Rubingah, Nenek yang Ditendang karena Dituduh Ngutil, Menjanda 30 Tahun dan Hidup Pas-Pasan

Kepala Dukuh Kranggan I Jogotirto Suharmadi saat menunjukkan rumah nenek Rubingah, Rabu (22/1/2020).-Harian Jogja - Abdul Hamid Razak
23 Januari 2020 09:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, SLEMANRubingah usianya sekitar 64 tahun. Selama ini ia tinggal di Dukuh Kranggan II Desa Jogotirto Berbah. Puluhan tahun dia hidup menyendiri di sebuah rumah 'tak layak'. Disebut tak layak, meskipun dinding rumahnya terbuat dari dinding bata, namun kondisi di dalamnya sangat memprihatinkan.

Tidak ada dipan atau ranjang yang layak, tidak ada kursi apalagi sofa yang empuk. Pintu gerbang rumahnya hanya terbuat dari bambu yang dikunci menggunakan gembok mungil. Di halaman depan rumah itu disesaki dengan berbagai macam material. Mulai batu, kayu, genteng dan barang bekas lainnya. Benda-benda itu hanya digeletakkan begitu saja, tidak terawat.

Di bagian belakang rumah tambah menyesakkan. Ada sebuah lobang dangkal yang menyerupai sumur. Ruang dapur juga tanpa perabotan. Di belakang rumah itu ada juga sedikit ruangan yang penuh dengan bekas pembakaran dupa.

Puluhan tahun lamanya, Rubingah hidup tanpa listrik. Praktis tidak ada lampu, perabotan elektronik lainnya di rumah itu. Untuk mendapat pencahayaan saat malam, Rubingah sedikit membuka pintu bagian depan rumahnya. Pintu itu dibuka agar sinar lampu di jalan kampung bisa sedikit menyelinap ke dalam rumah.

Rubingah harus menghidupi dirinya sendiri setelah cerai dengan suaminya, Jamal. Jamal bersama putri semata wayang mereka, Wiwin, merantau ke tanah Sumatera. Itu terjadi sekitar 30 tahun yang lalu. Melihat kondisinya, Rubingah menjadi seorang janda, penghasilan tidak menentu dan hidup dalam tekanan ekonomi yang berat.

Kepala Dusun Klanggan 1 Suharmadi, 44 bercerita sebenarnya dua tahun lalu Rubingah termasuk dalam daftar penerima beras untuk masyarakat miskin (Raskin). Namun sejak program Raskin diganti dengan Rastra dan PKH, Rubingah tak lagi mendapatkan bantuan beras dari pemerintah. "Akhirnya sehari hari dia berjalan kaki. Biasanya jadi tukang pijet," kata Suharmadi, Rabu (22/1/2020).

Selama ini, kata dia, Rubingah hidup dari bantuan orang lain. Entah dari tetangganya atau dermawan lainnya. Kalau ada bantuan dari instansi luar, seperti zakat, Suhamadi selalu memasukkan Rubingah sebagai salah satu penerima. "Mungkin karena terpisah dari suami dan anaknya ditambah masalah ekonomi, mbah Rubingah sedikit tertekan," kata Suharmadi.

Jadilah Rubingah sebagai sosok yang tertutup. Tidak banyak bicara kepada masyarakat. Hanya kepada Suharmadi, Ketua RT setempat dan beberapa warga Rubingah terbuka. Meskipun tinggal di dusun berbeda, namun dia masih tercatat sebagai warga Kranggan II.

Dia menilai semestinya aksi kekerasan tersebut tidak perlu terjadi. Apalagi dilakukan kepada seorang nenek. "Saya akan bertemu dengan pak Dukuh di mana tempat pelaku tinggal agar kalau bisa diselesaikan secara kekeluargaan. Jangan sampai melakukan tindakan kekerasan seperti itu," katanya.

Duel Umara, 65 tetangga Rubingah mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, Rubingah memang jarang berkomunikasi dengan tetangga. Dia tahu persis tingkah laku Rubingah karena tinggal di seberang jalan kampung depan rumah Rubingah. "Kalau pergi pagi, sore sudah pulang. Tapi nggak tahu perginya ke mana. Pernah pamit ke pengajian pakai kerudung," katanya.

Meskipun komunikasi terbatas, kata Umara, Rubingah tidak ada masalah dengan tetangga. Apalagi sampai mengambil barang orang lain, tanpa izin. "Pernah saat di rumah ada acara RT, ada makanan sisa, dia meminta makanan. Kalau ada keperluan dia pasti minta," katanya.

Sampai akhirnya muncul video viral di mana Rubingah mendapat perlakuan kasar pada Senin (20/1/2020). Dia dituding mengutil beberapa buah mangga seberat 3 kg.

Video tersebut menjadi viral di media sosial. Banyak warganet yang geram terhadap tindakan kasar yang diterima Rubingah dan tidak sedikit yang iba melihat kasus kekerasan tersebut. Bahkan, rumah kediaman Rubingah pun ramai didatangi orang. Mereka iba dan menyatakan dukungan moral atas tindak kekerasan yang dialami nenek tersebut.

Ditangani Polisi

Kasus Rubingah, 64, saat ini ditangani oleh Polsek Prambanan. Setidaknya polisi memeriksa empat orang saksi dalam kasus ini. Selain terduga pelaku penganiayaan, Ngadirin, penyidik juga memeriksa seorang pedagang buah Martini, pembuat video Sukasno dan Ketua Paguyuban Pasar Gendeng Sularsih sebagai saksi. Pemeriksaan dilakukan pada Rabu (22/1/2020) pagi hingga siang hari.

"Semua pihak yang terlibat dalam video tersebut kami periksa. Mulai penjual buah yang katanya buahnya diambil, orang yang menvideo, sampai pelaku yang menendang korban," kata Kasi Humas Polsek Prambanan Aiptu Ahmad Mukhlis.

Ketua Paguyuban Pedagang Pasar Gendeng Sularsih mengatakan dia hanya mendapatkan laporan adanya kasus tersebut sesaat setelah kejadian. Dia mengaku tidak melihat langsung kejadian penganiayaan yang videonya viral di media sosial. "Saya dikasih laporan dari pelaku yang menendang ibunya [Mbah Rubingah]. Katanya ibunya itu habis ngutil. Kejadian yang ada dalam video itu sebelum dilaporkan ke saya," katanya ketika diperiksa di Polsek Prambanan.

Dia menjelaskan Mbah Rubingah tidak mengambil brambang [bawang merah] seperti yang tergambar dalam video tersebut. Barang merah yang tergambar dalam video adalah bunga mawar. Setelah memeriksa dan menanyakan perihal tuduhan tersebut kepada Rubingah, kata dia, korban seperti mengalami gangguan kejiwaan.

"Setelah beli bunga, si ibu mengambil mangga tiga kilo. Dari logatnya saat saya tanya-tanya, si ibunya itu terlihat orang yang kurang waras. Akhirnya saya lepaskan. Baru Selasa paginya saya tahu video itu sudah viral," katanya.

Pelaku tindak kekerasan, Ngadirin mengaku tidak menyangka tindakannya viral. Dia mengaku menendang korban karena mendengar teriakan maling-maling. "Saya langsung tendang. Dua kali. Satu kena bunga, satu kena tas. Saya emosi saat itu sangat ada teriakan maling," katanya.

Tidak cukup menendang dan memarahi Rubingah, Ngadirin kemudian menyeret Rubingah ke kantor pasar. Dia mengaku tidak menyangka jika tindakannya menjadi viral. "Saya hanya emosi ada maling, gitu saja. Menyesal ya menyesal. Kalau ketemu [Rubingah] saya jaluk ngapuro saja," kata Dirin.

Sementara Martini, pedagang buah yang dikutil oleh Rubingah mengaku ada sekitar 3 kg mangga yang diambil. Mengetahui itu, dia lantas mengambil mangga tersebut dan meminta Rubingah tidak mengulangi perbuatannya. "Saya bilang kalau mau minta saja, jangan ngambil," ujar dia.

Sementara Sukasno, warga yang merekam kejadian tersebut mengaku rekaman hanya untuk pribadi. Tujuannya agar pedagang mewaspadai perilaku pengutil. "Cuma Martini minta videonya. Setelah itu katanya video dipasang di status WA dan menyebar," kata Kasno.