Petani Muda Siap Kembangkan Olahan Tanaman Cabai

Petani muda yang tergabung dalam Kelompok Tani Muda 'Tunas Tani Rukun' memanen cabai di Dusun Karang Kalasan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman, Rabu (22/7 - 2020).Harian Jogja/Lajeng Padmaratri
23 Juli 2020 06:57 WIB Lajeng Padmaratri Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN - Kelompok Tani Muda 'Tunas Tani Rukun' di Dusun Karang Kalasan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman tertarik mengembangkan pengolahan hasil pertanian tanaman cabai dan pemasarannya.

Salah satu petani muda yang merupakan anggota Kelompok Tani Muda 'Tunas Tani Rukun', Dwi Rahmawati, 22 menuturkan selama menjadi petani muda beberapa waktu terakhir, ia ingin pengolahan hasil pertanian bisa lebih optimal. Ia ingin tanaman yang ia tanam tak hanya bisa dikonsumsi dalam bentuk tanaman segar, melainkan diolah menjadi imovasi lain yang dapat menambah nilai jual.

Saat ini ia bersama 34 anggota kelompok tani muda tersebut tengah menanam cabai rawit varietas Prima Agrihorti. Meski tak tergabung dalam kelompok wanita tani (KWT) yang biasanya mengolah tanaman cabai, namun ia juga ingin petani muda bisa berinovasi dalam pengolahan hasil pertanian.

"Kami ingin olahan tanaman cabai ini dibuat jadi produk yang menarik, karena jaman sedang berkembang jadi pengolahan pertanian butuh inovasi," kata Rahma, sapaannya, pada Rabu (22/7/2020).

Meski saat ini sudah ada pengolahan hasil pertanian, seperti abon cabai, manisan cabai, dan berbagai bentuk sambal dari kelompok wanita tani, namun ia optimistis kalangan petani muda juga bisa berinovasi untuk mengembangkan produk lain dari tanaman cabai.

Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto menambahkan saat ini di Dusun Karang Kalasan sudah ada KWT Rukun Lestari yang mengolah tanaman cabai rawit varietas Prima Agrihorti. Biji dari tanaman cabai ini diolah menjadi benih, sementara dagingnya diolah menjadi produk lain supaya tidak menjadi limbah.

"Ini kan yang diambil hanya bijinya untuk benih, dagingnya daripada jadi limbah kita berikan ke KWT untuk diolah. Ada bon cabai, minyak, sirup, abon, aneka sambal, dan manisan cabai," kata dia.

Animo pasar terhadap produk ini menurutnya belum meledak, lantaran harga cabai masih normal sehingga masyarakat lebih memilih cabai segar. Di masa mendatang dengan harga cabai melonjak, ia optimistis olahan cabai akan diminati pembeli.

Janu berharap kalangan petani muda tak hanya fokus menanam dan berinovasi dalam pengolahan hasil pertanian, melainkan juga memperkuat pemasaran olahan tanaman cabai. Sebab, kalangan milenial ini ia rasa lebih melek teknologi sehingga bisa menyasar pemasaran daring.