Dipimpin Guru Besar UGM, Inovasi RDT Karya Peneliti Indonesia Siap Diluncurkan

Ist
22 Mei 2020 11:37 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA- Guru Besar FK-KMK UGM, Prof. Sofia Mubarika Haryana memimpin pembuatan inovasi uji diagnosis cepat (rapid diagnostic test/ RDT) untuk Covid-19 yang berbasis antibodi untuk mendeteksi IgM dan IgG yang diproduksi oleh tubuh untuk melawan Covid-19. Rencananya, Presiden RI Joko Widodo akan meluncurkan karya Anak Bangsa yang diberi nama RI-GHA 19 tersebut pada bulan Mei ini.

 “Awalnya, saat muncul pandemi Covid-19 kami memang berpikir apa yang dapat kami lakukan untuk ikut membantu penanganan Covid-19. Kemudian tiba-tiba Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) menginisiasi untuk melakukan inovasi riset mengenai Covid-19”, jelas Prof. Rika, dalam rilisnya, Jumat (22/5/2020).

BPPT mengundang dan mengajak beberapa peneliti Indonesia untuk bergabung melakukan riset dalam usaha penanganan Covid-19. Salah peneliti yang diundang yaitu Prof. Rika dari FK-KMK UGM. “Kebetulan penelitian saya sebelumnya adalah mengenai virus yang terkait dengan kanker, yaitu Epstein-Barr Virus (EBV). Saya juga mempelajari bidang imunologi dan biologi molekular, sehingga saya bersedia bergabung,” ungkapnya.

Dalam perkembangannya, terdapat enam bidang inovasi penelitian yang menjadi fokus BPPT, salah satunya adalah rapid diagnostic test. Prof. Rika yang sebelumnya pernah memiliki pengalaman untuk membuat rapid diagnostic test untuk Epstein-Barr Virus (EBV) pada pasien dengan kanker nasofaring, kemudian memilih bergabung melakukan inovasi penelitian rapid diagnostic test, dengan menggandeng peneliti lain, yaitu Prof. dr. Tri Wibawa, ahli virologi sekaligus Guru Besar FK-KMK UGM, juga Prof. Mulyanto, Alumni FK-KMK UGM yang juga seorang peneliti Laboratorium Hepatika Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu, juga bergabung, Prof. Fedik Abdul Rantam, ahli Virologi dan Prof. Cita Rosita Sigit Prakoeswa, Guru Besar Universitas Airlangga Surabaya. Dengan tim tersebut, produk rapid diagnostic test ini diberi nama RI-GHA yang merupakan kepanjangan dari Republik Indonesia – Gadjah Mada – Hepatika – Airlangga.

Dalam laboratoriumnya yang sangat sederhana, Prof. Mulyanto aktif melakukan berbagai penelitian. Penelitian sebelumnya yaitu membuat rapid test untuk penyakit hepatitis yang kini sudah digunakan di negeri Sakura Jepang. Berbekal pengalaman yang sangat luar biasa, melalui Laboratorium Hepatika ini kemudian Prof. Mulyanto juga menyusun formula untuk rapid diagnostic test Covid-19.

Proses pengujian menggunakan serum positif Covid-19 yang diperoleh dari Badan Litbangkes. “Setelah hasil yang diperoleh positif, kemudian kami juga melakukan uji banding dengan produk komersial. Ternyata produk komersial yang beredar adalah total Immunoglobulin sehingga tidak spesifik, dan tidak seperti total IgM atau IgG yang kami kembangkan,” ujar Prof. Rika saat ditanya mengenai proses pengembangan rapid diagnostic test ini.

Setelah proses pencarian merek komersial, akhirnya Prof. Rika dan tim dapat melakukan uji banding dengan merk komersial terbaik. “Sesudah  dicobakan oleh Prof. Mul, didapatkan hasil, dari 20 sampel dengan positif IgM, produk RI-GHA memperoleh 8 positif. Selanjutnya dibandingkan dengan merk komersial terbaik, didapatkan hasil juga 8 positif. Artinya sampel positif Covid-19 yang sebelumnya diuji dengan PCR hasilnya 20, maka ternyata yang menghasilkan antibodi baru 8 sampel, kemungkinan sisanya belum terbentuk antibody,” ujarnya.

Untuk memperoleh hasil yang lebih baik, Prof. Mulyanto kemudian kembali memperbaiki formula yang telah disusunnya, agar didapatkan hasil positif kuat, dengan tidak mengubah arti positivity-nya. Prof. Rika menjelaskan, “Dengan data awal uji banding ini, kemudian kami telah melakukan proses registrasi online dan proses izin edar,” tambahnya.

Menurutnya, dari keseluruhan produksi dengan jumlah terbatas adalah 10.000 tes ini, sebanyak 4.000 tes akan diserahkan untuk dilakukan uji validasi untuk mendapatkan seberapa tinggi akurasinya di masyarakat.

Jadi, nanti akan diserahkan ke UGM untuk dilakukan uji validasi dan dipimpin oleh Prof. Tri Wibawa, untuk dilakukan di RSUP Dr. Sardjito, Rumah Sakit Akademik UGM, RSUD Jogja, RSUP Dr. Kariadi Semarang, dan RSUD Dr. Moewardi Solo. Kemudian juga akan diserahkan ke Surabaya untuk dilakukan uji validasi oleh Prof. Citra Rosita dan Prof. Fedik serta tim untuk dilakukan di RSUD Dr. Soetomo dan RS UNAIR.

Rapid Diagnostic Non-PCR ini, selain dapat digunakan untuk skrining, juga dapat digunakan untuk memonitor OTG, ODP, PDP, atau Post infeksi. “Mudah-mudahan hasil uji validitas bagus dan akurasinya tinggi, sehingga dapat digunakan untuk massive screening di masyarakat” tuturnya.

Selain biayanya yang murah, rapid diagnostic test ini memiliki kelebihan dapat deteksi cepat 5-10 menit, mudah, praktis, sensitifitas yang tinggi serta sangat spesifik. Rapid diagnostic Non-PCR ini dapat dilakukan dimana saja, seperti jalan, sekolah, pasar, stasiun, bandara, dan lainnya. Harapannya juga dapat dikirimkan ke pelosok-pelosok daerah, sehingga masyarakat dapat melakukannya secara mandiri, dengan sebelumnya dilatih cara penggunaannya melalui televisi nasional.