Mahasiswa Ilmu Komunikasi STIKOM Kunjungi Kantor Harian Jogja

Kunjungan mahasiswa STIKOM ke Harian Jogja, Jumat (10/1/2020). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
10 Januari 2020 18:27 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Puluhan mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Komunikasi dari STIKOM mengunjungi Kantor Harian Jogja, Jumat (10/1/2020). Kunjungan tersebut bertujuan untuk menimba ilmu seputar manajemen bisnis media cetak. 

"Tujuan utama dari kunjungan ini untuk membekali sivitas akademika pada Program Studi S1 Ilmu Komunikasi STIKOM Yogyakarta agar memiliki pemahaman mendalam dan memadai mengenai implementasi manajemen redaksi media cetak di area konvergensi media pada industri media cetak Harian Jogja," tutur Ketua Program Studi (Kaprodi) S1 Ilmu Komunikasi STIKOM, Supadiyanto yang turut mendampingi mahasiswa, Jumat sore. 

Sementara itu, Redaktur Pelaksana Harian Jogja, Nugroho Nurcahyo atau yang akrab disapa Popon menyampaikan bahwa tidak dimungkiri jika anak-anak milenial tidak familiar dengan media cetak, salah satunya surat kabar. Mereka cenderung mengonsumsi berita dari media online atau media sosial baik melalui Facebook, Twitter, maupun Instagram. Mereka dipandang lebih praktis karena dapat diakses melalui gadget. 

"Generasi anak zaman sekarang menuntut praktis karena media cetak seperti koran itu kalah jauh," kata Popon. 

Berita melalui internet atau media online, dapat saat itu juga diiberitakan. Sementara berita melalui koran harus menunggu satu hari untuk melewati proses panjang untuk dapat dibaca. Mulai dari liputan, editing, pencetakan, sampai tahap pendistribusian. 

"Telat itu dianggap tidak memenuhi kebutuhan infomasi. Padahal dari sisi disiplin jurnalistiknya, justru bisa terpenuhi karena dengan waktu yang panjang kami punya proses untuk menguji kebenaran beritanya dan memproduksi berita yang lebih komprehensif," katanya. 

Kendati sudah mulai ditinggalkan pembacanya, koran masih diminati sebagian kalangan. Seperti generasi baby boomer atau yang lahir pada era 1946-1964. 

Popon menegaskan bahwa jurnalisme memiliki sifat yang kekal karena selamanya akan dibutuhkan. "Basic-nya adalah rasa ingin tahu manusia. Hanya saja cara penyajiannya yang berubah," kata dia