Wali Kota Minta Mahasiswa di Jogja Ikut Kerja Bakti dan Ronda Kampung

Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti
30 Juni 2020 19:17 WIB Hafit Yudi Suprobo Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA--Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti meminta agar mahasiswa di kota ini, khususnya bagi mereka yang tinggal di indekos agar ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan di sekitar tempat tinggal mereka. Seperti halnya, kegiatan ronda dan kerja bakti yang kerap dilakukan oleh warga.

"Tidak wajib, tapi kami imbau, mereka (anak kos) kami ajarkan pelan-pelan agar memahami konsekuensi sosial. Mereka di sini tidak hanya belajar akademis, namun juga belajar soal non akademis, nilai-nilai sosial yang harus mereka pelajari," ujar Haryadi, di sela-sela peresmian TMMD Sengkuyung Tahap II Kodim 0734 Yogykarta di Ngampilan, Kota Jogja, Selasa, (30/6/2020).

Di dalam kegiatan ronda, lanjut Haryadi, mahasiswa yang tinggal di dalam kos akan kenal terhadap warga di sekitar tempat tinggal mereka. Di dalam ronda, anak kos juga diajarkan untuk menjaga keamanan di sekitar tempat tinggalnya. Jadi, tugas pengamanan tidak hanya dibebankan kepada TNI Polri.

"Mereka [mahasiswa] jadi kenal dengan tetangga kanan kirinya. Dia [anak kos] juga bertanggung jawab dengan keamanan di sekitarnya. Jangan hanya mengamankan diri sendiri. TNI Polri dan masyarakat bareng bareng mengamankan wilayah, supaya mendapatkan early warning pelajaran dari kegiatan ronda," jelas Haryadi.

Haryadi menyinggung soal anak kos yang sering terjaga hingga larut malam. Berangkat dari fenomena tersebut, Haryadi mengharapkan agar anak kos yang tinggal di wilayah Kota Yogyakarta agar meluangkan waktunya untuk mengikuti kegiatan kemasyarakatan, contohnya seperti ronda dan kerja bakti.

"Mereka melek bahkan ngelembur sampai malam aja kuat. Kan kalau ikut ronda bisa saling menyapa tetangganya hingga kenal satu sama lain. Jangan-jangan anak kos tidak tahu ketua RT nya siapa. Jangan-jangan anak kos tidak tahu pinisepuh di tempat tinggal mereka siapa. Jangan cuma datang ke kampus langsung pulang ke kos. Walaupun, kegiatannya kebanyakan berada di luar wilayah dimana mereka (anak kos) tinggal," terang Haryadi.

Sudah sewajarnya, lanjut Haryadi, jika anak kos mampu ikut serta dalam kegiatan kemasyarakatan di tempat dimana mereka tinggal. Hal tersebut dikarenakan anak kos mempunyai konsekuensi-konsekuensi sosial yang harus mereka hadapi.

"Mereka tinggal di sini kok, menghirup udara dan minum air di kampung sini, tentunya punya konsekuensi sosial, bukan kami yang mewajibkan, agar apa? agar kita punya sense of social," tandasnya.

Begitu pula dengan kegiatan kerja bakti. Haryadi menyebutkan, jika kegiatan kerja bakti diharapkan mampu diikuti oleh anak kos. Kegiatan kerja bakti tidak menyita waktu yang cukup banyak. Di samping itu, kegiatan kerja bakti juga mampu mengakrabkan warga satu dan lainnya.

"Kerja bakti itu gak ada yang siang hari. Kerja bakti itu pasti pagi hari. Paling dari jam setengah enam pagi sampai jam 7 kalau ndak setengah 8. Ha nek esuk malah ra ono, malah turu [kalau pagi malah tidak ada, malah tidur], masyarakat itu pagi sudah berkegiatan, emangnya kalau wilayah di sekitar kosnya bersih itu bersih dengan sendirinya, ya ndak, kan itu ditata, rumput-rumput dicabuti, secara tidak langsung itu akan menambah pengayaan mereka," papar Haryadi.

Haryadi menyebutkan jika tidak semua orang memiliki kepekaan untuk berinteraksi secara sosial. Kepekaan tersebut bisa muncul karena ada yang mendidik. Imbauan untuk melakukan ronda tidak hanya di wilayah yang menjadi lokasi TMMD, namun di semua wilayah kota Yogyakarta.

"Nanti akan kami gandeng Dandim, Danramil, Kapolsek, hingga Kapolresta hingga jajaran camat hingga Pemkot Yogyakarta akan ngoprak-oprak agar anak kos tahu jadwal ronda dan kegiatan sosial lainnya, jadi ndak hanya bayar kos habis itu selesai, dia punya kewajiban sosial," tutupnya.

Dandim 0734/Yogyakarta, Kol. Arh Zaenuddin menyambut baik rencana Walikota terkait dengan imbauan anak kos agar bisa mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti ronda dan kerja bakti. Hal itu sebagai bentuk kepedulian sosial yang dilakukan oleh anak kos terhadap lingkungan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.

"Tentunya semuanya berusaha untuk menjaga masing-masing wilayah. Itu merupakan instruksi dari Pak Walikota jadi ya kita dukung. Kepedulian sosial dia terhadap lingkungan juga harus terpupuk. Tidak ada perlakuan eksklusif kepada anak kos. Kami menjaga secara skala besar dan masyarakat serta mahasiswa menjaga kemanan di lingkungan tempatnya tinggal," ujar dia.

Bagi mahasiswa, lanjut Zaenuddin, yang telah selesai menempuh pendidikan, pelajaran sosial yang didapatkan sewaktu mereka tinggal di Jogja saat ini bisa diaplikasikan di tempat asalnya.

"Jadi tidak hanya bidang akademik yang mereka kuasai, tapi juga nilai-nilai sosial, gotong royong ini dapat diterapkan juga di tempat mereka berasal," tutup Zaenuddin.