Tren Bersepeda di Jogja Marak Saat Pandemi, Bakul Sepeda Raup Untung

nSejumlah pesepeda berswafoto dengan latar belakang kawasan pedestrian Malioboro, Jogja, Minggu (7/6/2020). - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
09 Juni 2020 18:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Meningkatnya tren bersepeda di Kota Jogja membuat sebagian penjual sepeda yang ada di pasar Gabungan Pedagang Sepeda Bekas Yogyakarta (GAPSSTA) bernapas lega. Pasalnya, sejak bulan April banyak dari pedagang yang kehilangan pelanggan mereka akibat pandemi Covid-19.

Salah satu pedagang sepeda di pasar GAPSSTA yang berlokasi di Jalan Mt. Haryono, Suryodiningratan, Mantrijeron, Kota Yogyakarta Haryadi, 78, mengatakan jika sudah dua bulan sejak April hingga Mei penjualan sepeda di pasar GAPSSTA menurun cukup signifikan. Hal tersebut lantaran adanya pandemi Covid-19.

"Namun, dengan adanya tren bersepeda yang kembali menggeliat di Kota Jogja akhirnya penjualan sepeda secara perlahan membaik," ujar Haryadi, Selasa (9/6/2020).

Haryadi yang memang warga asli Jogja mengatakan jika sejak kecil kota yang seringkali disebut kota pendidikan tersebut memang bertumpu kepada sepeda sebagai alat transportasinya. Banyak warga yang menggunakan sepeda sebagai alat moda transportasi utama mereka untuk bepergian.

"Banyaknya orang bersepeda ini sebenarnya sudah dari dulu ada. Ketika saya kecil sepeda itu menjadi transportasi utama warga untuk bepergian. Beranjak saya dewasa memang sepeda mulai tergantikan dengan sepeda motor. Namun, tidak sedikit warga yang masih menjadikan sepeda sebagai moda transportasi utama mereka," terang Haryadi.

Tren bersepeda menjadi angin segar bagi Haryadi dan jawatannya di GAPSSTA. Penjualan sepeda yang tadinya lesu karena kehadiran pandemi Covid-19, lambat laun membaik karena minat masyarakat untuk bersepeda kembali tinggi.

"Bagi kami penjual, keadaan seperti ini ya tetap memberi berkah di tengah pandemi Covid-19, saya juga mendukung agar Marwah kota Jogja yang tidak lepas dari kehadiran sepeda bisa kembali lagi. Sepeda juga kalau bisa menjadi ikon kota Jogja," ungkap Haryadi.

Sementara itu, penjual lainnya yakni Giyono mengatakan jika tren bersepeda warga Jogja yang kembali bergairah membuat ia bisa sedikit tersenyum. Pasalnya, sudah dua bulan sejak bulan April hingga Mei Giyono harus menutup lapaknya karena adanya pandemi Covid-19.

"Banyaknya pelanggan yang mendatangi saya karena antusiasme warga untuk bersepeda kembali tinggi. Saat ini di jalan-jalan kota Jogja ramai dipenuhi oleh pesepeda. Mulai dari komunitas sepeda bahkan keluarga yang suka bersepada bersama-sama banyak yang mencari sepeda di GAPSSTA," terang Giyono.

Soal harga, lanjut Giyono, ia membanderol sepeda bekas yang dimilikinya dengan kisaran harga Rp150sampai dengan Rp1,5 juta. Giyono menekankan jika harga sebuah sepeda yang dijualnya tidak lepas dari kualitas yang dimiliki oleh sepeda.

Tidak sedikit warga yang datang ke lapak saya mencari sepeda yang kualitasnya bagus. Jadi, sebisa mungkin walaupun saya menjual sepeda bekas tapi kualitasnya masih bagus. Kalau saya kulakan sepeda kurang baik ya akan saya perbaiki dulu hingga menarik perhatian pembeli dan nyaman dikendarai," ungkap Giyono.