Advertisement
Tak Hanya soal Internet, Siswa di Sleman Juga Bosan Ikuti Pembelajaran Jarak Jauh
Seorang anak menyimak pembelajaran yang disiarkan melalui Televisi Republik Indonesia (TVRI) di Kelurahan Gladak Anyar, Pamekasan, Jawa Timur, Senin (13/4/2020). Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyiapkan 720 episode untuk penayangan Belajar dari Rumah selama 90 hari untuk PAUD hingga SMA melalui TVRI. - ANTARA FOTO/Saiful Bahri
Advertisement
Harianjogja.com, SLEMAN—Kegiatan pembelajaran jarak jauh di Sleman masih saja menuai keluhan. Kali ini, SMPN 1 Seyegan mengaku banyak siswanya terkendala jaringan Internet yang tidak lancar.
Kepala SMPN 1 Seyegan Rini Trimurti Margaretha mengatakan selama penerapan pembelajaran jarak jauh, tak sedikit siswanya yang terkendala jaringan Internet. Tidak hanya koneksi yang buruk, para siswanya juga banyak mengeluhkan aktivitas itu menambah pengeluaran mereka lantaran harus membeli kuota data Internet.
Advertisement
"Siswa dihadapkan dengan sejumlah kendala terkait dengan pelaksanaan kegiatan pembelajaran jarak jauh. Jaringan internet kadang tidak lancar, boros data atau kuota, kapasitas aplikasi terbatas, kemudian ada siswa yang tidak punya ponsel sehingga harus meminjam gadget milik orang tua maupun saudaranya," ujar Rini, Senin (11/5/2020).
Tak hanya itu, dia tak memungkiri jangka waktu pembelajaran jarak jauh yang terlampau lama juga membuat siswa cenderung bosan mengikuti program yang diinisiasi di tengah pandemi Covid-19.
BACA JUGA
Jangka waktu pembelajaran jarak jauh yang cenderung berjalan dengan waktu yang lumayan panjang juga menjadi permasalahan tersendiri. Siswa banyak yang merasa bosan dalam mengikuti kegiatan pembelajaran jarak jauh. Alhasil, fenomena tersebut berdampak terhadap berjalannya program pembelajaran jarak jauh.
“Sebenarnya pembelajaran jarak jauh relatif berjalan lancar. Respons siswa terhadap kegiatan PJJ beragam, sebagian besar merasa enjoy di awal-awal. Tetapi, karena PJJ dilaksanakan dalam waktu yang lama mereka jadi bosan sehingga tidak semua siswa tidak lagi tertib mengikuti dan mengumpulkan tugas," kata Rini.
Itulah sebabnya pembelajaran jarak jauh akan berdampak pada target kurikulum setiap siswa. Tidak adanya tatap muka hampir setengah semester menjadi musabab target kurikulum tidak tercapai.
"Ketercapaian target akademik kurang optimal karena tidak ada tatap muka selama sekitar setengah semester. Tetapi di sisi lain peserta didik dan guru lebih termotivasi untuk belajar bagaimana menemukan metode belajar online di tengah pandemi covid 19 ini seperti google classroom, google form, quiziz, prezi, webex, dan zoom," ucap Rini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Gunung Semeru Erupsi Empat Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Advertisement
Favorit Nataru, KA Joglosemarkerto Angkut Puluhan Ribu Penumpang
Advertisement
Berita Populer
- Awal 2026, Bupati Gunungkidul Rotasi 110 Pejabat, Ini Daftarnya
- Terapkan iPubers, Petani Bisa Tebus Pupuk Subsidi Sejak 1 Januari 2026
- Resmi Jalan, Ini Rute dan Jadwal Bus Listrik Jombor-Malioboro
- PAD Pariwisata Bantul 2025 Gagal Target, Turun Rp4 Miliar
- Pos Damkar Prambanan Sleman Siap Operasi, Tunggu Personel
Advertisement
Advertisement



