Satu Keluarga di Bantul Ditolak Warga karena Khawatir Bawa Virus Corona

Foto dari bentuk tiga dimensi model Virus Corona. - Reuters/ Dado Ruvic
02 April 2020 16:17 WIB Newswire Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL--Stigma buruk terhadap pemudik di tengah wabah Covid-19 memicu konflik sosial.

Satu keluarga yang baru saja melakukan perjalanan dari Bandung mendapat penolakan ketika mereka akan mudik ke rumah kontrakan mereka di salah satu Dusun di Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Kabupaten Bantul. Warga setempat menolak karena khawatir kedatangan satu keluarga ini membawa virus Corona.

Kepala Desa Sumbermulyo, Anik Widanati mengungkapkan satu keluarga yang terdiri dari 5 orang itu merupakan warga yang mengontrak di salah satu padukuhan di Desa Sumbermulyo. Akhir pekan kemarin keluarga ini baru saja tiba dari perjalanan melakukan sebuah pekerjaan di wilayah kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Pemilik kontrakan sebelumnya menolak jika keluarga yang baru saja mudik tersebut langsung tinggal di kontrakannya. Tak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, maka pihak desa pun langsung turun tangan. Pihak desa berusaha mengkarantina satu keluarga tersebut di satu lokasi.

"Agar tidak terjadi gejolak maka kami karantina terlebih dahulu selama 14 hari," ujar Anik, Kamis (2/4/2020) saat peresmian. Rumah Karantina Desa Sumbermulyo.

Menurut Anik, Pemerintah Desa Sumbermulyo Kecamatan Bambanglipuro Bantul berupaya melakukan antisipasi penyebaran virus Corona. Dalam penanganan dan penanggulangannya, mereka membuat gebrakan dengan memberikan surat edaran Menteri Desa PDT dan Transmigrasi nomor 8 tahun 2020 yang mengamanahkan agar semua desa mempunyai ruang isolasi Desa.

Anik menambahkan, berdasar surat edaran tersebut, pihaknya langsung membentuk Tim Satgas Siaga Office 19 Kelurahan Sumbermulyo. Tim Satgas Siaga ini lantas menentukan dan membuat gedung karantina desa. Di mana gedung ini terletak jauh dari pemukiman tetapi dekat dengan pusat kesehatan masyarakat sehingga memudahkan untuk kontrolnya.

"Ini adalah gedung BUMDes tetapi karena adanya wabah virus corona maka gedung untuk sementara tidak digunakan kemudian digunakan oleh Satgas desa sebagai tempat karantina," ungkapya.

Gedung tersebut untuk mengkarantina masyarakat yang mudik maupun perantau yang pulang ke Sumbermulyo tetapi ada kendala antara lain tidak diterima oleh masyarakat atau karena rumah yang dituju itu ada balita kemudian lansia sehingga rentan terhadap virus corona.

Gedung ini memiliki 5 ruangan dan mampu menampung 20 orang, meski nanti ada pembatasan. Selain gedung BUMDes, Sumbermulyo juga mempunyai tiga rumah karantina yaitu satu ada di rumah penduduk dan gedung serbaguna milik desa.

"Untuk konsumsi atau makan sehari-hari ditanggung oleh Satgas Desa Sumbermulyo makan 3 kali sehari kemudian untuk kesehatan kami bekerja sama dengan Puskesmas Kecamatan Bambanglipuro. Anggaran per orang satu kali makan Rp 12.500," paparnya.

Sejak diperintahkan oleh Menteri Desa dan PDT, pihaknya langsung melakukan realokasi anggaran. Pihaknya memangkas program-program yang tidak bisa dilaksanakan seperti program pelatihan untuk warga. Untuk penanganan wabah virus corona ini, pihaknya menganggarkan Rp203 juta yang diambilkan dari APBDes. Selain karantina, pihaknya juga memberikan bantuan sembako kepada warga miskin berupa beras dan minyak goreng.

Sebelumnya Guru Besar Psikologi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Profesor Koentjoro menuturkan masyarakat Indonesia masih banyak yang belum paham dengan penyebaran virus corona baru ini. Hal ini tampak dengan masyarakat yang justru melakukan kumpul-kumpul saat menutup akses kampung dan mengabaikan anjuran physical distancing.

"Padahal wabahnya tidak terlihat. Ini bukan seperti menjaga maling, jaga pendatang baru, bukan begitu. Ketika wabah itu ada di antara mereka sendiri, wabah ini bisa segera menular pada kelompoknya," kata Koentjoro, Rabu (1/4/2020).

Untuk itu, Koentjoro menegaskan pada masyarakat untuk patuh melakukan jaga jarak fisik serta membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan di luar rumah sebisa mungkin dikurangi. "Masalahnya bukan ketika ada pendatang itu orang lokal atau bukan orang lokal, bukan itu. Tapi bagaimana membatasi interaksi fisik," jelasnya.

Ia yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Guru Besar UGM ini berharap pengetahuan dasar mengenai penularan Covid-19 itu bisa membuat masyarakat tidak memberi stigma negatif pada ODP, PDP, maupun tenaga kesehatan. Koentjoro mengaku prihatin dengan praktik penolakan warga di beberapa daerah terhadap ODP, PDP, maupun tenaga kesehatan sampai mereka dikucilkan dari lingkungannya

Kepada masyarakat, ia juga meminta untuk masing-masing sadar diri untuk menjaga kesehatan dan sementara perbanyak aktivitas dari rumah. "Masing-masing orang juga saya harap bisa menempatkan diri, bisa melihat siapa dirinya. Misal usia sudah tua, punya penyakit bawaan, lebih baik tidak keluar rumah," katanya.

Sumber : Suara.com