Mengenal Kereta Jenazah Hoo Hap Hwee

Kereta Jenazah Hoo Hap Hwee yang dipajang di Bintaran, Jogja beberapa waktu lalu./ Harian Jogja - Kusnul Isti Qomah
23 Januari 2020 08:22 WIB Kusnul Isti Qomah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Perhimpunan Budi Abadi atau Hoo Hap Hwee telah berdiri sekitar 110 tahun. Perhimpunan ini fokus pada kegiatan sosial untuk membantu sesama. 

Perhimpunan dibentuk dari awal untuk bergerak di bidang sosial dan kemanusiaan. Hal itu diwujudkan dalam berbagai kegiatan di bidang sosial seperti melayani pengobatan, urusan kematian serta persemayaman jenazah, dan olahraga seperti wushu. Khusus untuk kendaraan jenazah, sebelum adanya ambulans khusus jenazah, Hoo Hap Hwee melayani masyarakat dengan menggunakan kereta jenazah.

Ketua Umum atau Twa Ko (Kakak Pertama) Hoo Hap Hwee Harry Setio menjelaskan 1923 menjadi tonggak sejarah bagi Hoo Hap Hwee. Pada waktu itu Hoo Hap Hwee memberikan pelayanan kepada para anggotanya yang sedang berduka atas meninggalnya keluarga mereka. "Saat itu Hoo Hap Hwee menyediakan fasilitas berupa kereta jenazah untuk mengantar jenazah menuju peristirahatan terakhir baik menuju makan maupun krematorium. Tempat pemakaman yang ada pada saat itu yakni di pemakanam SKIP [Sendowo], Sagan, Terban, Pingit, dan Sasana Loyo," kata dia ketika ditemui di kantor Hoo Hap Hwee, Bintaran, Jogja, beberapa waktu lalu.

Ia mengatakan kereta jenazah tidak hanya digunakan oleh anggota Hoo Hap Hwee saja, tetapi juga masyarakat umum. Masyarakat umum bisa menyewa untuk menggunakan kereta tersebut.

Kemudian, pada 1928 dilakukan perbaikan pertama kali terhadap kereta kencana oleh Liong A Jong yang merupakan salah satu tokoh dan anggota Hoo Hap Hwee. Kereta jenazah ini terus melayani anggota dan masyarakat hingga 1966 meskipun penggunaannya fluktuatif. Pada pertengahan 1970, kereta jenazah mulai tidak digunakan karena saat itu Hoo Hap Hwee telah memiliki ambulans sebagai pengganti kereta. Hal itu diprakarsai oleh Twa Ko pada saat itu yakni Tan Poo Kiem.

"Saat itu kereta jenazah tidak digunakan lagi dan disimpan di garasi Hoo hap Hwee yang pada saat itu masih berlokasi di daerah Beskalan, Jogja," ujar dia.

Ia menyebutkan pada 1985 kepengurusan Hoo Hap Hwee vakum sementara karena meninggalnya Twa Ko Tan Poo Kiem pada 1984. Kevakuman tersebut berlangsung hingga 1989. Saat itu para gerenasi muda mulai mengaktifkan lagi kegiatan di Hoo Hap Hwee. Dalam kurun waktu yang sama bangunan yang dipakai sebagai sekretariat direnovasi.  

Dititipkan ke Ambarawa

Karena lahan yang terbatas, kemudian disepakati kereta jenazah akan dititipkan ke Yayasan Gotong Royong Ambarawa, Jawa Tengah. Proses pengiriman kereta dilakukan oleh beberapa tokoh Hoo Hap Hwee dengan tujuan agar kereta tetap terawat dengan baik. "Hingga diambil dari Ambarawa, kereta tersebut tetap terawat dengan baik. Hal ini menunjukkan pihak Yayasan Gotong Royong Ambarawa sangat peduli terhadap nilai sejarah khususnya kereta jenazah Hoo Hap Hwee. Kami memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya," kata dia.

Kemudian, pada 1994 Hoo Hap Hwee memilki tanah dan bangunan sendiri yang berlokasi di Jl Bintaran Wetan No 19 Jogja. Beberapa tahun setelah itu muncul gagasan untuk mengambil kembali kereta jenazah dari Ambarawa untuk dijadikan benda cagar budaya yang merupakan bagian dari proses sejarah perjalanan paguyuban. Realisasi pengambilan kereta jenazah ini dilakukan pada 2010.

Proses pengambilan diawali dengan pengiriman surat kepada pengurus Yayasan Gotong Royong Ambarawa pada 7 Januari 2010. Surat ini ditindaklanjuti dengan audiensi antara pengurus Hoo Hap Hwee dan pengurus Yayasan Gotong Royong Ambarawa. Dalam audiensi tersebut disepakati pemindahan dilakukan pada 17 Januari 2010. Sebelum pemindahan, Hoo Hap Hwee memberikan piagam kepada Yayasan Gotong Royong Ambarawa sebagai bentuk penghargaan setinggi-tingginya karena telah menjaga dan merawat kereta jenazah.

Hoo Hap Hwee melakukan renovasi pada bagian-bagian kereta dengan mengganti beberapa bagian yang sudah tidak memungkinkan digunakan. Perbaikan dilakukan terus-menerus dengan harapan bisa diikutkan dalam kirab budaya pada PBTY 2010 pada 27 Februari 2010 untuk merayakan Imlek 2561 sekaligus menandai kembalinya kereta.