Pertunjukan Budaya di Jogja Akan Mulai Digelar Kembali dengan Protokol Kesehatan

Pentas budaya. - Ist/Dok Dinas Kebudayaan DIY
30 Juni 2020 21:27 WIB Nina Atmasari Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-- Saat pandemi Covid-19 membuat semua bidang kehidupan saat ini harus beradaptasi. Upaya ini juga dilakukan oleh Dinas Kebudayaan DIY yang mencoba untuk tetap mengadakan kegiatan yang bersifat kebudayaan dengan disesuaikan dengan protokol pencegahan penularan Covid-19.

Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan jika upaya tersebut dilakukan untuk pembelajaran baik bagi Dinas Kebudayaan maupun masyarakat terkait dengan bagaimana mengapresiasi pertunjukan maupun pergelaran wayang kulit maupun wayang orang di tengah pandemi Covid-19.

"Ini merupakan hal yang baru di masyarakat. Ini juga sudah kami sosialisasikan kepada Pepadi, Pepadang, dan Sukro Kasih, maupun wayang orang. Kami juga akan melihat bagaimana respons masyarakat mengapresiasi wayang di tengah pandemi Covid-19. Nantinya akan kami evaluasi," ujar Dian saat diwawancarai di Kantor Dinas Kebudayaan DIY, Selasa (30/6/2020).

Baca juga: Wali Kota Minta Mahasiswa di Jogja Ikut Kerja Bakti dan Ronda Kampung

Kedua, lanjut Dian, upaya dinas untuk menyesuaikan pertunjukan kebudayaan yang disesuaikan dengan standar protokol pencegahan penularan Covid-19 dan menuju ke new normal (tatanan baru) adalah untuk memberikan mindset baru kepada masyarakat.

"Bahwa sebenarnya budaya maupun tradisi kita yang sejalan dengan situasi Covid-19 pun sebenarnya masih in line. Artinya, kita tidak menggantungkan prosedur penyelenggaraan wayang misalnya dengan standar protokol pencegahan penularan Covid-19 yang skalanya global. Tetapi sebenarnya ada aspek-aspek budaya yang sudah kita miliki sejak lama yang muncul justru karena adanya pandemi Covid-19," papar Dian.

Disbud DIY, lanjut Dian, akan menyiapkan beberapa konsep pertunjukan kebudayaan di tengah pandemi Covid-19. Di antaranya, menggunakan live streaming dan pertunjukan dengan terlebih dahulu sudah direkam aksi pertunjukan.

"Kalau live streaming kan real time. Ini juga menjadi pembelajaran baru bagi pelaku seni maupun masyarakat. Kalau live streaming kan tidak bisa direkayasa. Makanya, kami harus siap 100 persen. Kedua pertunjukan yang sudah di-tapping sebelumnya," terang Dian.

Baca juga: Begini Solusi UMKM Hadapi Tantangan Global

Menurut Dian, pertunjukan kebudayaan yang menggunakan sistem live streaming mendapatkan atensi yang cukup tinggi jika dibandingkan masyarakat yang melihat pertunjukan yang sudah direkam sebelumnya.

"Untuk acara-acara yang digelar secara live streaming penontonnya memang banyak, itu terlepas dari komunitas pelaku seni yang main, dan faktor tokoh yang bermain di situ. Tapi secara garis besar penonton live streaming lebih banyak ketimbang tapping," ungkap Dian.

Pementasan wayang kulit maupun orang menggunakan konsep daring artinya tidak ada yang menonton secara langsung. Pihaknya juga akan meninjau bagaimana respons masyarakat dalam mengapresiasi pertunjukan kebudayaan secara daring.

"Apakah mereka akan kehilangan sense-nya. Kita mulai mencoba beradaptasi dengan konsep itu (daring). Nanti ada juga sistem yang mendatangkan penonton tapi sifatnya terbatas. Terkait dengan kapasitas ruang yang nantinya akan digelar oleh komunitas Pepadang di Sasono Hinggil," terang Dian.

Pergelaran pertunjukan kebudayaan juga seyogianya akan beradaptasi terkait dengan durasi. Pertunjukan seperti wayang yang biasanya durasi pertunjukannya bisa sampai sehari semalam kemungkinan besar akan dikurangi durasinya.

"Jam 10 malam kan kalau versi gugus tugas aktivitas sudah harus selesai. Pertunjukan wayang dengan dipotong durasinya akan diujicobakan oleh Disbud DIY. Jadi, seberapa pakem yang bisa dipertahankan kemudian dikompromikan dengan protokol pencegahan penularan Covid-19," tutup Dian.

Prosedur Pelaksanaan Pentas

Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Warisan Budaya, Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi menambahkan jika pelaksanaan pentas dilakukan dalam rangka mengakomodasi kegiatan seniman yang tidak berkarya berkesenian selama masa pandemi Covid-19 dengan aturan dan prosedur yang telah disepakati.

Semua pentas dilakukan secara daring atau virtual dengan melibatkan seniman yang terbatas dengan tidak mengurangi unsur dan inti dari lakon yang dipentaskan. Dinas Kebudayaan DIY berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten maupun kota dan Pepadi DIY terkait jumlah pentas dan siapa yang berhak menyelenggarkaan pentas daring.

"Beberapa aturan dan prosedur akan dibuat dalam bentuk petunjuk pelaksanaan maupun petunjuk teknis. Untuk pentas wayang kulit dan wayang wong, perlu dibuat tim khusus yang terdiri dari tim Dinas Kebudayaan DIY, Dinas Kebudayaan Kabupaten atau kota dan tim seniman dengan susunan dan tugas sebagai berikut," terangnya.

Tim keamanan bertugas untuk mengatur lalu lintas orang atau pemain. Tim Teknis atau IT terdiri dari kru inti atau bagian syuting dan tata letak selama pentas. Tim panitia pelaksana bertugas mengkoordinir pemain agar bisa memainkan perannnya masing-masing selama pentas. Pentas dilakukan dalam ruang tertutup dan durasi yang dibatasi.

Petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis pementasan wayang kulit sendiri di antaranya, dipastikan H-1 sebelum pentas, ruang pentas disterilkan (misal dengan penyemprotan menggunakan desinfektan). Pengecekan suhu badan semua personel sebelum memasuki ruangan pementasan. Semua pemain wajib menggunakan masker kecuali dalang dan sinden. Semua pengrawit wajib menggunakan sarung tangan.

"Semua pemain wajib cuci tangan sebelum masuk ke ruangan. Pementasan dilakukan pada ruang tertutup (pintu tertutup) supaya tidak mengundang penonton luar untuk datang dan melihat. Pembatasan personel yang terlibat dalam pementasan," terang Dian.

Untuk wayang kulit, lanjut Dian, yang terlibat diantaranya dalang satu orang, pengrawit sebanyak 12 orang, sinden sebanyak 3-5 orang, kru panggung dan sound system, serta kru IT.

Jarak tempat duduk antar seniman sekitar 1,5 meter. Pementasan dilakukan dan disiarkan secara online melaui kanal Youtube Dinas Kebudayaan DIY. Durasi pentas dibatasi maksimal 2 jam. "Selesai pertunjukkan diharapkan untuk tidak berkumpul," imbuhnya.

Sementara itu, untuk wayang wong, pementasan wayang wong dilakukan dengan pembatasan personel, pengrawit sebanyak 12 orang, pemain 10 orang, satu perias, dan kru. Pembatasan personel dilakukan dengan pembatasan maksimal 20 orang dalam satu set pengambilan gambar.

Dipastikan H-1 sebelum pentas, ruang pentas disterilkan (misal dengan penyemprotan menggunakan desinfektan). Pengecekan suhu badan semua personel sebelum memasuki ruangan pementasan. Semua pemain wajib cuci tangan sebelum masuk ke ruangan. Pemain atau pelaku seni yang mempunyai gejala demam atau gejala pernapasan seperti batuk/pilek/sakit tenggorokan/sesak napas diminta untuk tidak melakukan kegiatan pementasan.

"Pementasan dilakukan pada ruang tertutup (pintu tertutup) supaya tidak mengundang penonton luar untuk datang dan melihat. Durasi pentas sekitar maksimal 1-1,5 jam. Proses pengambilan gambar video dilakukan sebanyak yang dibutuhkan. Namun, pada prinsipnya akan dilakukan dengan satu adegan satu pengambilan," ungkap Dian.

Pengambilan gambar akan dibuat pada pembagian jam pengambilan, dalam satu hari tiga kali pengambilan dengan diberikan jarak waktu yang cukup untuk mengatur mobilitas pergantian orang yang masuk dalam ruangan.

"Pengambilan gambar dilakukan setidaknya, adegan pembuka, pengenalan tokoh; Adegan kemunculan konflik; Adegan Klimaks; Adegan Antiklimak; Adegan Penyelesaian Pengambilan gambar dari sisi gamelan yang dimainkan," tutupnya.