Dua Bulan, Kasus DBD di Bantul Melonjak hingga 253

Ilustrasi nyamuk DBD - JIBI
11 Maret 2020 15:17 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL—Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bantul terus meningkat. Selama Januari-Februari tahun ini sudah ada 253 kasus DBD yang tercatat di Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Bantul, Tri Wahyu Joko Santoso mengatakan peningkatan kasus DBD mulai terjadi sejak masuk pekan ke lima atau awal Februari lalu dari yang tadinya 50 kasus melonjak menjadi 115 kasus dan kini sampai di angka 253 kasus.

Kasus terbanyak ada di Kecamatan Sewon yakni 31 kasus; disusul Kecamatan Pandak 26 kasus; Kasihan 17 kasus; dan Banguntapan 14 kasus. "Rata-rata rentang usia yang terserang DBD ini antara 5-15 tahun," kata Tri Wahyu Joko Santoso yang biasa disapa dokter Oky, kepada Harianjogja.com, Rabu (11/3/2020).

Meski terjadi peningkatan, kata Oky, jika dibandingkan dengan 2019 lalu dalam periode yang sama jumlahnya masih hampir sama. Tingkat kesembuhan pasien penyakit akibat serangan nyamuk Aedes aegypti ini juga cukup tinggi karena kecepatan penanganan petugas kesehatan.

Kesadaran masyarakat juga sudah meningkat untuk memeriksakan diri di fasilitas kesehatan terdekat ketika mendapati gejala demam. "Sampai saat ini belum ada [penderita DBD] yang meninggal dunia dan jangan sampai ada," ujar Oky.

Dia menegaskan pentingnya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai solusi menangkal penyebaran demam berdarah dengan mengedepankan upaya 3M plus. Selain itu larvasida juga sudah disediakan di tiap puskesmas yang bisa diakses gratis oleh masyarakat. Larvasida tersebut untuk ditaburkan dalam sumur, kolam atau penampungan air lainnya dan dipastikan air yang tercampur larvasida aman dikonsumsi.

Secara berkala, dinasnya juga akan memantau kegiatan PSN di masing-masing kecamatan. Seperti misalnya pada pertengahan bulan lalu, pemantauan dilakukan oleh Dinkes bersama sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) gerakan serentak pemantauan PSN saat itu dipimpin langsung oleh Bupati Bantul Suharsono.

Dalam beberapa kesempatan Suharsono kerap menekankan pentingnya melakukan PSN. Bahkan dia meminta semua OPD untuk turun langsung bersama masyarakat melakukan gerakan PSN. "Pencegahan dan penanggulangan DBD tidak akan berhasil jika hanya mengandalkan Dinas Kesehatan tanpa dukungan lintas sektoral dan masyarakat," ujar Suharsono.

Sekedar diketahui, tahun ini juga merupakan tahun yang dikhawatirkan terjadinya lonjakan kasus DBD dalam siklus lima tahunan sebagaimana yang terjadi sebelum-sebelumnya. Angka terbanyak DBD di Bantul terjadi pada 2016 lalu yang mencapai 2441 kasus dalam setahun. Tahun berikutnya kembali menurun sebanyak 538 kasus pada 2017, dan 2018 sampai Oktober mencapai 115 kasus.

Sementara di 2019 ada 1.378 kasus DBD. Dari jumlah tersebut, empat di antaran meninggal dunia.