184 KWT Sediakan Sayur Mayur untuk Bantuan Warga Miskin di Kulonprogo

Petani di Dusun Sidorejo, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Hariyani, sedang memanen cabai di lahannya, Selasa (29/1).-Harian Jogja - Fahmi Ahmad Burhan
18 Februari 2020 07:07 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO-- Pemerintah Kabupaten Kulonpogo memberdayakan 184 kelompok wanita tani (KWT) untuk menyalurkan bahan pangan dalam Program Sembako yang dulu disebut Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

KWT yang tersebar di 12 kapanewon itu sejak bulan ini telah menyuplai sayur mayur ke E-Warong guna memenuhi kebutuhan 49.184 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) program tersebut. Masing-masing KPM memperoleh sayuran dari produksi KWT meliputi terong, kacang panjang, buncis dan labu siam, yang jika dirupiahkan senilai Rp7.000 per bulan.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kulonpogo, Aris Nugraha mengatakan keterlibatan KWT dalam program ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pertanian, meningkatkan konsumsi sayuran KPM dan meningkatkan pendapatan keluarga KWT.

Lewat pemberdayaan ini, Aris mengharapkan bisa menjadi batu lompatan bagi KWT untuk dapat memasarkan produk sayurannya lebih luas lagi. "Seiring kemajuan pembangunan di Kulonprogo dapat menerobos pasaran yang lebih luas,” ujarnya, Senin (17/2/2020).

Salah satu KWT yang dilibatkan dalam program ini yakni KWT Anggrek Asri, Dusun Munggermalang, Kalurahan Gerbosari, Kapanewon Samigaluh. Kelompok beranggotakan 33 wanita itu menyalurkan 285 paket sayur untuk 284 KPM di sejumlah E-Warong di Samigaluh.

Ketua KWT Anggrek Asri, Eka Prita Isnuari mengatakan keikutsertaan kelompoknya dalam program ini bermanfaat untuk meningkatkan ekonomi keluarga, dan berpeluang memperluas pemasaran.

"Yang jelas ada kesempatan buat kami memperluas pasar, selain itu bisa meningkatkan perekonomian karena selain dikonsumsi sendiri, hasil panen yang berlebih sekarang bisa dijual ke E-Warong," ujarnya.

Namun demikian, di balik manfaat yang didapat, Prita mengaku KWT-nya masih mengalami sejumlah kendala. Salah satunya terkait minimnya lahan untuk ditanami sayuran. Selama ini KWT tersebut hanya mengandalkan lahan pekarangan rumah.

Hal itu membuat pihaknya cukup kesulitan memenuhi kebutuhan sayur mayur untuk program tersebut.

"Yang masih menjadi kendala kami jumlah sayur yang kami tanam belum dapat mencukupi karena hanya menanam di lingkungan pekarangan rumah, sehingga kami harus bekerja sama dengan Gabungan Kelompok Tanin yang berada di wilayah Samigaluh," ungkapnya. Untuk mengantisipasi hal itu, mulai bulan ini, KWT Anggrek Asri mulai menanam sayur mayur di lahan hamparan sawah.