Pelaku Wisata Lereng Merapi Siapkan Mitigasi

Para driver jip lava tour di Umbulharjo, Cangkringan, Sleman mempersiapkan kendaraan mereka sebelum mengantarkan wisatawan berkeliling di sekitar lereng Merapi, Rabu (4/3/2020). - Harian Jogja/Hafit Yudi Suprobo
17 Juli 2020 06:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Peningkatan aktivitas Gunung Merapi beberapa waktu terakhir membuat sejumlah pihak bersiap. Tak hanya warga di lereng gunung, pelaku wisata di sana juga harus waspada dan memahami mitigasi bencana.

Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Sleman, Sudarningsih menuturkan mitigasi bencana di kawasan wisata terutama di lereng Merapi sudah disiapkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman. Salah satunya dengan aplikasi 'Jarak Aku dan Merapi' yang diluncurkan tahun lalu.

BACA JUGA : BPPTKG Sebut Terjadi Guguran Gunung Merapi

"Yang belum kaitannya dengan new normal. Pembaharuan nanti dari BPBD, kami [Dispar] akan menambah rambu dan mungkin saja memperpendek rute jeep," kata Sudarningsih pada Kamis (16/7/2020).

Menurutnya, di kawasan rawan bencana (KRB) Merapi, wisata yang diperbolehkan merupakan wisata dengan minat khusus, seperti Jeep Lava Tour. "Yang wisata menetap tidak ada," tegasnya.

Ketua Asosiasi Jeep Wisata Lereng Merapi (AJWLM) Wilayah Barat, Dardiri membenarkan adanya rencana pemendekan rute jeep yang disampaikan Sudarningsih. Menurutnya, hal itu penting dilakukan supaya perjalanan yang dilakukan wisatawan dengan jip tidak mendekati zona rawan bencana.

BACA JUGA : Mak Keti, "Rektor Universitas Merapi" Rela Tinggal Sendiri di

"Seandainya dinaikkan lagi levelnya [Gunung Merapi] kita siap, nggak dekat zona rawan. Paling jeep kita muter di bawah saja. Kalau biasanya sampai bunker, jadi nggak sampai bunker," kata Dardiri.

Hal itu akan mempengaruhi paket wisata yang ditawarkan oleh pemandu. Jika tadinya ada paket long trip yang dengan rute jip sampai Bunker Kaliadem, maka pihaknya akan mengarahkan wisatawan untuk memilih paket medium trip atau short trip yang rutenya terbilang lebih pendek sehingga tidak mendekati Merapi.

Diakuinya saat ini pelaku wisata di lereng Merapi harus berhadapan dengan dua situasi yang memerlukan adaptasi, yaitu pandemi Covid-19 serta peningkatan aktivitas Gunung Merapi. Untuk itu, asosiasinya juga mewajibkan bagi pemandu wisata untuk membawa HT (handy talky) selama memandu wisata dengan jip.

"Sesuai SOP kita dengan adanya Covid dan Merapi yang juga harus ada pantauannya, paling tidak semua pemandu harus bawa HT karena di sini sinyal susah, jadi untuk bisa komunikasi langsung ya dengan HT," terangnya.

Setiap pemandu wisata saat ini ia wajibkan membawa HT untuk mengantisipasi seandainya terjadi hal yang tidak diinginkan berkaitan dengan pandemi ini dan aktivitas Merapi. "Alam tidak bisa kita prediksi, dengan adanya HT itu kita bisa komunikasi langsung," kata Dardiri.