Cegah Penularan Meluas, Swab Massal Sasar Ponpes Besar

Puluhan tenaga pengajar pondok pesantren pandanaran mengikuti swap di komplek Pondok Pesantren Pandanaran, Candi Sardonoharjo, Kec. Ngaglik, Sleman, Rabu (29/7/2020). Mereka menjalani swap usai datang dari luar daerah untuk mengajar di Pondok tersebut. - Harian Jogja/Gigih M Hanafi.
30 Juli 2020 06:27 WIB Abdul Hamied Razak Sleman Share :

Harianjogja.com, SLEMAN--Kementrian Agama (Kemenag) Sleman berharap uji swab massal di Pondok Pasantren bisa menyasar ponpes yang masuk kategori ponpes besar.

Kepala Kementerian Agama Sleman Sa'ban Nuroni mengatakan di Sleman ada sekitar 150 pondok pesantren yang terdaftar. Dari jumlah tersebut sekitar 15 ponpes yang masuk kategori besar atau memiliki santri di atas 500 orang.

"Kami berharap sasaran utama uji swab ini adalah pondok pesantren yang besar, memiliki sekolah formal," kata Sa'ban di Ponpes Pandanaran, Sardonoharjo, Ngaglik, Rabu (29/7/2020).

BACA JUGA : Warga DIY Terinfeksi Corona dari Klaster Ponpes Temboro 

Menurut Sa'ban, uji swab tersebut dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 di lingkungan ponpes. Kemenag, katanya, terus melakukan koordinasi ponpes terutama saat santri-santri mulai berdatangan. Hal itu sebagai bentuk pengawasan agar ponpes tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Kami juga mengecek kelengkapan sarana prasarana di ponpes. Mulai tempat mencuci tangan, hand sanitizer dan kelengkapan lainnya," ujar Sa'ban.

Dijelaskannya, ponpes selama adaptasi kebiasaan baru (AKB) ini juga menerapkan protokol kesehatan. Misalnya, saat santri kembali ke ponpes diwajibkan untuk melakukan karantina selama 14 hari. Selain itu, desain kamar juga diubah dari sebelumnya. "Kalau sebelumnya satu kamar berisi 10 orang, saat ini hanya diisi lima orang. Kemudian tempat tidur juga diubah, di atur jaga jaraknya, diselang-seling," katanya.

Diakui Sa'ban, tidak semua ponpes siap menerapkan AKB ini. Ponpes yang belum siap dengan kebiasaan baru tersebut memilih untuk menunda kedatangan santri untuk kembali. "Kalau datang semua jelas tidak cukup dengan mengikuti protokol kesehatan. Makanya orangtua santri juga ditanyakan, kalau sanggup bisa kembali," katanya.

Swab di Pandanaran

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo mengatakan ponpes Pandanaran merupakan ponpes pertama yang digelar uji swab. Hingga akhir Agustus, Dinkes menargetkan 5000 swab massal dengan sasaran utama tenaga kesehatan, pengajar di ponpes hingga tempat keramaian lainnya. "Untuk ponpes, langkah pertama kami sasar tiga ponpes diampling swab. Masing-masing mewakili Sleman bagian tengah, timur, dan barat," katanya.

BACA JUGA : Cegah Klaster Baru Muncul, Pemkab Gelar Uji Swab

Di ponpes Pandanaran tersebut uji swab dilakukan kepada 100 orang. Rencananya, kata Joko, kegiatan serupa akan kembali dilakukan di sejumlah pondok pesantren lainnya. Targetnya swab test akan dilakukan kepada sebanyak 1000 spesimen dari lima hingga tujuh pesantren di Sleman.

"Kegiatan ini ditujukan untuk ustadz dan ustadzah, karena santri baru mau datang ke pondok pesantren," jelasnya.

Bagi santri yang baru datang, kata Joko, harus menjalani karantina selama 14 hari. Santri beserta seluruh penghuni pondok pesantren juga diharapkan selalu menjalankan protokol kesehatan selama berkegiatan di dalam pondok pesantren. Pada kesempatan tersebut juga diluncurkan gerakan Cita Mas Jajar yang merupakan akronim dari Cuci Tangan Pakai Sabun, Memakai Masker Dan Jaga Jarak 1,5 Meter

Putus Rantai Penularan

Wakil Bupati Sleman, Sri Muslimatun mengatakan uji swab digelar di ponpes untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19. Ditambah lagi penghuni ponpes berasal dari berbagai daerah, baik dari dalam ataupun luar Sleman. "Dengan swab test ini diharapkan tidak timbul klaster penularan Covid-19 di pondok pesantren," ujarnya. 

BACA JUGA : Klaster Ponpes Temboro & Sampoerna Surabaya perbanyak

Ia juga mengapresiasi gerakan Cita Mas Jajar yang telah diluncurkan tersebut. Ia menilai gerakan ini merupakan protokol kesehatan yang harus dilaksanakan oleh siapa pun dan di mana pun. Kedisiplinan masyarakat dalam menjalankan gerakan Cita Mas Jajar menurutnya kunci untuk menghindari penyebaran Covid-19.