Selain Gusur Perempatan Monjali, Tol Jogja-Solo Juga Gusur Perempatan Kentungan

Underpass di Perempatan Kentungan di Ring Road Utara, Sleman. - Harian Jogja/Desi Suryanto
06 Februari 2020 16:47 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Konstruksi jalan tol yang menggunakan Ring Road tidak hanya berlaku di Perempatan Monjali, tetapi juga Perempatan Kentungan.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Satuan Kerja Pelaksana Jalan Bebas Hambatan (PJBH) Tol Jogja-Solo Totok Wijayanto mengatakan ruas jalan tol di Ring Road tidak semuanya melayang atau elevated seperti rencana awal.

Selain di Simpang Empat Monjali, jalan tol di Simpang Empat Kentungan atau di atas Underpass Kentungan juga akan mendatar (at grade) dan menggunakan jalan yang sudah ada.

Totol mengatakan tol di atas Underpass Kentungan yang dibangun memakai Ring Road akan menyesuaikan dengan desain jalan tol yang menggunakan Ring Road di Persimpangan Monjali. Namun, Totok enggan menjelaskan secara terperinci desain pembangunnya.

“Nanti saja yang menyampaikan dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat karena masih akan dikonsultasikan dengan konsultan perencana,” katanya, Rabu (5/2/2020).

Totok mengatakan nilai ganti rugi pembebasan lahan tol di Ring Road dan wilayah lain di Sleman kemungkinan besar akan berbeda.

“Di Ring Road kan banyak digunakan ruang usaha, sementara di desa banyak tanah sawah. Jadi ada pembedaan nilai taksirannya,” kata dia.

Di Ring Road, proyek Tol Jogja-Solo berdampak pada sejumlah perkantoran, kampus, dan pusat bisnis.

Hal tersebut mencuat saat sosialisasi rencana pembangunan jalan tol di wilayah Ring Road yang digelar di Condongcatur pada Selasa (4/2/2020) dan Maguwoharjo Rabu (5/2/2020).

Di Maguwoharjo, tol dimulai dari Dusun Ringinsari dan berakhir di Dusun Pugeran. Panjang jalannya sekitar tiga kilometer. Bangunan strategis seperti SPBU, sekolah, pusat bisnis di sepanjang jalan ini terdampak pembangunan jalan tol.

Sebanyak 245 bidang dengan luas 93.521 meter persegi di Maguwoharjo akan dipakai untuk jalan tol. Tol di desa ini semuanya dibangun secara elevated, berbeda dengan di wilayah Kalasan yang sebagian besar dibangun secara at grade.

Di Maguwoharjo terdapat on off di persimpangan Jalan Raya Tajem. Di wilayah ini lebar jalan yang dibutuhkan antara 30 dan 70 meter, sedangkan lebar jalan tol 24,8 meter yang dilengkapi dengan empat lajur. Jarak antara on off Maguwoharjo dengan on off UPN sepanjang 2,6 km.

Dari Ringinsari Maguwoharjo, tol yang dibangun di atas Selokan Mataram bergerak menuju di sisi Utara Lottemart. Dari sisi utara pusat perbelanjaan tersebut, tol menuju sisi selatan Ring Road dan secara bertahap akan tepat berada di atas Ring Road.

Di Desa Condongcatur, sejumlah kampus, pusat perbelanjaan, pasar dan sebagian lahan di Polda DIY juga terdampak pembangunan jalan tersebut. Di desa ini, Tol Jogja-Solo membutuhkan 214 bidang dengan luas sekitar 119.324 meter persegi. Tidak menutup kemungkinan, jumlah bidang akan bertambah karena masih ada beberapa irisan bidang terdampak yang belum terdata dalam undangan sosialisasi.

Proyek jalan tol di Condongcatur dimulai dari sisi timur Polsek Depok Timur hingga Hotel Lafayette Boutique. Jalan tol menerabas sejumlah kampus seperti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Jogja. Di kampus ini, diperkirakan lahan terdampak pembangunan tol cukup luas.

Selain UPN, kampus yang terkena pembangunan jalan tol adalah Universitas Amikom dan STIKES Guna Bangsa, serta jalan masuk Universitas Mercubuana. Jalan tol juga menerabas sebagian bangunan di Pasar Condongcatur.

“Mayoritas bidang terdampak adalah tanah pribadi. Sebagai juga milik yayasan atau kampus. Ada juga tanah kas desa yang juga terdampak. Tetapi paling banyak adalah bangunan unit usaha,” kata Kepala Desa Condongcatur Reno Chandra Sangaji.

Dia berharap agar pembangunan jalan tol berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar. “Apalagi Condongcatur sudah menjadi pusat perbelanjaan. Banyak investasi yang masuk. Jangan sampai masyarakat jadi penonton,” katanya.

Dia berharap pemerintah bisa memikirkan dampak negatif dari pembangunan jalan tol. “Untuk on off misalnya, kami belum nanti bagaimana nanti. Yang jelas di Condongcatur banyak usaha yang produktif. Harapan kami jangan sampai usaha tersebut mati.”