Tracing Klaster Jemaah Tabligh Terus Dilakukan, Belum Ada Penambahan Kasus

Petugas kesehatan mengambil sampel darah warga saat Rapid Test COVID-19 di Taman Balai Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (4/4/2020). - ANTARA FOTO/Novrian Arbi
06 Mei 2020 01:57 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Tracking, tracing dan rapid test bagi jemaah tabligh dan yang berinteraksi dengan WN India menjadi salah satu fokus utama Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman saat ini.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan pelacakan kepada anggota jemaah tabligh yang melakukan kontak erat dengan pasien positif Covid-19 terus dilakukan. Rapid test masif juga dilakukan melalui Puskesmas secara senyap.

Artinya, ketika hasil pelacakan menemukan anggota jemaah Tabligh yang perlu dirapid test petugas pun melakukan tes cepat. "Hingga kini sudah ada 410 orang dari kelompok jemaah tabligh yang dirapid test. Hasilnya tidak ditemukan penambahan kasus positif Covid-19. Titik fokus ini utamanya klaster jemaah tabligh," kata Joko, Selasa (5/5/2020).

Bagi yang reaktif saat menjalani rapid test, maka Puskesmas meminta dilakukan pemeriksaan swab di rumah sakit rujukan Covid-19. Sebaliknya, bagi yang tidak reaktif saat di rapid test artinya tidak ada paparan Corona. "Mereka ada yang di Karangwuni, Condongcatur, Cangkringan, Prambanan dan yang lainnya," kata Joko.

Klaster ini, kata Joko, merupakan hasil dari pengembangan yang dilakukan di Masjid Al Ittihad. Di sana hasil rapid test menunjukkan empat warga positif selain empat WN India. Berdasarkan hasil tracing yang dilakukan tidak ada penambahan kasus di sana.

Begitu juga dengan tracing yang di Cangkringan. Meskipun beberapa warga yang dirapid test menunjukkan reaktif, namun hasil swab justru positif negatif. Adapun di Gamping, hasil tracing di sana juga menunjukkan belum ada penambahan kasus.

"Kami sudah berkomunikasi dengan Camat, Puskesmas, Kementerian Agama, maupun KUA di Sleman. Berdasarkan informasi, jemaah tabligh ini sejak pertengahan Januari lalu sudah tidak ada yang melakukan pertemuan," kata Joko.

Meskipun begitu, dia berharap agar jemaah tabligh dan warga aktif untuk memeriksakan diri apabila mengalami gejala-gejala Covid-19. Pemeriksaan sendiri bisa dilakukan di Puskemas maupun rumah sakit. "Pola penelusuran kami fokus ke titik penyebaran, kami kejar terus," katanya.

Dijelaskan Joko, jumlah pasti berapa warga dan jemaah tabligh yang dirapid test, berapa yang reaktif kemudian diswab ini belum bisa dilaporkan oleh masing-masing Puskesmas. "Kalau jumlah dan hasilnya yang lebih spesifik, nanti biar dipilah teman-teman [Puskemas] dulu," papar Joko.

Penanggungjawab Posko Informasi Satgas Covid-19 Sleman Novita Krisnaeni menjelaskan jika data RDT sampai saat ini masih menjadi satu. Dinkes belum memisahkan mana yang masuk klaster jemaah Tabligh dan mana yang bukan. Tapi dia memastikan jika data tersebut ada. "Cuma belum kami pisahkan karena sampai saat ini pelaksanaan RDT masih terus berproses," kata Novi.

Disinggung soal hambatan atau kesulitan yang dihadapi petugas untuk menelusuri klaster Jamaah Tabligh tersebut, Novi mengklaim selama ini tidak atau belum menemukan hambatan. Selain di wilayah Depok, katanya, fokus pelacakan juga dilakukan di wilayah Mlati. "Kalau untuk Gamping, sementara belum kami lanjutkan lagi," kata Novi.

Sekadar diketahui, screening masif dilakukan Dinkes Sleman menyusul ditemukannya klaster WN India dan jemaah Tabligh di Sleman. Fakta ini menyeruak ketika empat WN India dinyatakan positif Covid-19. Begitu juga dengan puluhan warga yang terkait dengan klaster ini dirapid test, empat orang pun dinyatakan positif Covid-19.