Covid-19 Sudah Menular di Antara Tetangga Satu Dusun di Wonosari, Masyarakat Jangan Lengah

Ilustrasi - Freepik
22 April 2020 15:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Penularan penyakit Covid-19 oleh orang-orang yang tinggal di lingkungan yang sama di DIY makin sering terjadi. Meski demikian, pemerintah belum menyebut adanya transmisi lokal karena kesulitan melacak penyebaran virus Corona.

Pada Senin (20/4/2020), Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja mengungkapkan penularan Covid-19 dari dokter yang beralamat di Kecamatan Gondokusuman kepada istri dan anaknya. Dokter tersebut terinfeksi Corona setelah menjalin kontak dengan pasien Covid-19 yang dia tangani. Sehari kemudian, Selasa (21/4/2020), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gunungkidul mengungkapkan penularan Covid-19 oleh sesama warga di satu dusun di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul Dewi Irawaty mengimbau masyarakat terus menjalankan protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid-19 karena ancaman transmisi lokal penyakit yang disebabkan virus Corona tersebut semakin besar.

“Tiga pasien adalah tetangga satu dusun dan ada kontak di antara mereka,” kata Dewi kepada wartawan, Rabu (22/4/2020).

Perempuan berusia 74 tahun dari Kecamatan Wonosari yang diduga terinfeksi Corona setelah pulang dari hajatan di Wonogiri, Jawa Tengah, dan diidentifikasi sebagai pasien Kasus 58 oleh Pemda DIY ternyata menulari dua tetangganya lainnya.

Dewi Irawaty mengatakan dua pasien positif Covid-19 terbaru di kabupaten tersebut diketahui berdasarkan hasil tes swab. Sebelumnya, Dinkes Gunungkidul mengambil spesimen lima orang yang menjalin kontak dengan pasien Kasus 58.

“Yang dinyatakan positif Covid-19 hanya dua. Tiga lainnya negatif,” katanya kepada wartawan.

Pengambilan spesimen dilakukan karena pasien Kasus 58 menjalin kontak dengan 33 orang. Berdasarkan tes cepat (rapid test), lima orang menunjukkan indikasi positif Covid-19. “Sehingga dilanjutkan tes swab untuk kepastian. Ternyata, setelah hasil swab keluar, dua orang dinyatakan positif Corona,” ungkapanya.

Keduanya diidentifikasi sebagai pasien Kasus 72 dan Kasus 73. Kasus 72 adalah laki-laki berusia 50 tahun, sedangkan Kasus 73 perempuan berusia 73 tahun. Keduanya tidak mengalami gangguan kesehatan atau masuk kategori orang tanpa gejala (OTG) Covid-19. Namun, mereka langsung dirujuk ke RSUD Wonosari untuk diopname. “Kondisinya baik karena tidak ada keluhan,” katanya.

Dia mengatakan penetapan transmisi lokal, salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk mengajukan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), butuh kajian mendalam.

“Masih dikaji dan kami harus konsultasi dengan Pemerintah DIY. Yang jelas, potensi penyebaran harus terus diwaspadai sehingga dampaknya bisa semakin ditekan,” ungkapnya.

Sebelum pasien Kasus 58 dinyatakan positif terinfeksi Corona, suaminya meninggal dunia dalam status sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

Di Gunungkidul sudah ada lima kasus positif Covid-19. Dua pasien lainnya adalah warga Ponjong dan Playen yang sudah dinyatakan sembuh dan berdasarkan penelusuran tidak menulari orang lain di kabupaten tersebut.

 71 Kasus

Tambahan dua pasien positif Covid-19 di Wonosari membuat total kasus positif Covid-19 yang tercatat oleh Pemda DIY menjadi 71. Selasa kemarin, ada tambahan tiga kasus Covid-19. Selain dua warga Wonosari, satu pasien lainnya adalah laki-laki 54 tahun warga Kota Jogja yang diidentifikasi sebagai Kasus 74.

Juru Bicara Pemda DIY untuk Penanganan Covid-19 Berty Murtiningsih mengatakan kronologi penularan ketiga kasus positif tersebut masih ditelusuri.

“Kasus 74 dalam riwayat hanya tertulis kontak dengan kasus positif, masih ditelusuri,” kata dia.

Berty juga enggan mengomentari kasus dokter di Gondokusuman, Kota Jogja, yang menularkan Covid-19 kepada istri dan anaknya.  Sampai sekarang, Pemda DIY belum menetapkan adanya transmisi lokal meski sudah ada penularan Covid-19 di lingkungan yang dekat.

Wakil Ketua Sekretariat Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 DIY Biwara Yuswantana menyatakan butuh kajian epidemiologi untuk menetapkan transmisi lokal. Menurutnya hingga Selasa kemarin belum ada hasil kajian apakah penularan Covid-19 antarwarga di DIY termasuk transmisi lokal atau tidak.

“[Soal penularan pasien ke dokter] Perlu dicek lebih lanjut seperti apa tracing-nya di rumah sakit. Karena transmisi lokal itu kan penularan ke generasi ketiga dan ada ketentuannya. Kontaknya seperti apa kan harus jelas, betul enggak kira-kira [penularannya] dengan pasien itu, sehingga perlu ada kajian,” ujarnya.

Adapun Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Jogja Heroe Poerwadi menyatakan dokter yang menularkan Covid-19 kepada istri dan anaknya memang menjalin kontak dengan pasien. Sementara, pasien Covid-19 tersebut bukan warga Kota Jogja, sehingga Pemkot Jogja belum mendapatkan data lengkap kondisinya. Contact tracing pasien tersebut dilakukan oleh dinkes di daerah lain dan Heroe enggan menjelaskannya.

“Kami belum dapat memastikan, yang jelas [pasien yang melakukan kontak dengan dokter itu] bukan warga Kota Jogja. Jadi sampai sekarang belum jelas pasien mana yang menularkan, karena dokter itu memeriksa banyak pasien. Tapi tidak tahu pasien yang mana,” ucapnya.

Wakil Wali Kota Jogja ini menegaskan penularan Covid-19 dari dokter kepada istri dan anaknya bukan termasuk transmisi lokal karena tidak bisa dikategorikan sebagai penularan dari generasi kedua ke generasi ketiga.

“Penularan yang terjadi dari dokter kepada istri dan anaknya masih dalam lingkup satu keluarga.  Transmisi lokal itu bukan dari penularan individu tetapi pada relasi sosial yang luas, misalnya dari luar kota ke keluarga, terus anggota keluarga menularkan ke rekan kerja atau teman-teman atau tetangganya. Kalau masih keluarga belum transmisi lokal,” ucapnya.

Menurutnya, kajian epidemiologi yang bisa menentukan adanya transmisi lokal belum selesai. “Karena harus melihat jaringannya dan potensi lokus kejadiannya.”

Pelacakan kemungkinan penularan Covid-19 dalam satu kawasan juga dilakukan di Sleman. Sebanyak 29 warga Perumahan Kanisius, Dusun Jetis, Widodomartani, Ngemplak, Sleman telah menjalani rapid test yang dilakukan petugas Puskesmas Ngemplak, Rabu (15/4/2020) lalu.

Sebelumnya, 87 warga dari 27 keluarga menjalani isolasi mandiri setelah punya riwayat kontak dengan L, laki-laki berusia 63 tahun yang ditetapkan positif Covid-19 pada 13 April lalu.

Ketua RW 67 Dusun Jetis, Widodomartani, Ngemplak, Sleman Trihusada Wardana mengatakan 29 warga sudah menjalani rapid test hasilnya negatif.  Warga yang belum menjalani tes cepat dites pada Rabu (22/4/2020) ini.

Sebanyak 87 warga yang terpaksa harus melakukan isolasi mandiri terdiri atas 25 orang yang pernah  bekerja bakti dengan L dan warga lain yang mengantarkan L ke rumah sakit dan tukang pijat.

"L sudah keluar masuk rumah sakit karena perutnya bermasalah,” kata Tri.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo mengatakan L diduga terinfeksi Covid-19 seusai melakukan perjalanan dari luar DIY. "Kalau tidak salah yang bersangkutan pernah melakukan perjalanan ke Jakarta atau Bogor," ujar Joko.

Sebelumnya, Joko mengatakan L terinfeksi Corona setelah menerima tamu dari daerah yang terkena dampak virus.