Disdag Bantul Tak Gelar Operasi Pasar Gula Pasir dalam Waktu Dekat, Ini Alasannya

Foto ilustrasi. - JIBI/M. Ferri Setiawan
08 Mei 2020 13:37 WIB Jumali Bantul Share :

Harianjogja.com BANTUL—Setelah menggelar operasi pasar gula pasir pada April lalu, untuk bulan ini, Dinas Perdagangan (Disdag) Bantul belum mengagendakan rencana kegiatan tersebut kembali.

Mereka berdalih pascaadanya operasi pasar beberapa waktu lalu, harga gula pasir di pasaran cenderung turun kendati faktanya harga komoditas tersebut masih berada di atas harga eceran tertinggi (HET). “Sejauh ini kami belum ada rencana menggelar lagi operasi pasar, baik untuk gula pasir, maupun komoditas lainnya,” kata  Kepala Disdag Bantul, Sukrisna Dwi Susanta, Jumat (8/5/2020).

Kepala Seksi Distribusi dan Harga Barang Kebutuhan Pokok Disdag Bantul Zuhriyatun Nur Handayani mengungkapkan hingga kini rata-rata harga gula pasir di pasaran adalah Rp16.000-16.500 per kilogram.

Harga tersebut, kata dia, menurun jika dibandingkan saat akhir April lalu yang masih di kisaran Rp17.500-18.000 per kilogram. “Patokan harga didasarkan kepada lima pasar rakyat di Bantul, yakni Pasar Bantul, Pasar Niten, Pasar Imogiri, Pasar Piyungan dan Pasar Pijenan. Untuk kecenderungannya sekarang mulai stabil dan menurun,” ucap dia.

Selain komoditas gula pasir yang mengalami penurunan, kata dia, saat ini harga dan stok sejumlah kebutuhan pokok, semisal elpiji, khususnya tiga kilogram (gas melon), aman hingga Lebaran mendatang.

Kebutuhan gas tiga kilogram di Bantul setiap bulannya mencapai 800.000 tabung. Ramadan kali ini Disdag Bantul diakui dia juga tidak mengajukan kuota tambahan pasokan gas melon seperti tahun-tahun sebelumnya. “Kecenderungannya untuk elpiji justru melimpah. Sebab, permintaan di masyarakat berkurang sebagai dampak pandemi Covid-19,” ucapnya.