Layak Dicontoh! Pemuda Asal Bantul Ini Batalkan Mudik karena Sayang Ortu

Jangan Mudik!
22 April 2020 23:07 WIB Nugroho Nurcahyo Bantul Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Kisah pemuda berusia 27 tahun asal Bantul yang mengadu nasib di Tangerang, Banten, ini bisa jadi contoh bagi calon pemudik yang masih ngotot menyalurkan hasrat tak terbendung pulang ke kampung halaman di masa pandemi Corona.

Damar Setiawan, nama pemuda itu, pada Rabu (22/4/2020), mantap membatalkan pemesanan tiket kereta api yang sudah dia dapatkan sejak pertiga akhir Februari lalu. Damar berencana mudik Lebaran ke Bantul pada 21 Mei mendatang dan kembali ;agi ke Tangerang pada 31 Mei.

Ada alasan emosional yang membuatnya rela menahan hasrat berlebaran di kampung halamannya di Jadan, Tamantirto, Kasihan, Bantul, itu pada masa pandemi Corona ini. ”Saya sayang keluarga saya. Saya masih mau Lebaran bareng orang tua untuk tahun-tahun berikutnya,” ujar pria yang bekerja di sebuah pabrik ban di Tangerang itu kepada Harianjogja.com, Rabu.

Dia mengaku selama sewindu merantau ke Tangerang, ia selalu mudik Lebaran naik kereta api, dan baru kali ini dia melewatkan Lebaran di kampung halaman.

Di perantauan, Damar  setia mencecap informasi seputar kampung halamannya. Ia mendapati beberapa kasus kematian akibat Covid19 di DIY dan sekitarnya, rata-rata karena keluarga baru pulang dari daerah Jabodetabek. Dan Kasihan, saat ini juga menjadi kecamatan paling banyak ditemukan kasus Covid-19 di Projo Tamansari.

Kendatipun saat ini ia merasa sehat dan tidak merasa terjadi apa-apa walau tinggal di daerah Zona Merah yang menerapkan PSBB, dia tak bisa menjamin tubuhnya bebas dari paparan virus SARS-Cov2 penyebab Covid-19. “Kalau saya maksa pulang dan ternyata membawa virus, bapak ibu saya yang sudah berusia 60-an tahun akan terancam. Efek paling naudzubillah adalah kematian. Saya tidak mau tahun-tahun berikutnya tidak bisa Lebaran dengan mereka,” ujarnya.

Damar hendak menyampaikan pesan kepada para perantau yang masih hendak memaksakan melepas kangen pada keluarga di kampung halaman tahun ini. “Pesan buat dulur-dulur yang tetap memaksakan mudik, kalau kalian sayang keluarga kalian semoga kalian bisa berubah pikiran dan menunggu sampai wabah ini berakhir untuk mudik. Patuhi peraturan pemerintah, dan selalu jalankan protokol-protokol pencegahan Covid19.”

Pemerintah telah melarang mudik terhitung sejak Jumat (24/4/2020). Larangan ini direspons Pemda DIY dengan melarang kendaraan pemudik dari zona-zona merah masuk ke DIY terhitung mulai 24 April. Kepala Dinas Perhubungan DIY Tavip Agus Rayanto menjelaskan larangan akan diterapkan untuk memutus mata rantai persebaran virus Covid-19. Yang dimaksud dengan zona merah, katanya, adalah daerah-daerah yang sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar.

Dishub DIY, kata dia, sejak 11 April lalu sudah membangun posko-posko gabungan di wilayah-wilayah perbatasan. Selain di Kecamatan Tempel yang berbatasan langsung dengan wilayah Magelang, posko gabungan juga didirikan di perbatasan Prambanan-Klaten dan perbatasan Wates-Purworejo.