Tol Solo-Jogja-Bawen Jalan Terus, Begini Perkembangan Terbarunya

Ilustrasi jalan tol. - JIBI/Nicolous Irawan
07 Juli 2020 17:37 WIB Lugas Subarkah Jogja Share :

Harianjogja.com, JOGJA-Setelah menyelesaikan sosiakisasi Tol trase Jogja-Solo, Pemerintah Daerah (Pemda) DIY akan melanjutkan sosialisasi tol trase Jogja-Bawen yang akan dimulai pada minggu ketiga Juli ini dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Krido Suprayitno, menuturkan tahapan sosialisasi diawali dengan menggelar koordinasi Bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman pada Rabu (8/7/2020). “Banyak yang akan disampaikan, di antaranya pengenalan trase Jogja-Bawen yang sudah mengacu gambar definitif,” ujarnya, Selasa (7/7/2020).

Koordinasi ini diikuti oleh seluruh tim pengadaan tanah, perwakilan semua Kepala Desa dan camat yang terlewati tol, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait dan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO). Tol ini akan banyak melewati selokan Mataram sehingga Satker BBWSO akan selalu mendampingi kegiatan pembangunan.

Dalam pertemuan ini juga dibahas soal penjadwalan , dimana sosialisasi akan dimulai pada minggu ketiga bulan Juli. “Kegiatan ini menjadi prioritas karena tim persiapan yang sudah diputuskan oleh Gubernur DIY pada 5 Juli lalu, argonya jalan. Timeline dihitung 130 hari kerja,” ungkapnya.

BACA JUGA: Transmisi Lokal Covid-19 Terjadi di Srandakan Bantul! 67 Orang Terpaksa Isolasi Mandiri

Trase Jogja-Bawen akan melewati setidaknya tujuh desa di tiga kecamatan, yakni Gamping, Sayegan dan tempel. Tol dibangun diatas lahan spanjang 7,65 Km dengan melewati 915 bidang tanah seluas sekitar 496.209 meter persegi.

Dalam sosialisasi, pihaknya juga melibatkan tim dari Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Sleman untuk memastikan protokol kesehatan dijalankan. Setiap desa sosialisasi bisa satu hingga tiga kali. Untuk desa yang sekali, akan digabung dengan desa terdekat.

Masing-masing pertemuan dibatasi pesertanya maksimal 60 orang. Peserta terdiri dari unsur masyarakat, perangkat desa, Dukuh dan Ketua RT. Karena terbatas, tidak semua pemilik lahan diundang. Untuk yang belum diundang, sosialisasi dilanjutkan melalui dusun masing-masing secara berjenjang.