Serangan Hama Tak Ganggu Hasil Panen Padi di Gunungkidul

Seorang petani di Dusun Karangsari, Desa Karangrejek, Wonosari, memanen padi varietas baru ZR, Rabu (19/2/2020). - Harian Jogja/Muhammad Nadhir Attamimi
01 April 2020 20:17 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul memastikan serangan hama tidak mengganggu hasil panen padi secara keseluruhan di musim tanam pertama. Diprediksi masa panen berlangsung hingga akhir April 2020.

Kepala Bidang Tanaman Pangan DPP Gunungkidul, Raharjo Yuwono, mengatakan secara umum proses masa tanam di musim pertama berjalan baik. Meski demikian, ia tidak menampik di beberapa lokasi ada laporan serangan hama. Tetapi kondisi tersebut tidak mengganggu hasil panen secara keseluruhan. “Ada hama tetapi bisa dikendalikan. Hasil laporan dari petugas di lapangan, untuk wilayah utara dan selatan hasil panen bagus,” kata Raharjo kepada wartawan, Rabu (1/4/2020).

Menurut dia, ada beberapa jenis hama yang menyerang tanaman mulai dari tikus, kresek hingga wereng. Khusus untuk wereng, petani diminta segera memanen karena padi sudah masuk masa panen. “Ada permintaan bantuan pestisida untuk membasmi wereng, tetapi kalau umur padi sudah tua lebih baik dipanen secepatnya,” katanya.

Ia optimistis target produksi gabah kering seberat 264.054 ton bisa terlampaui. Keyakinan ini tak lepas dari kondisi perkembangan tanaman serta masa panen yang masih berlangsung hingga akhir April. “Saya yakin target bisa tercapai,” katanya.

Salah seorang petani di Dusun Plumbungan, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Harmini, mengaku hasil panen yang diperoleh tidak sesuai dengan harapan lantaran ada serangan wereng yang membuat hasil panen tak optimal.

Ia mencontohkan di musim panen sebelumnya dua petak lahan yang ditanami padi bisa menghasilkan tujuh karung gabah. Untuk saat ini dia hanya memperoleh dua karung gabah. “Sudah saya panen dan hasilnya jauh menurun,” katanya.

Meski tidak menyebutkan nominal kerugian, Harmini mengaku serangan hama wereng tetap memengaruhi hasil panen. “Yang jelas panen yang dihasilkan tidak bisa menutupi biaya yang kami keluarkan untuk benih dan pemeliharaan,” katanya.