Kulonprogo Sangat Butuh Hotel, Investor Hotel Bintang 3 & 4 Sudah Masuk

Sutedjo - Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
24 Februari 2020 16:47 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Bupati Kulonprogo Sutedjo menyebut hotel berbintang di Kulonprogo sangat diperlukan mengingat Bandara Internasional Yogyakarta atau Yogyakarta International Airport (YIA) akan beroperasi penuh pada 29 Maret 2020.

“Tentunya sudah sangat mendesak ya, ini penting dan mendesak untuk segera ada di Kulonprogo,” ujar Sutedjo kepada Harian Jogja, Senin (24/2).

Sutedjo menceriratakn pernah satu waktu dirinya kelabakan saat ditanya kru pesawat dan penumpang ihwal ada tidaknya hotel terdekat kala menyambut kedatangan mereka dalam operasional perdana YIA 2019 silam.

Lantaran belum ada hotel yang dinilai representatif di Kulonprogo, Sutedjo menjawab hotel terdekat berjarak 40 kilometer alias masuk wilayah Kota Jogja. “Kami jawabnya paling dekat itu 40 kilometer, ya gimana memang belum ada yang representatif di sini,” kata Sutedjo terkekeh.

Sutedjo mengatakan kehadiran YIA mau tak mau harus diimbangi dengan fasilitas pendukung, termasuk hotel berbintang. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo membuka peluang bagi investor di bidang perhotelan untuk bisa membangun hotel berbintang di kabupaten tersebut.

Sementara itu, Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu (DPMPT) Kulonprogo Agung Kurniawan mengatakan sejumlah investor di bidang perhotelan saat ini sudah membebaskan lahan dan sedang mengurus perizinan tata ruang dan dokumen lingkungan untuk mendirikan bangunan di sekitar YIA.

Menurut Agung, ada satu hotel bintang empat dan tiga hotel bintang tiga.

“Nama atau operator hotel belum bisa kami sampaikan,” kata Agung belum lama ini.

Di luar empat hotel tersebut, PT Angkasa Pura 1 juga tengah membangun sebuah hotel bintang tiga di dalam area bandara.

Agung menyebut investor yang menanamkan modalnya di Kulonprogo datang dari pelbagai sektor usaha, mulai dari toko serba ada, apartemen, perumahan, pergudangan, SPBU, restoran, rest area dan toko oleh-oleh. Beberapa investor diklaim sudah datang ke DPMPY untuk konsultasi dan mengurus perizinan melalui OSS.

“Sebagian dari mereka sudah membebaskan lahan,” ujarnya.

Pemkab Kulonprogo secara prinsip memberi izin pendirian hotel asalkan investor memenuhi syarat sesuai Peraturan Daerah Kulonprogo no 1/2012 tentang RTRW Kabupaten Kulonprogo 2012-2032.

Pasal 51 ayat 2 menyebut peruntukan kawasan permukiman salah satunya adalah Kecamatan Temon yang merupakan calon Aerotropolis. Kemudian, pasal 53 ayat 2 menjelaskan kawasan peruntukan perdagangan dan jasa salah satunya juga di Kecamatan Temon.

Kehadiran YIA berdampak terhadap iklim investasi di Kulonprogo. Hal itu dilihat dari capaian Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Sampai triwulan III 2019 tercatat total realisasi investasi di Kulonprogo mencapai Rp 9,1 triliun, terdiri dari PMA sebesar Rp890 miliar meliputi sebelas perusahaan dan PMDN sebesar Rp8,2 triliun, meliputi PT Angkasa Pura I, Rp7,56 triliun dan 32 perusahaan lainnya.

Pelaksana Tugas Sementara (PTS) General Manager PT Angkasa Pura I Bandara YIA Agus Pandu Purnama mengatakan saat ini masih fokus pada pembangunan hotel bintang tiga.

“Kami masih fokus sebelum April ke bintang tiga sudah selesai yang ada di dalam bandara. Rencananya iya [bintang lima] tapi belumlah, masih konsentrasi yang bintang tiga itu,” ucap Pandu, Jumat.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono mengatakan memang ada hotel bintang yang memasuki proses pembangunan. Namun, ia belum dapat menjelaskan lebih detail hotel mana saja. "Sudah ada hotel bintang [proses pembangunan]. Untuk nonbintang juga sudah ada. Kami mendukung keberadaan hotel-hotel di Kulonprogo," katanya.