DIY Siap Tingkatkan Produksi Gamelan Tahun Depan

Penampilan musisi Indonesia, Riki Putra bersama Eross Sheila on 7 dalam konser bertajuk Gamrockestra yang memadukan musik cadas, gamelan dan orkestra, di Concert Hall, kompleks TBY, Selasa (12/3/2019) malam. - Harian Jogja/Uli Febriarni
19 Maret 2020 07:47 WIB Abdul Hamied Razak Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Pemda DIY menargetkan untuk memproduksi perangkat gamelan pada 2021 mendatang. Langkah tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perangkat gamelan di DIY.

Kabid Industri Logam Sandang dan Aneka Dinas Perindustrian dan Perdagangan DIY Intan Mustika Ningrum mengatakan rencana produksi gamelan tersebut untuk memenuhi permintaan pasar di DIY. Termasuk menyukseskan program gubernur untuk menghibahkan gamelan ke desa-desa budaya di DIY dan juga ke luar negeri.

Selama ini, kata Intan, dengan metode tempa para perajin gamelan di DIY hanya bisa memproduksi dua set gamelan dalam satu tahun. Hal itu dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan pasar di DIY yang rata-rata 20 set gamelan. Pada akhirnya, kebutuhan gamelan di DIY diambil dari sejumlah daerah baik di Jawa Tengah maupun Jawa Timur.

Gubernur, lanjut Intan, ingin produksi gamelan di DIY bisa lebih banyak tetapi dari segi anggaran efesien. Setelah melakukan riset sejak 2015-2016 lalu, akhirnya muncul ide membuat gamelan dengan cara dicor. "Dengan metode ini diharapkan seperangkat gamelan bisa diproduksi lebih banyak lagi. Sebulan bisa satu hingga dua set gamelan," katanya usai Sosialisasi Moulding Gamelan di Quality Hotel Jogja, Rabu (18/3/2020).

Sosialisasi tersebut, kata Intan melibatkan 25 para empu yang memproduksi gamelan di wilayah DIY. Diharapkan, keterlibatan keterlibatan IKM dalam proses produksi gamelan dengan metode cor ini nantinya bisa memberikan kemudahan bagi para perajin.

Menurut Intan, ada sejumlah faktor yang menyebabkan IKM gamelan di DIY tidak berkembang. Selain masih menggunakan metode tatah, kesulitan modal produksi menjadi salah satu kendala. Dengan menggunakan metode cor, diharapkan kendala yang dihadapi bisa berkurang. Sebab untuk memproduksi gamelan dengan bahan kuningan biaya yang dibutuhkan mencapai ratusan juta rupiah.

"Nantinya, para perajin ini akan mendapatkan pelatihan lebih dulu untuk membuat gamelan dengan metode cor. Jika ini berjalan baik, maka 2021 kami bisa memproduksi gamelan sendiri dalam jumlah besar," katanya.

Dosen Fakultas Teknik UGM Eka Firmansyah mengatakan penggunaan metode cor untuk produksi gamelan memang berbeda dengan metode tempa atau tatah. Meski begitu, katanya, metode cor yang disiapkan ini tidak keluar dari koridor pembuatan gamelan. "Termasuk instrumen yang dihasilkan. Nadanya sama dengan yang dibuat tradisonal oleh para empu," katanya.

Metode tersebut, lanjut dia, juga untuk menjawab tantangan produksi gamelan saat ini di mana generasi muda enggan untuk terjun dalam industri ini. "Dengan metode ini dari segi biaya juga lebih efesien. Kekuatan yang dihasilkan juga sama, lebih efesien," katanya.