Usus Besar Hanya Satu, Bayi Kembar Siam Dempet di Gunungkidul Tak Kunjung dipisahkan

Ilustrasi bayi. - Reuters
11 Januari 2020 21:57 WIB Muhammad Nadhir Attamimi Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Sepasang bayi kembar siam dempet bernama Meisya dan Meikha asal Dusun Pabregan, Desa Sumberejo, Kecamatan Semin kini telah berusia 19 bulan atau 1,5 tahun. Namun, hingga saat ini tindakan pemisahan tak kunjung dilakukan, mengingat tim penanganan bayi tersebut dari pihak RSUP Sardjito perlu mematangkan segala hal agar operasi berjalan lancar.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Dewi Irawaty. Ia mengungkapkan operasi pemisahan bayi kembar tersebut bukanlah perkara mudah. Bahkan, akan melibatkan banyak dokter dalam berbagai bidang ilmu.

"Belum ada keputusan pemisahan dan pertemuan terakhir di RS Sardjito masih uji dan pembahasan yang harus dipersiapkan, karena bakal melibatkan banyak disiplin ilmu seperti dokter anak, dokter bedah saraf, dokter tulang dan lainnya," kata Dewi kepada Harianjogja.com, Sabtu (11/1/2020).

Dalam kasus tersebut, pihaknya mendapatkan temuan penanganan yang cukup sulit, dimana beberapa organ tubuhnya yang seharusnya terdapat di masing-masing bayi ternyata hanya ada satu. Sehingga, ini yang diakui Dewi merupakan belum terealisasinya proses operasi.

"Karena ada penemuan yang agak sulit dipisah itu usus besarnya hanya ada satu, kemudian beberapa lainnya harusnya masing-masing ada tapi hanya punya satu," ujarnya.

Ia menuturkan seluruh penanganan medis telah diambil alih oleh Pemda DIY dalam hal ini RSUP Sardjito. Mulai dari proses tindak lanjut operasi pemisahan hingga biaya secara keseluruhan. "Sangat besar biayanya, rasanya kok tidak mungkin kalau menggunakan dana orang tua, dana melibatkan pemda, nanti dalam artian siapa saja entah Sardjito atau donatur lain," ujarnya.

Dalam menunggu proses tindak lanjut penanganannya, bayi kembar dari pasangan Ari Sahyana dan Eka Handayani itu kini tengah dalam pemantauan puskesmas Semin dan Dinas Kesehatan sesuai protap penanganan bayi kondisi tidak normal.

"Bayi ini kita lakukan pemantauan seperti bayi lainnya, bahkan kami ada tambahan penanganan karena kalau beratnya kurang akan kita beri makanan tambahan," ujarnya.