Advertisement
Ada 92 Warga DIY yang Diduga Meninggal Akibat Corona
Foto ilustrasi. - Reuters
Advertisement
Harianjogja.com, JAKARTA--Jumlah warga DIY yang diduga meninggal dunia akibat Covid-19 disebut jauh lebih tinggi dibanding yang dilaporkan Pemda setempat.
Data kematian itu disampaikan oleh Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 melalui siaran pers yang diterima Harianjogja.com, Senin (11/5/2020).
Advertisement
Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 menyebut jumlah warga DIY yang meninggal dunia dan diduga akibat Covid-19 yakni sebanyak 92 orang hingga 9 Mei 2020.
Jumlah tersebut jauh lebih tinggi atau sebanyak 13 kali lipat bila dibandingkan dengan laporan Pemda DIY yakni hanya tujuh orang yang meninggal dunia.
Selama ini Pemda DIY hanya menghitung total warga yang meninggal karena Covid-19 berdasarkan hasil tes swab dengan metode PCR yang menyatakan positif Covid-19.
Sedangkan Koalisi Warga untuk LaporCovid-19 menghitung angka kematian mencapai 92 kasus yang diperoleh dari penjumlahan total orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) yang meninggal dunia.
Model perhitungan itu mengacu pada standar perhitungan yang ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia WHO.
"Pada tanggal 11 April 2020, Organisasi Kesehatan Dunia [WHO] sudah memutakhirkan panduan penghitungan korban meninggal karena Covid-19. Disebutkan, mereka yang dinyatakan sebagai korban Covid-19 yang sakit dengan gejala diduga atau yang terkonfirmasi Covid-19, hingga terbukti bahwa penyebab kematiannya tidak terkait Covid-19 [misalnya orang tersebut meninggal karena benturan]," kata Iqbal Elyazar, Epidemiolog dan Peneliti Eijkman-Oxford Clinical Research Unit, salah satu perwakilan Koalisi Warga untuk LaporCovid-19, melalui rilis, Senin (11/5/2020).
Namun demikian, pemerintah hanya mengumumkan korban Covid-19 di Indonesia dari yang sudah terkonfirmasi dari tes molekuler. Akibatnya, data kematian di Indonesia bisa dianggap sebagai underreporting atau tidak dilaporkan.

Menurutnya saat ini Indones memiliki keterbatasan dalam hal kapasitas pemeriksaan untuk mendeteksi Covid-19.
Data yang dianalisis kolaborator Laporcovid19.org yang juga saintis dari Eijkman Oxford Clinical Research Unit, menunjukkan orang yang diperiksa dengan pemeriksaan molekuler (PCR) rata-rata masih di bawah 5.000 orang per hari.
Padahal, pemeriksaan merupakan kunci penting untuk penanganan selanjutnya, terutama dalam penapisan atau memisahkan yang sakit dari yang sehat sehingga tidak memicu penularan baru. Selain itu, pemeriksaan yang cepat dan akurat juga akan mempercepat penanganan pasien.
"Keterbatasan dan keterlambatan tes ini menyebabkan banyak orang yang meninggal sebelum diperiksa atau sebelum keluar hasil tes molekulernya [PCR]," kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
BGN Sebut SPPG Terima Rp500 Juta per Hari untuk Program MBG
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
- Jalan di Wonosari Digali Ilegal, DPUPRKP Gunungkidul Lapor Polisi
- Ramadan, Nelayan Kulonprogo Tak Melaut akibat Cuaca
- Ramadan Sepi Wisatawan, Warung Seafood Depok Tawarkan Paket Bukber
- Perceraian di Sleman Naik pada 2025, Ekonomi Jadi Pemicu
- Puluhan Orang Tertipu Miliaran Rupiah di Investasi Villa dan Kos-kosan
Advertisement
Advertisement








