Dinkes Ingin Telusuri Ada Tidaknya Transmisi Lokal Covid-19 di Sleman

Warga beraktivitas mengenakan masker. - Harian Jogja/Desi Suryanto
15 April 2020 21:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN- Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyiapkan kajian untuk memastikan apakah wilayah Sleman sudah terjadi transmisi lokal kasus Covid-19. Kejadian epidemiologi ini dibutuhkan untuk menentukan kebijakan Pemkab Sleman ke depan.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hartaryo mengatakan Dinkes akan melakukan kajian epidemiologis terkait perkembangan kasus Covid-19 di Sleman. Hal ini dilakukan untuk memastikan apakah benar wilayah Sleman telah terjadi transmisi lokal.

Joko menjelaskan transmisi lokal terjadi jika satu pasien positif menulari pasien positif lainnya, kemudian pasien positif kedua ini menulari pasien positif ketiga. "Kami akan mengundang kajian epidemiologi ini dengan pakar dari UGM. Hasil kajiannya nanti akan menentukan kebijakan ke depan," kata Joko, Rabu (15/4/2020).

Menurutnya, perkembangan kasus Covid-19 di Sleman sampai saat ini belum terpola dengan jelas. Namun berdasarkan tracking yang dilakukan Dinkes Sleman terhadap pasien positif Covid-19, sampai saat ini di Sleman belum terjadi transmisi lokal. "Semua kasus positif di Sleman masih tergolong imported case. Baik dari daerah terjangkit maupun kontak erat dengan pasien positif. Semua kasus Covid-19 masih generasi ke dua, tertular oleh orang dari daerah terjangkit," katanya.

Jika sudah generasi ketiga dari satu klaster baru, kata Joko hal itu baru bisa disebut terjadi transmisi lokal. Oleh karenanya, Dinkes akan melakukan kajian dan membuktikan epidemiologis telah terjadi transmisi lokal atau tidak.

"Jika terjadi penularan setempat di Sleman, tentu ada kebijakan. Tapi tidak seperti yang di Jakarta dengan PSBB. Sebab di Jakarta kasus Covid-19 terjadi massif. Orang ke rumah sakit atau ke pasar saja bisa tertular," kata Joko.

Jika terjadi transmisi lokal, katanya, Dinkes hanya akan melakukan isolasi di wilayah yang terjadi kasus transmisi lokal saja. Menurutnya, banyak faktor yang harus dikaji untuk menentukan status karantina wilayah. "Pertimbangannya lebih ke surveilans epidemiologi, meski ada aspek sosial dan lainnya. Jadi tunggu saja hasil kajiannya seperti apa," kata Joko.