ACT Bentuk Kepercayaan Masyarakat dengan Aksi dan Kecepatan

Kepala Cabang Aksi Cepat Tanggap (ACT) DIY, R. Bagus Suryanto (dua kiri) dan Public Relations ACT DIY Nasrudin (kiri) menyerahkan kenang-kenangan kepada pihak Harian Jogja, Kamis (23/1/2020). - Harian Jogja/Bernadheta Dian Saraswati
23 Januari 2020 16:37 WIB Bernadheta Dian Saraswati Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Aksi Cepat Tanggap (ACT) terus berupaya hadir di tengah masyarakat melalui penyaluran bantuan, salah satunya saat terjadi bencana alam. Lembaga kemanusiaan nonprofit yang tersebar di hampir 100 titik di Indonesia ini selalu mengutamakan aksi dan kecepatan saat di lapangan dibandingkan penggalangan dana.

"Yang penting kita aksi dulu ke lokasi, nanti penggalangan dana pasti akan mengikuti. Kita utamakan masalah nyawa dulu, ya meski untuk persiapan dana kita juga sudah lakukan," kata Kepala Cabang ACT DIY, R. Bagus Suryanto saat berkunjung ke Kantor Harian Jogja, Kamis (23/1/2020).

ACT juga mengutamakan kecepatan dalam menyalurkan bantuan. "Paling tidak dua jam setelah bencana kita harus sudah ada di lokasi," tuturnya.

Menurut Bagus, dengan mengutamakan aksi dan kecepatan, masyarakat dengan sendirinya akan menilai lembaga kemanusiaan mana yang terpercaya. Hal itu diyakini akan menjadi pertimbangan bagi para donatur dalam memilih lembaga untuk mendonasikan dananya.

Transparansi dalam menyampaikan laporan donasi juga menjadi hal utama yang selalu dilakukan ACT. Laporan dana tahunan kepada para donatur dan juga pemberitaan kegiatan penyaluran bantuan melalui media massa, menjadi bentuk pertanggungjawaban ACT kepada para donatur.

"Itu yang membuat mereka [donatur] percaya sehingga memunculkan repeat donasi," katanya.

ACT berupaya hadir di tengah masyarakat. Di Gunungkidul, ACT hadir melalui program sumur wakaf. Sumur-sumur tersebut membantu masyarakat memenuhi kebutuhan air bersih.

Selain itu, ACT juga tak pernah berhenti menyalurkan air bersih melalui program droping air. Hingga saat ini, ACT sudah menyalurkan 2,3 juta liter. "Kami hadir di semua kabupaten di DIY, tapi fokus kami memang Gunungkidul karena di sana sulit air," kata Bagus.

Dalam menyalurkan bantuan, ACT memang memprioritaskan pada daerah pelosok yang jarang tersentuh bantuan. Hal ini mengingat sudah banyak lembaga kemanusiaan yang bergerak memberikan bantuan terlebih saat bencana alam melanda.

Dalam penanganan bencana alam, ACT memiliki perlengkapan untuk penyelamatan korban, seperti perahu karet. Tim penyelamat ACT juga berlisensi karena sudah dilatih oleh TNI dan Basarnas. "Relawan kami di DIY ada 700. Dokter ada, tapi paling banyak mahasiswa," katanya.

Sejauh ini, hubungan ACT dengan TNI terjalin sangat baik. Saat terjadi konflik Natuna belum lama ini, ACT hadir untuk memberikan bantuan pangan pada anggota TNI yang bertugas menjaga daerah tersebut dari nelayan China.

Pemberdayaan Masyarakat

Selain menyalurkan bantuan, ACT juga melakukan perberdayaan masyarakat seperti melalui kegiatan pertanian. Di Blora misalnya, ACT menyewa lahan, menyediakan bibit tanaman dan pupuk, dan meminta petani untuk mengolahnya. Saat musim panen tiba, ACT akan membeli hasil pertanian tersebut untuk didonasikan kepada pihak yang membutuhkan.

"Beras petani di Blora itu kan bagus. Kami beli dan kami kirimkan ke Palestina," tambah Nasrudin selaku Public Relations ACT Cabang DIY yang juga turut serta dalam kunjungan tersebut.