Tak Hanya soal Internet, Siswa di Sleman Juga Bosan Ikuti Pembelajaran Jarak Jauh

Seorang anak menyimak pembelajaran yang disiarkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari untuk PAUD hingga SMA melalui TVRI. - ANTARA FOTO/Saiful Bahri
11 Mei 2020 15:37 WIB Hafit Yudi Suprobo Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Kegiatan pembelajaran jarak jauh di Sleman masih saja menuai keluhan. Kali ini, SMPN 1 Seyegan mengaku banyak siswanya terkendala jaringan Internet yang tidak lancar.

Kepala SMPN 1 Seyegan Rini Trimurti Margaretha mengatakan selama penerapan pembelajaran jarak jauh, tak sedikit siswanya yang terkendala jaringan Internet. Tidak hanya koneksi yang buruk, para siswanya juga banyak mengeluhkan aktivitas itu menambah pengeluaran mereka lantaran harus membeli kuota data Internet.

"Siswa dihadapkan dengan sejumlah kendala terkait dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Jaringan internet kadang tidak lancar, boros data atau kuota, kapasitas aplikasi terbatas, kemudian ada siswa yang tidak punya ponsel sehingga harus meminjam gadget milik orang tua maupun saudaranya," ujar Rini, Senin (11/5/2020).

Tak hanya itu, dia tak memungkiri jangka waktu pembelajaran jarak jauh yang terlampau lama juga membuat siswa cenderung bosan mengikuti program yang diinisiasi di tengah pandemi Covid-19.

Jangka waktu pembelajaran jarak jauh yang cenderung berjalan dengan waktu yang lumayan panjang juga menjadi permasalahan tersendiri. Siswa banyak yang merasa bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh. Alhasil, fenomena tersebut berdampak terhadap berjalannya program pembelajaran jarak jauh.

Sebenarnya pembelajaran jarak jauh relatif berjalan lancar. Respons siswa terhadap kegiatan PJJ beragam, sebagian besar merasa enjoy di awal-awal. Tetapi, karena PJJ dilaksanakan dalam waktu yang lama mereka jadi bosan sehingga tidak semua siswa tidak lagi tertib mengikuti dan mengumpulkan tugas," kata Rini.

Itulah sebabnya pembelajaran jarak jauh akan berdampak pada target kurikulum setiap siswa. Tidak adanya tatap muka hampir setengah semester menjadi musabab target kurikulum tidak tercapai.

"Ketercapaian target akademik kurang optimal karena tidak ada tatap muka selama sekitar setengah semester. Tetapi di sisi lain peserta didik dan guru lebih termotivasi untuk belajar bagaimana menemukan metode belajar online di tengah pandemi covid 19 ini seperti google classroom, google form, quiziz, prezi, webex, dan zoom," ucap Rini.