Tahap Pencetakan
Surat suara Pilur Gunungkidul mulai masuk tahap pencetakan setelah 91 calon lurah ditetapkan di 31 kalurahan dengan 120.887 pemilih.
Proses pengaspalan di sekitar Jembatan Mojorejo, Dusun Nglebak, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Senin (30/12/2019). /Harian Jogja-David Kurniawan
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Edy Basuki, memastikan kegiatan rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur yang rusak akibat Badai Cempaka yang dikerjakan di 2019 selesai tepat waktu. Salah satunya, proyek pembangunan Jembatan Mojorejo, Desa Katongan, Kecamatan Nglipar. Proyek senilai Rp9,7 miliar selesai menjelang akhir tahun. “Ada tujuh paket rehabilitasi dan rekonstruksi yang dikerjakan di 2019 dan semuanya dapat diselesaikan tepat waktu,” kata Edy, Rabu (1/1/2020).
Dia menjelaskan, untuk pembangunan Jembatan Mojorejo, sempat ada kekhawatiran tidak akan selesai tepat waktu. Namun setelah melalui proses pengawasan dan pengerjaan dilembur, proses pembangunan jembatan dapat selesai di akhir tahun. “Semua sudah selesai, termasuk pemasangan lampu penerangan jembatan,” katanya.
Selain Jembatan Mojorejo, rehabilitasi dan rekonstruksi juga dilaksanakan untuk pembangunan Jembatan Tahunan di Kecamatan Paliyan, pembangunan 94 unit rumah, rehabilitasi gedung SD, perbaikan talut TPAS Baleharjo, pembangunan dam parit di Ngeposari. “Total untuk rehabilitasi ini menelan anggaran sekitar Rp30 miliar,” katanya.
Edy menambahkan proses pembangunan dilakukan karena adanya dampak dari Badai Cempaka yang terjadi di akhir 2017. Untuk recovery, BPBD mendapatkan hibah anggaran sekitar Rp75 miliar. “Pada 2020 rehabilitasi dan rekonstruksi dilanjutkan untuk pembangunan tiga jembatan dan satu relokasi gedung SMP di Kecamatan Saptosari,” kata dia.
Kepala Desa Katongan, Kecamatan Nglipar, Jumawan, mengaku sempat khawatir pembangunan Jembatan Mojorejo tidak selesai tepat waktu. Meski demikian, pembangunan bisa diselesaikan mendekati akhir pergantian tahun. “Kami ikut memantau pembangunan jembatan ini,” katanya.
Menurut dia, keberadaan Jembatan Mojorejo merupakan akses vital bagi warga. Pasalnya, fasilitas ini menjadi tumpuan masyarakat untuk beraktivitas. “Saat jembatan rusak warga harus memutar jauh. Jarah tempuh dan waktu yang dibutuhkan lebih lama,” katanya.
Jumawan berharap dengan selesainya pembangunan Jembatan Mojorejo aktivitas masyarakat kembali normal. “Mudah-mudahan juga bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat karena aktivitas bisa lebih lancar lagi,” katanya.
Untuk diketahui, Jembatan Mojorejo rusak diterjang banjir bandang di Kali Oya pada akhir 2017. Meski demikian, proses pembangunan ulang baru terlaksana di semester kedua 2019.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Surat suara Pilur Gunungkidul mulai masuk tahap pencetakan setelah 91 calon lurah ditetapkan di 31 kalurahan dengan 120.887 pemilih.
25 merek beras fortifikasi ditarik dan izinnya dicabut. Mendag Budi Santoso memastikan stok beras di ritel tetap aman.
Taman Kuliner Wonosari diperluas dengan pembangunan 90 kios senilai Rp783,084 juta yang ditargetkan rampung awal Desember 2026.
Kopaska dan Dislambair TNI AL menemukan bukti di lokasi karam KM Virgo Transport 8 untuk mendukung investigasi KNKT.
Dasco menyebut ketum parpol belum menentukan parliamentary threshold dalam RUU Pemilu. Gerindra sebelumnya menyatakan setuju PT 5%.
SMAN 1 Sentolo menjelaskan penanganan dugaan pelecehan oleh oknum satpam dan memastikan petugas tersebut dinonaktifkan mulai 17 September.