Derita Desa Wisata Selama Pandemi Corona: Pendapatan Rp1 Miliar Anjlok Menjadi Rp13 Juta

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskandar saat meninjau dibukanya Desa Wisata Puri Mataram Teridadi dengan penerapan protokol kesehatan, Sabtu (11/7/2020). - Istimewa
11 Juli 2020 20:37 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Pandemi Covid-19 memukul industri pariwisata secara telak. Upaya mencegah penyebaranvirus Corona dengan menghindari keramaian dan menyerukan gerakan di rumah saja membuat tempat wisata sangat sepi. Pendapatan desa wisata anjlok drastis.

Desa Wisata Puri Mataram, Drono, Tridadi, Sleman yang dikelola BUMDes Tridari Makmur mengalami kerugian besar hingga sekitar Rp2 miliar. Selain itu, 80% karyawan juga dirumahkan.

"Waktu libur lebaran 2019, kami bisa mencapai Rp1 miliar tapi libur lebaran kemarin hanya dapat Rp13 juta. Begitu besar dampak Covid-19 bagi pelaku wisata," kata Ketua BUMDes Tridadi Makmur Agus Choliq, Sabtu (11/7/2020)

BACA JUGA: Update Covid-19 DIY: Kasus Positif Tambah 7, Pasien Sembuh Tambah 3

Desa Wisata Puri Mataram kembali beroperasi penuh mulai Sabtu (11/7/2020) setelah ditutup berbulan-bulan karena pandemi. Destinasi wisata ini dibuka kembali oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Abdul Halim Iskanda,  dengan penerapan protokol kesehatan.

Choliq berharap karyawan bisa kembali bekerja. Selama pandemi pihaknya mencoba bertahan dengan tetap membuka kafe untuk menutup biaya operasional. Dia mengatakan pembukaan destinasi wisata ini diterapkan sesuai protokol kesehatan. Setiap tamu yang berkunjung diperiksa menggunakan thermogun dan wajib memakai masker. "Kami menyediakan westafel di beberapa titik untuk fasilitas cuci tangan para pengunjung," katanya kepada Harian Jogja.

Pada tahap awal, pihaknya membatasi jumlah pengunjung agar bisa menerapkan physical distancing. Jika pada hari normal destinasi wisata ini dikunjungi sekitar 2.500 orang, maka pada masa new normal hanya menerima sekitar 1.000 orang. "Luas Puri Mataram 4,5 hektare. Sangat luas untuk pengunjung menjaga jarak. Jika pengunjung banyak, akan ada petugas yang membatasi jumlah kunjungan di setiap wahana," katanya.

BACA JUGA: Gara-Gara Corona, Kampus Swasta Terkendala Promosi untuk Gaet Mahasiswa Baru

Dari beragam wahana yang memadukan unsur alam dan budaya, kata Choliq, ada satu wahana baru yang ditawarkan, yakni wahana Taman Bunga Sampah. Bunga-bunga ditaman ini memadukan tanaman bunga Amarilis dengan botol bekas air mineral.

"Saya kira di Indonesia belum ada konsep ini. Kafe kami juga kami sediakan fasilitas untuk bakar-bakar bagi pengunjung. Ini juga konsep baru yang ditawarkan," katanya.

Sekretaris Desa Tridadi Johan Enry mengatakan dibukanya BUMDes tersebut diharapkan mampu menggerakkan kembali ekonomi masyarakat sekitar. Apalagi hampir semua karyawan di BUMDes merupakan warga Tridadi. "Selama ini hampir 80 persen karyawan yang di off kan menyebabkan mereka kehilangan mata pencarian. Dengan kembali beroperasi, maka beban Pemdes juga berkurang," katanya.

BACA JUGA: Bernama Unik, Dita Leni Ravia Tak Pernah Menyesal dengan Nama Pemberian Orang Tuanya

Johan mengatakan keberadaan BUMDes tersebut selama ini sangat membantu pendapatan bagi Desa. Sejak beroperasi pada 2018 lalu, omzet BUMDes ini terus meningkat. Rata-rata perbulan omzetnya Rp500 juta. Tahun 2018 BUMDes ini beromzet Rp1,9 miliar dan 2019 lalu sekitar naik Rp 4,5 miliar. "Naiknya hampir dua kali lipat terus kenaikannya. Kontribusi untuk desa sangat besar, selain PAD juga ikut mengentaskan pengangguran," kata Johan.

Mendes PDTT Abdul Halim Iskandar menilai dibukanya kembali destinasi wisata desa di masa normal baru akan kembali membawa geliat ekonomi di desa. Termasuk desa wisata Puri Mataram. Baginya, tidak ada pilihan dalam menghadapi pandemi Covid-19 kecuali hidup berdampingan dengan Covid-19.

Kemendes PDTT, katanya, mengeluarkan regulasi terkait tatanan normal baru yang harus dilakukan pemerintah desa. Termasuk desa wisata yang selama ini mampu menggerakkan ekonomi masyarakat.

"Jadi, memang tidak ada pilihan selain kehidupan normal baru dengan memperhatikan protokol kesehatan agar masyarakat kembali beraktivitas," katanya.