Kali Oya di Semin Mengering Akibat Kemarau Panjang, Warga Hanya Temukan Hamparan Pasir
Kemarau panjang membuat sejumlah titik Kali Oya di Semin Gunungkidul mengering. Debit air menyusut drastis hingga hanya menyisakan pasir dan batuan.
Ilustrasi mencuci tangan. /REUTERS-Mariana Bazo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Ketua Komisi A DPRD Gunungkidul, Ery Agustin Sudiyanti, menilai kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya pencegahan Covid-19 patut mendapat apresiasi. Pasalnya, masyarakat sangat peduli serta bahu membahu dalam pencegahan di wilayah masing-masing
Meski demikian, ia mengakui masyarakat harus tetap diberikan edukasi sehingga upaya pencegahan bisa dimaksimalkan dan tidak menimbulkan permasalahan baru. Menurut dia, selama pandemi jajarannya terus turun ke bawah dengan melihat kondisi pencegahan di sejumlah desa di Gunungkidul. “Responsnya bagus karena semua sudah mengantisipasi penyebaran Corona,” kata Ery, Selasa (7/4/2020).
Dia mencontohkan, di Desa Planjan, Kecamatan Saptosari, masyarakat membuat jadwal bergiliran untuk menjaga pos pemantauan Covid-19. Selain itu, pelayanan di desa maupun kecamatan juga memperhatikan jarak sehingga menghindarkan adanya kerumunan. “Kesadaranya sudah baik. Buktinya sejumlah desa aktif mendata pemudik,” katanya.
Kesadaran yang baik dari masyarakat ini harus diikuti keaktifan dari Pemkab untuk terus melakukan sosialisasi agar upaya pencegahan dapat dimaksimalkan. Edukasi kepada masyarakat berkaitan dengan kebiasaan pola hidup bersih sehat, makanan sehat bergizi hingga cuci tangan dengan sabun harus terus diberikan. Selain itu, masyarakat juga diberikan pemahaman terkait dengan penyemprotan cairan disinfektan yang baik benar.
“Terkesan sepele tetapi perhatian dengan memberikan edukasi maka masyarakat bisa paham sehingga program pencegahan bisa berjalan dengan baik tanpa menimbulkan masalah baru,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul, Dewi Irawaty, mengatakan jajarannya berkomitmen untuk terus menyosialisasikan pencegahan Covid-19 ke masyarakat. Hal ini penting karena upaya pencegahan tidak akan maksimal tanpa ada peran dan partisipasi dari masyarakat.
Dewi menjelaskan salah satu hal yang diperhatikan yakni penggunaan cairan disinfektan. Menurut dia, penyemprotan tidak bisa dilakukan sembarangan karena bisa memberikan efek negatif salah satunya saat terkena tubuh. “Penyemprotan tidak boleh sembarangan karena kalau kena mata atau mulut malah bisa berbahaya. Selain itu takarannya juga harus sesuai dengan aturan,” katanya.
Untuk penggunaan masker, Dewi meminta masyarakat tidak ngotot mencari masker standar medis. Untuk perlindungan diri warga bisa menggunakan masker kain. “Masker kesehatan biar digunakan oleh tenaga medis yang membantu dalam penangan Corona, untuk masyarakat bisa menggunakan masker kain agar tidak ada kelangkaan untuk petugas medis,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kemarau panjang membuat sejumlah titik Kali Oya di Semin Gunungkidul mengering. Debit air menyusut drastis hingga hanya menyisakan pasir dan batuan.
Penjualan mobil nasional menembus 850.000 unit pada 2026, didukung pertumbuhan pasar, ekspor, dan kendaraan elektrifikasi.
Karhutla Gunung Semeru meluas ke tujuh titik di kawasan TNBTS. Dua helikopter dikerahkan untuk water bombing ke area sulit dijangkau.
Greenhost Boutique Hotel Yogyakarta Kembali menghadirkan ruang apresiasi seni melalui pameran lukisan bertajuk “Suara Alam
Anggaran MBG 2026 dipangkas dari Rp335 triliun menjadi Rp229 triliun. Realisasi hingga 27 Agustus mencapai Rp117 triliun.
PTDI optimistis N219 mampu merebut pasar pesawat 19 penumpang global dengan TKDN hampir 45 persen dan mendukung konektivitas wilayah 3T.