Ada Perang Besar di Titik Nol Kilometer

Aksi teatrikal dalam rangka memperingati Serangan Umum 1 Maret di Titik Nol Kilometer, Jogja, Minggu (1/3/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
01 Maret 2020 18:17 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Dalam rangka memperingati peristiwa Serangan Umum 1 Maret, sejumlah komunitas sejarah bersama Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY kembali menggelar aksi teatrikal di Titik Nol Km, Minggu (1/3/2020). Dalam aksi teatrikal itu, mereka memeragakan pertempuran yang terjadi antara tantara Indonesia dengan Belanda pada pada masa Agresi Militer II hingga puncaknya pada pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret.

Dalam aksi tersebut, dikisahkan Belanda kembali datang ke Indonesia dan menduduki Jogja yang masih menjadi Ibukota Indonesia pada akhir 1948. Merasa kemerdekaan yang telah diproklamasikan pada 1945 dinistakan, tentara Indonesia pun melancarkan beberapa serangan pada Belanda.

Tetapi karena sifatnya masih sporadis, serangan itu dengan mudah dipatahkan Belanda. Hingga kemudian Jenderal Soedirman berinisiatif melancarkan serangan serentak dari berbagai sisi, di pagi hari dan dengan target menduduki Jogja selama enam jam.

Rencana ini pun disambut baik oleh Letkol Soeharto dan Sri Sultan HB IX yang kemudian menginstruksikan tentara Indonesia untuk menyerang Belanda dari sisi timur, selatan, selatan, barat, utara dan dalam Kota Jogja. Serangan mendadak dan serentak ini berhasil menundukkan Belanda.

Ketua Panitia Semarak Serangan Umum 1 Maret 2020, S. Sudjono, mengatakan dalam tenggat enam jam dipilih untuk mengantisipasi bantuan Belanda dari kota di sekitar Jogja. “Jarak dari Semarang empat jam, sebelum bantuan itu datang, tentara Indonesia mundur ke front masing-masing tepat pukul 12.00 WIB,” ujarnya.

Keberhasilan Serangan Umum 1 Maret dengan cepat tersebar ke berbagai negara melalui jaringan radio. Serangan sukses mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia adalah negara berdaulat. Maka tema yang diangkat dalam Semarak Serangan Umum 1 Maret kali ini pun adalah Menuju Hari Penegakan Kedaulatan Negara.

Upacara & Pameran

Aksi teaterikal berlangsung sekitar 30 menit. Para pemain menggunakan yang dibagi dua, masing-masing mengenakan kostum tentara Indonesia dan tentara Belanda, lengkap dengan properti berupa senapan, mobil dan motor pada masa itu. Adegan baku tembak diperankan dengan sangat meyakinkan oleh para komunitas sejarah yang terlibat.

Sebelum aksi teaterikal, puncak peringatan Serangan Umum 1 Maret diawali dengan upacara di Plaza Serangan Umum 1 Maret. Setelah itu dilanjutkan mengunjungi pameran Di Balik Serangan Fajar di Ruang Sultan Agung, Benteng Vredeburg, Jogja. Dalam pameran yang berlangsung sampai Kamis (5/3/2020) tersebut, ditampilkan rentetan peristiwa dan pernak-pernik yang melingkupi Serangan Umum 1 Maret.

Setelah aksi teatrikal, kegiatan dilanjutkan dengan parade kebangsaan yang diikuti oleh 28 kontingen. Parade ini start dari Gedung DPRD DIY hingga panggung utama di Titik Nol Kilometer. “Karena dampaknya yang cukup signifikan, pada 2019 lalu kami telah mengajukan usulan untuk menjadikan Serangan Umum 1 Maret sebagai hari besar nasional," ucap dia.