Tambang di Hulu Jogja Beroperasi, Warga Kaliurang Cemas Krisis Air

Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
03 Juli 2020 20:37 WIB Hery Setiawan (ST18) Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Akhir Juni 2020 lalu warga Pedukuhan Kaliurang Barat, Kelurahan Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Sleman sempat kesulitan air bersih.

Kondisi itu terjadi karena sejumput akar yang menyumbat pipa utama. Akibatnya, warga sempat harus berbagi air hingga perbaikan jaringan air selesai.

Seorang warga RT 6 yang enggan disebut namanya mengatakan saat wilayahnya kesulitan air, dirinya mesti bergantian dengan warga lainnya. Dalam kondisi normal, penampung air di rumahnya mampu penuh dalam waktu 15 menit saja. Namun, akibat gangguan jaringan tadi, ia butuh waktu berjam-jam untuk mencukupi kebutuhan air harian.

"Kalau menurut saya yang paling parah itu RT 6. Saya harus menunggu lama dan gantian dengan warga lainnya," katanya kepada Harianjogja.com, Kamis (2/7/2020).

Namun, tak semua warga merasakannya. Seperti Sri, warga RT 4 yang mengaku rumahnya tak mengalami kesulitan air. Ia menyadari bahwa jaringan air memang kerap mengalami kerusakan, seperti tersumbat akar. Kendati masih mengalir, namun debit air dirasa cukup kecil. "Kalau tempat saya syukurnya aman. Dari dulu juga gak pernah kesusahan," ujarnya, Jumat (3/7/2020).

Kepala Dukuh Kaliurang Barat, Kecuk Sumadi menerangkan bahwa wilayahnya sempat mengalami masalah air. Penyebanya, katanya karena pipa penyuplai air tersumbat akar. Kendati begitu, ia menyangkal apabila semua wilayah Kaliurang Barat kesusahan air.

Menurutnya kondisi yang ada masih terbilang wajar. Penyumbatan pipa oleh akar merupakan faktor alam yang tak bisa ditebak. Ditambah lagi saat ini sudah memasuki musim kemarau. Wajar jika debit air itu berkurang.

"Kondisi nyatanya tak seperti yang ada di berita sebelumnya. Enggak semua rumah terdampak. Situasinya enggak separah yang diberitakan. Bisa dibilang kondisinya masih kondusif," katanya ketika dimintai klarifikasi soal dugaan masalah air di wilayahnya, Kamis malam, (2/7/2020).

Meski ia bilang kondusif, namun kekhawatiran akan masa depan sumber air tetap saja mengganggunya. Kecuk menambahkan, kritik soal kesulitan air berhubungan dengan rencana penggunaan alat berat untuk penambangan pasir di dekat mata air. Hal tersebut menurutnya dapat merusak jaringan dan pipa air ke rumah-rumah warga.

Sementara itu, Ketua RT 6, Supriyanto juga keberatan apabila wilayah Kaliurang Barat dikatakan kesusahan air. Memang, pada akhir Juni kemarin sejumlah wilayah memang terkendala pasokan air. Penyebanya, sama seperti yang dikatakan Kecuk tadi, yakni karena sumbatan akar. Selama kurang lebih satu pekan warga mesti bersabar saat hendak mengisi air. Pipa tidak kering sama sekali, namun debit airnya tentu saja jauh lebih kecil.

Myoritas warga memanfaatkan pasokan air dari pihak pengelola bernama Tirto Candi. Sementara itu, ada juga yang berlangganan air dengan PT. Anindya Mitra Internasional [AMI]. Sebagai pelanggan, warga hanya perlu membayar Rp10.000 per bulan kepada Tirto Candi. Jumlah tersebut, menurut Supriyanto terlampau kecil untuk menjalankan operasional Tirto Candi.

Jika terjadi kerusakan jaringan air, katanya butuh waktu yang tak sedikit untuk melakukan pengecekan dan perbaikan. Langkah itu pun baru akan dilakukan apabila ada warga yang benar-benar melayangkan keluhannya secara langsung. Pihak pengelola harus menggali untuk mengecek pipa air bawah tanah. Mereka juga tak jarang sampai harus memotong pipa guna mengecek kondisi aliran air.

Dengan biaya operasional sekecil itu, kata Supriyanto sulit untuk melakukan perbaikan serba cepat. Apalagi harga pipa PE yang dipakai sebagai penyalur air terhitung tidak murah. Sementara mereka butuh stok pipa PE yang cukup saat melaksanakan perbaikan.

"Kalau warga kan maunya bayar murah tapi ngalirnya banyak. Itu manusiawi dan wajar. Sementara kalau di Tirto Candi, jika ada yang protes airnya tidak ngalir, kita harus cek dulu warga lainnya. Jangan sampai selesai satu masalah justru nambah masalah baru. Beda kalau langganannya sama perusahaan semacam PT. AMI yang sedikit lebih mahal. Cuma kalau ada trouble langsung ditangani, karena mereka konsumen," katanya, Jum'at (3/7/2020).

Baginya, gangguan jaringan seperti yang terjadi kemarin adalah agenda rutin. Faktor alam tidak bisa ditebak kapan datangnya. Seperti halnya saat musim hujan yang dapat menyebabkan aliran banjir bersama material Gunung Merapi. Terjangan banjir kerap merusak pipa-pipa pemasok air yang berada di sisi tebing. Akibatnya, aliran air ke rumah warga bisa dipastikan terputus. Sampai saat ini, ia mengaku belum ada solusi yang bisa diterapkan guna mengantisipasi agar kejadian itu tidak terulang. "Sekarang menurut saya lho, material yang di atas itu sudah tidak banyak. Jadi kalau musim hujan pun, banjirnya enggak separah yang kemarin," katanya.

Serupa dengan Kecuk, Supriyanto juga mengkhawatirkan apabila tambang pasir di Kali Boyong kemudian menggunakan alat berat. Pasalnya, alat berat bakal mengeruk material secara masif. Hal itulah yang kemudian akan menyulitkannya saat melakukan perbaikan pipa air di tebing sungai. Jarak antara pipa dan dasar sungai secara otomatis akan bertambah dalam.

"Sungai itu boleh ditambang. Toh, saat ini masih aman kok. Warga masih menambang pasir secara manual. Tapi kalau sudah pakai bego, itu yang saya khawatirkan. Jika ada yang rusak, mau benerin tambah susah," tandasnya.