Pelaksanaan Ceng Beng di Rumah Tak Kurangi Makna

Warga keturunan Tionghoa membersihkan makam leluhurnya, menjelang peringatan Cheng Beng, di Pemakaman Gunung Sempu, Sembungan, Bangunjiwo, Kasihan, Rabu (27/3)./ Harian Jogja - Herlambang Jati Kusumo
02 April 2020 07:22 WIB Herlambang Jati Kusumo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Pelaksanaan Ceng Beng atau Qing Ming untuk menghormati leluhur yang dilaksanakan di rumah tidak akan mengurangi maknanya. Langkah ini ditempuh untuk mematui imbauan pemerintah demi memutus rantai penyebaran virus Corona. 

Secara umum, pelaksanaan Ceng Beng dilakukan keluarga keturunan Tionghoa dengan mengunjungi makam leluhur, membersihkan dan mengirim doa. Tahun ini Ceng Beng dan jatuh pada Minggu (5/3). “Melihat adanya Corona, pelaksanaan [Ceng Beng] di rumah saja, tidak mengurangi maknanya,” ujar Ketua Ketua I Jogja Chinees Arts & Culture Centre (JCACC), Jimmy Sutanto, Rabu (1/4).

Jimmy mengimbau kepada warga keturunan Tionghoa untuk mengirim doa untuk para leluhur dari rumah dan tidak membuat kerumunan sesuai anjuran dari pemerintah.  “Ceng Beng pada dasarnya untuk mengingat-ingat leluhur, dan rasa hormat. Kondisi saat ini kan luar biasa, semua pihak harus menjaga agar penyebaran virus tidak semakin luas,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan Cici Jogja 2020, Catherine Presilia Gunawan yang mengatakan rencana Ceng Beng yang semula digelar di Gunung Sempu diundur. “Akan ditunda dulu karena kondisi yang tidak memungkinkan dan menunggu kebijakan selanjutnya,” ujar Catherine.

Sebelumnya, dia menjelaskan Ceng Beng adalah waktu bagi masyarakat keturunan Tionghoa berziarah ke makam leluhur untuk membersihkan dan sembayang atau berdoa. “Biasanya disertai dengan membawa makanan yang di sajikan dan menaburkan bungan di altar makam, hal ini sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur atau keluarga yang sudah meninggal,” ujarnya.

Dilansir dari tionghoa.info, menurut cerita rakyat, asal mula ziarah kubur atau tradisi Ceng Beng ini sudah berasal sejak jaman Dinasti Han (202 SM – 220 M). Perlahan tradisi ini mulai populer pada zaman Dinasti Tang (618-907), tepatnya pada masa kepemimpinan Kaisar Xuanzong. Namun penggunaan kertas yang diletakkan di atas kubur, sebagai tanda bahwa kubur sudah dibersihkan atau dikunjungi oleh keluarga, berawal dari zaman kekaisaran Zhu Yuan Zhang, pendiri Dinasti Ming (1368-1644M).