Pembelajaran Online: Orangtua Bingung Menjelaskan ke Anak, Guru Terkendala Sinyal

Foto ilustrasi pengajar memantau secara daring, Sabtu (14/03/2020). - Harian Jogja/Desi Suryanto
19 Juli 2020 07:57 WIB Jalu Rahman Dewantara Kulonprogo Share :

Harianjogja.com, KULONPROGO--Selain siswa, pembelajaran dengan sistem online juga dikeluhkan wali murid. Selain itu guru juga banyak menemukan kendala pembelajaran ini.

Salah satunya Parokin, 37, warga Dusun Pereng, Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Pengasih ini memiliki seorang anak yang disekolahkan di SD N Widoro, Sendangsari.

Anaknya yang baru saja naik kelas dari kelas IV ke kelas V itu mengikuti proses belajar di rumah dengan sejumlah kendala. Kendala pertama, kata Parokin, yakni sulitnya mendapat sinyal. Maklum kediaman Parokin berada di area perbukitan yang sampai hari ini masih masuk kategori wilayah blankspot.

BACA JUGA : Aplikasi Jogja Belajar Class Bisa Dimaksimalkan untuk

"Keluhannya yang jelas sinyal, buat ngirim tugas itu lemot banget," ungkap Parokin.

Menyiasati hal itu, para wali murid kata Parokin ada yang sampai datang ke sekolah untuk menemui langsung guru yang bersangkutan guna menjelaskan alasan kenapa tugas anaknya tidak terkirim.

Persoalan kedua, lanjut Parokin, orang tua harus ekstra dalam memberikan pemahaman kepada anaknya tentang pelajaran yang diberikan guru yang biasanya dibagikan melalui grub WhatsApp. Diakui Parokin, anak-anak lebih mudah paham jika langsung dijelaskan oleh guru.

"Kalau sama orang tua sendiri itu malah lebih susah, misal nih saya suruh jelasin apa itu omnivora, herbivora dan karnivora. Saya tahu maksudnya itu apa, tapi bingung bagaimana caranya menyampaikan kepada anak agar paham," ujarnya.

Parokin bercerita, ada sesama wali murid yang juga mengalami kesulitan serupa. Wali murid itu lanjutnya, menjelaskan tentang rumus matematika kepada anaknya. Hanya karena beda sedikit, anak itu ngeyel dan bilang bahwa gurunya tidak mengajarkan dengan cara seperti itu. "Ya eyel-eyelan gitu, jadi memang anak lebih nyaman jika langsung dijelasin sama guru, kalau sama ortu mah bingung," ucap Parokin.

Ribetnya pembelajaran dengan sistem online juga dirasakan para tenaga pengajar. Apalagi mereka yang tinggal di kawasan susah sinyal, seperti Sugiyem, 56. Perempuan paruh baya ini tinggal di Dusun Dukuh, Kalurahan Sidomulyo. Sudah dua tahun terakhir ia bertugas sebagai guru di SD N Wedoro. Saat ini ia jadi guru kelas I.

Sugiyem mengungkapkan tempat di mana ia tinggal merupakan kawasan yang sulit sinyal terutama pada jam-jam kerja. Walhasil ia harus bangun lebih awal agar bisa mengirim materi penugasan kepada anak didiknya tanpa hambatan. "Biasanya saya kirim jam 4 pagi mas, karena pas itu sinyalnya lumayan kenceng, kalau lewat jam itu, wah bisa repot," ujarnya.

Sugiyem berupaya agar materi tetap bisa dikirim tepat waktu. Namun jika telat mengirim materi dan sinyal sudah keburu hilang, Sugiyem biasanya numpang wifi milik salah satu SMP yang berada tak jauh dari rumahnya. Kalau tidak itu, memanfaatkan jaringan internet di tempat kerjanya. 

Meski sudah berupaya mengirim materi sedini mungkin, Sugiyem masih menemui adanya wali murid yang tidak memberikan imbal balik berupa hasil penugasan. Kalaupun dibalas, biasanya sudah larut malam.

Menurutnya ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal itu. Semisal keluarga siswa hanya memiliki satu gadget dan itu dibawa orang tua untuk kerja. Kesibukan kerja membuat wali siswa lupa mengecek penugasan untuk siswa yang sudah dibagikan di grub WhatsApp wali murid dan guru kelas. Selain itu, juga bisa karena tempat tinggal siswa belum terjangkau jaringan selular.

"Ya beberapa kali ada yang ngirimnya telat karena susah sinyal sama sibuk kerja, tapi gapapa itu saya maklumi," ujar Sugiyem.

Sebagai wali kelas I, Sugiyem mengaku cukup kesulitan memberikan materi pelajaran kepada anak didiknya melalui sistem pembelajaran online. Sebab anak kelas I membutuhkan pendekatan yang lebih ekstra dibanding kelas di atasnya. Apalagi jika menemui siswa yang belum fasih membaca sementara orang tua tidak punya waktu mengajarkan anaknya. Cara offline atau tatap muka langsung, dinilai lebih efektif.

Senada disampaikan rekan kerja Sugiyem, Iva Nila Sukma, 31. Iva merupakan guru kelas VI.  "Saya lebih suka mengajar langsung karena kalau ketemu, kita bisa lebih tahu bagaimana kesulitan anak didik memahami pelajaran," ucap perempuan yang sudah lima tahun menjadi guru di SD N Wedoro tersebut.

Meski begitu, Iva, memahami sistem ini memang harus diterapkan karena situasi sekarang tidak memungkinkan untuk dilakukan pembelajaran secara langsung. Dan sisi positif dari sistem ini yang ia dapatkan yakni guru jadi lebih tahu tentang dunia teknologi yang bisa digunakan untuk mengajar siswa. "Yah jadinya dapat ilmu baru sih, karena dulu saya buta banget soal dunia IT," ucapnya.