Tukang Parkir Abu Bakar Ali Minta Pindah ke Lokasi Strategis

Taman Parkir Abu Bakar Ali - Harian Jogja/Desi Suryanto
02 Maret 2020 05:27 WIB Sunartono Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Sejumlah juru parkir (jukir) Taman Parkir Abu Bakar Ali (ABA) yang berada di sisi utara kawasan Malioboro berharap rencana pemindahan dilakukan melalui proses dialog. Selain itu lokasi pemindahan lebih strategis dari lokasi saat ini. Jukir mengeluhkan minimnya penghasilan selama bekerja di Taman Pakir ABA.

Salah satu jukir di Taman Parkir ABA, Salim, mengatakan informasi terkait dengan rencana pemindahan lahan parkir baru diketahui lewat media. Tetapi ia berharap pemindahan dicarikan tempat yang lebih strategis, memudahkan orang menjangkau dalam memarkir motor dan tidak jauh dari kawasan Malioboro,  sehingga bisa meningkatkan penghasilan jukir, mengingat saat ini nominal yang diperoleh setiap harinya memperhatinkan.

"Kalau dipindah dari sini bisa lebih ramai dari sekarang ya tidak masalah, karena sekarang kondisinya sepi, bisa dilihat sendiri berapa motor yang parkir setiap hari," katanya saat ditemui di lantai dua Taman Parkir ABA, Sabtu (29/2/2020).

Salim juga berharap jauh sebelum dilakukan pemindahan harus digelar dialog dengan jukir. Proses penetapan kebijakan itu sebaiknya perlu melibatkan jukir agar lebih seimbang dan bisa memberikan masukan. Ia menilai pemerintah belum menepati janji sejak kesepakatan pemindahan dari Jalan Malioboro ke Taman Parkir ABA. Salim mengingat, ketika itu pemerintah berjanji menertibkan parkir di sirip Jalan Malioboro, tetapi faktanya hingga saat ini tidak berjalan. Penertiban parkir di sirip Malioboro hanya dilakukan di awal beroperasinya Taman Parkir ABA, setelah itu dibiarkan. "Sampai sekarang parkir di sirip Malioboro masih menjamur," katanya.

Saat ini penghasilan jukir hanya Rp750.000 per bulan, bahkan terkadang tidak bisa mencapai angka tersebut. Karena jumlah jukir sekitar 45 orang maka mereka harus dibagi dalam dua waktu kerja, sehingga setiap seorang jukir bekerja sekali dalam dua hari. Padahal dalam sehari hanya mendapatkan Rp30.000 hingga Rp50.000.

"Sering juga hanya mendapatkan Rp37.000, dan ini baru saja hanya memperoleh Rp48.000," katanya sembari membuka buku catatan perolehan jukir dan perolehan pendapatan harian mereka.

Penghasilan jukir tersebut terjun bebas dibandingkan saat masih beroperasi di sepanjang Jalan Malioboro empat tahun lalu.

Jukir lainnya, Iskandar, mengatakan ia tidak ingin muluk-muluk meminta kepada pemerintah dalam pengelolaan parkir. Jika ingin memindahkan Taman Parkir ABA, paling tidak lokasi baru itu strategis. Dia mengaku penghasilan sebagai jukir di Taman Parkir ABA belum bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga.

Tukang parkir lainnya, Sucipto, menyatakan kesepakatannya, bahwa pemindahan harus melalui proses dialog agar semua bisa sama-sama mendapatkan manfaat positif. Ia tidak menampik hanya hari Sabtu malam dan hari Minggu saja yang sebenarnya hasilnya lumayan. Tetapi ukuran lumayan baginya memang belum normal dari sisi nominal. "Selain malam Minggu saat Selasa Wage itu juga lumayan, tetapi ya tidak sampai penuh," kata pria yang menjadi jukir sejak tahun 2000 ini.