Hari Pertama Lebaran, Warga Bantul Ada yang Pilih Keluar Rumah

Situasi Jalan Imogiri Timur, tepatnya di depan Puskesmas Pleret pada hari pertama Idulfitri, Minggu (24/5). Masih banyak warga yang keluar rumah untuk mengunjungi sanak saudara.Harian Jogja - Hery Setiawan
24 Mei 2020 14:27 WIB Hery Setiawan/ST18 Bantul Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Pemerintah sudah mengimbau masyarakat untuk tetap di rumah saat Lebaran. Kendati demikian, berdasarkan pemantauan pada hari pertama Idulfitri, Minggu (24/5/2020), masih banyak warga yang pergi keluar untuk berkunjung ke rumah tetangga dan saudara dekat. Hal itu dibuktikan dengan kendaraan-kendaraan yang melintas di sejumlah ruas jalan di Bantul.

Salah satunya di sepanjang Jalan Imogiri Timur, dari wilayah Kecamatan Banguntapan hingga Imogiri. Banyak pengendara roda dua yang melintas. Mereka terdiri dari laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Slamet Riyadi, warga Desa Karangtengah, Kecamatan Imogiri, Bantul adalah satu di antaranya.

Ia mengaku tadi pagi melaksanakan shalat Idulfitri di rumah. Sementara tetangganya ada yang melaksanakan Salat Idulfitri dalam kelompok kecil dengan jemaah 10 sampai 20 orang saja. Setelah salat, warga sekalian melangsungkan halal bi halal di tempat dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Slamet sendiri, bersama istri dan kedua orang anaknya mengaku hanya pergi ziarah dan mengunjungi rumah orang tuanya yang berlokasi tidak jauh dari tempat tinggalnya. Setelah itu mereka pulang ke rumah, sebab tidak ada agenda lain yang direncanakan. "Kita pahamlah situasi sekarang. Kita taati saja aturan pemerintah. Habis ini saja kita langsung pulang ke rumah. Tiap lebaran kita gak pernah pergi ke mana-mana," katanya.

Menurutnya, Idulfitri tahun ini memang berbeda, tapi tidak begitu signifikan. Kegiatan salam-salam masih dilakukan warga di lingkup terdekat. Dengan begitu, larangan untuk bersentuhan fisik semakin sulit ditegakkan.

Hal yang tersebut pun diakui oleh Aang Sujadmiko, Ketua RT 1 Wiyoro Lor, Desa Baturetno, Kecamatan Banguntapan, Bantul. Menurutnya masih cukup sulit untuk benar-benar menegakkan anjuran pembatasan fisik. Pasalnya, banyak warga yang masih terbawa suasana Idulfitri seperti biasanya.

Ia pun memaklumi itu dengan catatan warga tidak menerima tamu dari luar wilayahnya. Hal itu pun sudah ia antisipasi dengan menutup seluruh akses masuk Wiyoro Lor. Meski, ia akui, penutupan itu tidak diiringi dengan penjagaan yang ketat. "Kalau semalam dijaga, tapi sekarang tidak. Mungkin warga masih sibuk silaturahmi," katanya melalui sambungan telepon.

Lanjutnya, sempat terjadi ketegangan antara pengurus RT dan warga berkaitan dengan pelaksanaan Salat Idulfitri. Pihaknya telah memberikan imbauan agar beribadah di rumah saja. Tapi bagi sebagian warga hal itu dirasa kurang mampu mewakili suasana Idulfitri. Alhasil, mereka tetap melaksanakan Salat Id secara bersama di jalan-jalan kampung.

"Ada sedikit ketegangan tentang Salat Id. Warga bilang, 'Lebaran kok Salat Id di rumah?' Untungnya tidak banyak yang ikut. Cuma sekitar 20 orang saja," tuturnya.

Sebelumnya, Camat Banguntapan, Fauzan sudah meminta warganya untuk mematuhi anjuran pemerintah. Mengingat, Kecamatan Banguntapan sudah dinyatakan sebagai zona merah. Bahkan, pertambahan kasus positif terjadi empat hari jelang perayaan Idulfitri. Riwayatnya sendiri masih dalam penelusuran. "Kepada warga saya meminta tetap waspada. Sebab di sini [Banguntapan] sudah terjadi transmisi lokal," ujarnya.