Wisata Bantul Bakal Berubah, Sultan Tak Ingin Ada Bangunan Permanen di Samas

Kawasan di sebelah timur Pantai Samas yang diusulkan Pemerintah Desa Srigading, Sanden, menjadi pusat pertanian, meski kawasan tersebut kini menjadi kawasan perdagangan dan jasa. - Harian Jogja/Ujang Hasanudin
11 Maret 2020 17:37 WIB Ujang Hasanudin Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL-Kawasan Pantai Samas digadang-gadang menjadi kawasan ekonomi khusus (KEK) pariwisata. Wajah Samas dipastikan bakal berubah.

Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Bantul, Isa Budi Hartomo mengatakan penataan Samas dari segi sosial dan sosialisasi ke masyarakat masih terur berlanjut, termasuk identifikasi kepemilikan lahan di kawasan tersebut. Bahkan pemetaan titik sentra kuliner, wisata, ekonomi sudah dilakukan. Tinggal eksekusinya.

"Pembangunan fisiknya harus menunggu izin KEK karena khawatir nanti tidak sesuai dengan konsep KEK," kata Isa, Rabu (11/3/2020). Termasuk jalur khusus wisata dari Samas ke barat di selatan Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS) tahun ini dihentikan dulu padahal sudah berjalan sekitar 500 meter.

Termasuk soal keberadaan rumah tinggal warga di kawasan Samas. Isa mengaku kawasan selatan JJLS nantinya tidak diperkenankan adanya bangunan permanen. Ia tidak menyebut semua bangunan rumah harus ditertibkan. "Bukan tidak boleh, tapi nanti harus menyesuaikan dengan KEK. Kalau tidak sesuai dengan konsep KEK ya dirembuk bagaimana caranya. Kalau sesuai ya monggo [silahkan]," ujar Isa.

Mantan Kepala Dinas Pertanaham dan Tata Ruang ini memastikan lahan di kawasan Samas hampir semua lahan Sultan Ground (SG).

Kepala Desa Srigading, Wahyu Widodo mengatakan jika konsep penataan tidak berubah, Samas akan menjadi terminalnya kendaraan wisatawan sehingga bangunan di kawasan tersebut akan disesuaikan bahkan sebagian harus direlokasi. Bangunan yang diperbolehkan nantinya adalah bangunan semi permanen.

Hal itu diakuinya sesuai dengan permintaan Gubernur DIY Sri Sultan HB X. "Ngarso Dalem menghendaki agar bangunan permanen diperioritaskan di utara JJLS. Kalau pun terpaksa harus ada di selatan JJLS dianjurkan bangunan semi permanen," kata Wahyu.

Kendati demikian pihaknya memiliki konsep tersendiri yang akan diusulkan ke Pemda DIY, yakni soal pemberdayaan warga kawasan Samas. Ia ingin di sepanjang pintu masuk Samas tepatnya bagian timur dibangun ruko-ruko yang tertata rapi. Ruko tersebut diakuinya menunjang keberadaan terminal karena letaknya hanya di bagian timur bakal terminal.

Selain ruko juga perlu adanya home stay untuk kebutuhan wisatawan. Home stay tersebut nantinya dikelola sekaligus ditinggali oleh warga kawasan Samas sebagai bagian dari pemberdayaan. Namun soal lokasi home stay masih perlu pembahasan apakah di utara JJLS atau selatan JJLS, "Utara JJLS memang lebih aman tapi di selatan kalau sesuai dengan konsep KEK tidak masalah, asal bangunannya menyesuaikan nanti," ujar Wahyu.

Lebih lanjut Wahyu mengatakan selain menjadi pusat perdagangan dan jasa modern di kawasan Samas, pihaknya juga menginginkan kawasan tersebut sebagai ikon pariwisata dan budaya sehingga semua konsep prmbangunan menunjukan ciri khas budaya salah satunya semua bangunan didesain jadi bangunan pendopo dan limasan. Ia berharap Samas akan kembali pada masa keemasan seperti 1990n lalu yang tenar sebagai rujukan wisata pantai sebelum adanya parangtritis.

Salah seorang warga yang tinggal di kawasan Samas, Sadino sepakat adanya penataan Samas. Ia menyadari kawasan wisata sekaligus tempat tinggalnya itu kini kumuh dan tidak tertata, "Yang tidak setuju itu digusur, kalau ditata dan dicarikan tempat tidak masalah," kata dia. Mantam Ketua RT ini juga memastikan semua lahan di kawasan Samas trrmasuk yang dibangun rumah oleh warga adalah SG.