Bocah Penjual Snack di Jalan Kaliurang Ini Harus Berebut HP untuk Sekolah Online

Olivia Febriani beserta keluarganya menjual makanan ringan di Jalan Kaliurang, Sleman, Rabu (6/5/2020). Suarajogja.id - Ilham Baktora]
07 Mei 2020 11:27 WIB Newswire Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Tidak semua siswa dapat menjalankan kebijakan pemerintah untuk bersekolah secara daring di tengah wabah Covid-19. Sebab, tidak semua siswa memiliki gawai yang mumpuni bahkan harus berebut dengan saudaranya.

Hal inilah yang dirasakan salah seorang seorang siswa SD yang viral di Sleman belum lama ini. Olivia Febriani, bocah penjual snack di pinggir Jalan Kaliurang KM 5 menjadi perhatian masyarakat karena tetap berjualan membantu keluarganya di tengah wabah Corona.

Olivia yang masih duduk di bangku SD ini, harus bergantian dengan saudaranya untuk menggunakan smartphone untuk mengiktui pembelajaran dari rumah.

"Di rumah yang punya handphone hanya bapak. Kakak saya yang kelas 1 SMP juga harus menggunakan hp untuk mengirim tugas sekolah. Jadi harus bergantian," kata Olivia ditemui wartawan di lokasi berjualannya, Rabu (6/5/2020).

Gadis cilik kelahiran 5 Februari 2011 ini mengaku kesulitan saat mengikuti kegiatan belajar dari rumah. Ia justru lebih merasa senang belajar di sekolah.

"Masih enak belajar di sekolah, bertemu teman dan bisa bermain-main. Tapi pas sekolah diliburkan dan belajar di rumah rasanya kurang. Jika di rumah belajarnya hanya diberi tugas dan tidak bisa bertemu teman-teman," katanya.

Penggunaan handphone selama belajar dari rumah menjadi kendala tersendiri bagi Olivia. Ibu Olivia, Sulimah, 29, menuturkan, harus pintar-pintar mengatur penggunaan handphone untuk kedua anaknya.

"Dulu memang sempat meminjam handphone saudara, jadi bukan tetangga. Karena memang membutuhkan alat untuk mengirim tugas dan mengetahui informasi sekolah saya pinjam terlebih dahulu. Seiring berjalannya waktu, suami saya punya handphone dan sekarang sudah lebih mudah meski harus bergantian," kata Sulimah.

Ia menjelaskan, Olivia lebih sering mengerjakan tugas dengan tulisan nantinya difoto dan dibagikan ke grup media sosial sekolah.

"Sementara di sekolah Oliv, guru-guru meminta untuk memfoto hasil pengerjaan tugas siswanya. Tapi untuk anak saya yang kelas 1 SMP beberapa tugas harus dikerjakan secara online. Jadi ketika Oliv selesai mengerjakan tugas, hp suami saya yang digunakan Imam dipinjam dahulu untuk mengirim tugas itu," kata dia.

Perihal ini, Sulimah mengaku belum ingin membicarakan dengan pihak sekolah lantaran Olivia masih bisa mengerjakan tugas meski harus berbagi dengan saudaranya.

Meski kesulitan dalam pembelajarannya, anak 9 tahun ini cukup aktif diluar kegiatan sekolah. Setelah belajar, dirinya sengaja membantu ibunya berjualan snack di Jalan Kaliurang KM 5.

"Ia memang mau ikut saya berjualan, sudah lama dia menemani saya. Jadi setelah belajar selesai, saya mengajak dia. Hal itu untuk melatih anak-anak agar bisa hidup mandiri denhan keadaan ekonomi kami yang tidak begitu baik," jelas Sulimah.

Ia mengajak ketiga anaknya untuk berjualan mengingat tiga anaknya masih kecil dan harus diawasi. Sulimah tidak berani meninggalkan ketiga anaknya di kontrakan Kecamatan Jetis, Kota Jogja.

"Biasanya saya jualan di sekitar kampus FEB UGM, jika sepi saya jualan di Jalan Kaliurang. Tapi karena Corona ini dan kampus ditutup saya dan anak biasa jualan di Jalan Kaliurang," katanya.

Dalam sehari, ia bisa menjual hingga 35 bungkus dagangannya, satu bungkus dihargai Rp10.000. Meski tak banyak ia mengaku bersyukur dengan apa yang telah ia peroleh bersama keluarganya. Tak jarang, mereka justru meminjami uang kepada tetangga yang membutuhkan.

"Saya membantu suami dengan berjualan. Sehari-hari suami bekerja sebagai tukang becak. Pendapatannya tidak tentu, maka dari itu dari jualan ini bisa menambah penghasilan untuk kebutuhan keluarga kami," kata Sulimah.

Sumber : Suara.com