Kasus Impor Covid-19 di Gunungkidul Terus Bertambah

Ilustrasi - Pixabay
02 Juli 2020 15:37 WIB David Kurniawan Gunungkidul Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Pasien positif Covid-19 di Gunungkidul bertambah dua orang sehingga total menjadi 54 kasus. Tambahan ini masih erat kaitannya dengan kasus impor atau penularan dari luar daerah.

Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty mengatakan dua pasien baru meliputi perempuan 36 tahun  asal Kapanewon Wonosari dan laki-laki 59 tahun asal Kapanewon Panggang.

BACA JUGA: Kapan New Normal Diterapkan di DIY? Ini Jawaban Sultan

Kasus Wonosari erat kaitannya dengan pasien positif yang melakukan perjalanan dari Jawa Timur. Keduanya adalah pasangan suami istri. “Suaminya terlebih dahulu dinyatakan positif sewaktu di Jawa Timur. Setelah kami cek ternyata istrinya juga ikut positif,” kata Dewi, Kamis (2/7/2020).

Sementara itu, pasien dari Panggang belum diketahui sumber penularannya. Menurut dia, pasien ini diketahui positif Covid-19 saat menjalani tes di RSUD Bantul. “Kami akan cari penyebab pasien ini bisa tertular,” katanya.

Tim medis langsung akan bergerak melakukan penelusuran terkait dengan riwayat kontak sehingga penularan bisa dicegah.

BACA JUGA: Soal Uji Coba Pembukaan Destinasi, Pengelola Wisata Gunungkidul Dapat Sinyal Hijau

Dewi mengatakan kasus impor dari luar daerah, khususnya dari Jawa Timur sudah ada empat. Dua kasus berasal dari wilayah Kapanewon Semin dan dua lainnya berasal dari Kapanewon Wonosari. “Total kasus ada 54 pasien positif. Yang dinyatakan sembuh ada 47 orang, enam masih dirawat di rumah sakit dan satu pasien dinyatakan meninggal dunia,” ungkapnya.

Kepala Bidang Penyebaran dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Gunungkidul Sumitro mengatakan jawatannya mewaspadai penularan kasus positif yang berasal dari luar daerah. Potensi penularan ini semakin besar seiring dibukanya akses transportasi antar daerah.

Salah satu antisipasi dengan surveilence berbasis masyarakat. Masyarakat diminta mendata pendatang di wilayah masing-masing. Selanjutnya, data tersebut dilaporkan ke petugas puskesmas.

Gunungkidul jug akan mengubah pengetesan karena tingkat akurasi rapid test masih kurang bagus. Rencananya pasien dalam pengawasan, warga kontak pasien positif dan tenaga kesehatan akan langsung dilakukan tes swab. “Tes cepat tetap dilakukan, tapi untuk proses screening kasus,” katanya.