Ada Corona, Sektor Pariwisata Gunungkidul Berpotensi Rugi Ratusan Miliar

Wisatawan menikmati keindahan Pantai Watu Nene di Desa Tepus, Kecamatan Tepus, Gunungkidul, Selasa (11/6/2019) - Harian Jogja/Rahmat Jiwandono
30 Maret 2020 13:57 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Sektor kepariwisataan ikut terdampak akibat penyebaran Covid-19. Diperkirakan hingga akhir Mei kerugian diperkirakan mencapai ratusan rupiah.

Sekretaris Dinas Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan, geliat sektor kepariwisataan praktis berhenti akibat penyebaran virus Corona. Seluruh destinasi wisata di Bumi Handayani sejak beberapa waktu lalu ditutup guna mengurangi potensi penyebaran penyakit yang berasal dari China ini.

Menurut dia, berhenti beroperasinya sektor kepariwisataan tidak hanya mengancam pendapatan asli daerah dari penarikan retribusi tiket masuk. Namun perputaran uang yang dibawa pengunjung ikut berhenti. “Kami sudah buat berhitungan berapa kerugian hingga akhir Mei mendatang,” kata Hary, Senin (30/3/2020).

Dia menjelaskan, untuk PAD kepariwisataan, pemkab diperkirakan kehilangan potensi pendapatan sebesar Rp5.606.523.010. Angka ini muncul berdasarkan perencanaan target pendapatan di akhir Mei sebesar Rp10.978.379.000. Sedangkan realisasi pendapatan hingga penutupan obyek karena antisipasi penyebaran virus baru tercapai sebesar Rp5.371.855.990.

“Itu estimasi kami kerugian dari PAD wisata. Ini belum termasuk dari sektor pajak yang dilakukan oleh Badan Keuangan dan Aset Daerah [BKAD],” ungkapnya.

Menurut Hary, potensi kerugian bisa lebih besar lagi terutama menyangkut pelaku usaha di bidang kepariwisataan. Diperkirakan jumlah kerugian hingga akhir Mei bisa mencapai Rp94.943.250.000.

Ia menjelaskan, ada beberapa indikator untuk perhitungan potensi kerugian ini. Selain mengacu pada target jumlah pengunjung hingga akhir Mei dikurangi realisasi kunjungan hingga saat ini, pengitungan juga mengacu pada hasil survei belanja pengunjung di triwulan empat 2019.

Berdasarkan hasil survey diketahui rata-rata belanja di sekitar destinasi mencapai Rp125.000 per pengunjung. “Ini jadi dasar kami untuk menghitung potensi kerugian akibat corona,” tutur mantan Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata ini.

Lebih jauh dikatakan Hary, untuk target kunjungan hingga akhir Mei sebanyak 1.440.868 orang. Sedangkan realisasi pengunjung hingga sekarang mencapai 681.322 orang. Praktis dengan adanya penutupan destinasi, maka jumlah kunjungan tidak bertambah. “Hingga akhir Mei diperkirakan ada selesih 759.546 pengunjung. Angka ini kita kalikan dengan besaran belanja per pengunjung sehingga ditemukan potensi kerugian mencapai Rp94,9 miliar,” imbuhnya.